“Bius” megaproyek Bali International Park melanda Bali

Seorang kawan tiba-tiba mention di akun twitter ku. Gendovara alias I Wayan Gendo Suardana bilang: @hendrawsaputro, sila klik http://bit.ly/q7dz8E dan pasang badgenya #tolakBIP. Waw, apalagi ini?. Rasa “keterasinganku” bangkit supaya lebih tahu tentang tempat tinggalku, Bali. Wow, ternyata!, ada yang mau merusak harmoni manusia dan alam. Patut untuk didukung kawan. Ini tulisan sang Gendo! #tolakBIP!.

bali-international-park

Oleh: I Wayan Gendo Suardana**

Membaca tulisan opini di harian Fajar Bali (20 Juli 2011) halaman 5-6 yang berjudul “MICE dan BIP”, penulis tertarik untuk menanggapi opini tersebut. terlebih penulis adalah bagian dari kelompok LSM penolak BIP yang diberikan sarat pesan dan harapan terutama pada akhir tulisan opini tersebut.

Overcapacity akomodasi di Bali Selatan

Gelombang pembangunan akomodasi pariwisata di Bali terlihat pesat pasca studi masterplan pariwisata Bali oleh SCETO. Kebijakan yang diterapkan berdasarkan studi tersebut memang terbukti mampu meningkatkan kedatangan pariwisata secara signigfikan dari tahun ke tahun. Konsekuensinya daerah kawasan segitiga emas tersebut mulai dipadati dengan investasi. Terjadi penumpukan pembangunan fasilitas pariwisata di daerah tersebut. Dimulai dengan pembangunan resort pada tahun 1974 di Nusa Dua dibawah manajemen Bali Tourism Development Corporation (BTDC), selanjutnya pembangunan fasilitas pariwisata di daerah segitiga emas tersebut begitu pesat terutama menyasar daerah pesisir. Hal ini menyebabkan ketimpangan pembangunan di bali selatan dengan Bali Utara.

Ketimpangan pembangunan inipun sedari awal disadari oleh Gubernur I.B. Mantra yang menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Bali No. 15 Tahun 1988 tentang 15 Kawasan Wisata, guna mengatasi hal tersebut sekaligus mengurangi penumpukan di daerah Bali Selatan. Bahkan oleh Penggantinya (Gubernur I.B. Oka) menambah kawasan wisata menjadi 21 kawasan. Dengan demikian kawasan wisata di Bali menjadi 1, 437 km2 -hampir seperempat luas Pulau Bali-memicu penguasaan tanah-tanah milik orang Bali oleh investor asing maupun domestik.

Kejenuhan atas pembangunan di Bali Selatanpun terus menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan pada tahun 2010 Kemendbudpar berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa wilayah Bali selatan sudah mengalami over capacity sebanyak 9.800 kamar. Di beberapa media massa Jro Wacik malah menyarankan agar dilakukan moratorium terhadap pembangunan akomodasi dikawasan Bali Selatan. Senada dengan itu, Gubernur Bali (I Made Mangku Pastika) juga memberikan sinyal yang sama mengenai kebutuhan akan adanya moratorium pembangunan di daerah Bali Selatan. Entah kenapa tiba-tiba kesadaran akan jenuh pembangunan di Bali Selatan dan kesadaran mengenai beban lingkungan hidup menjadi sirna bersamaan dengan datangnya megaproyek BIP (Bali International Park)

“Bius” megaproyek BIP melanda Bali

Berbagai pengamatan dan kajian atas pembangunan akomodasi pariwisata mulai meredup bahkan terkesan “dijilat” kembali dengan berbalik mendukung pembangunan BIP tanpa reserve. Angka overcapacity sebanyak 9.800 kamar tidak lagi menjadi angka yang signifikan untuk diperhatikan, ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara menguap entah kenapa.

Selebihnya, silahkan membaca detailnya di website resmi WALHI BALI.
Log kasus BIP


Hendra W Saputro

Hosting Murah

Catering di Bali

16 Responses to ““Bius” megaproyek Bali International Park melanda Bali”

  1. awitara Says:

    ini perlu gerakan massif mas, bukan hanya kelompok orang saja, salam mas… :top: :top:

    Reply

  2. gde anugerah Says:

    :D: wayan gendo punya kepentingan

    Reply

  3. Dwija Says:

    Ini semua tergantung pemimpin Bali.Punya Itikad baik tidak? Atau sengaja ingin menghancurkan Bali?

    Salam,

    Dwija

    Reply

  4. Nge-Blog lagih! | Corat Coret Says:

    […] masing-masing tulisan pada 25 Agustus, tentang Internet: Lebih Mudah, Murah, dan Cepat dan tentang “Bius” megaproyek Bali International Park melanda Bali yang ditulis Hendro pada 28 Juli. Cukup lama bukan? Haha..tapi rupanya mereka berdua masih kalah […]

  5. jelly gamat Says:

    wah semoga para pjabat yang bersangkutan bisa lebih bijak

    Reply

  6. JELLY GAMAT GOLD-G SEA CUCUMBER Says:

    kita serahkan saja pada yang berkwajiban :top:

    Reply

  7. JELLY GAMAT GOLD Says:

    apapun hasilnya semoga menjadi yang terbaik

    Reply

  8. agen xamthone plus surabaya Says:

    pemerintah harus bersikap tegas..

    Reply

  9. jus kulit manggis Says:

    baru pertama kunjungan nih gan..
    salam kenl..

    Reply

  10. kang ary Says:

    wah lama-lama orang bali sendiri bisa jadi terpinggirkan nih…mari kita nyanyikan kemballi lagunya mas guruh soekarno putra: “hee..ey kembalikan baliku padaku……!!!!”

    Reply

  11. Yusa Says:

    menurut Anda bagaimana solusi untuk menjembatani kebutuhan Akomodasi APEC nanti? apakah penyederhanaan Desain dan kapasitas bangunan bisa menjadi solusi.
    Sisi lain dengan adanya International Park ini bisa lebih meningkatkan Devisa negara di sektor Pariwisata tentunya…

    Reply

  12. akikah Says:

    Jangan seperti di jakarta, dengan banyak membangun gedung tentunya akan merusak alam, akibatnya banjir dan penyakit yang disebabkan banjur menjadi momok mengkhawatirkan…harus ada solusi lain bagi pemerintah untuk meraih keuntungan baik dari segi pariwisata dan memberantas pengangguran..

    Reply

  13. omink Says:

    saya “sebet” melihat bali yg sekarang. sebutan bali sejuta pura yg sudah berubah jd bali sejuta ruko, kini telah jadi bali 1 milliar ruko. kini bali makin kumuh. makin padat, makin semrawut. jd kpengen ng’jual bali sama negara eropa. biar bali dijadikan paradise island. kembali lg menjadi bali sejuta pura, bali sejuta rice field…

    Reply

    Dewa Reply:

    Saya sbg krama bali jg sebet melihat Bali jaman sekaranf. Ruko, hotel, resort Ada dimana2.
    Saya jg setuju kalau Bali ‘dijual’ ke negara2 maju. Setidaknya mereka lebih pintar dan mau bertanggung jawab. Tdk seperti tipikal orang2 indonesialan yg cuma mau mengeruk keuntungan dgn merusak banyak Hal, termasuk alam, budaya dll

    Reply

  14. djhonn Says:

    Heard from friends about Mr Supriadi didik and his relations, I tried to contact him trough Bali Mode for my working VISA. At first of all, he couldn’t speak English, so he sent me to his staff who at least seemed they knew what they were talking about. After all, it took more than 2 months to get my working permit and I realized that It was more expensive than other agents, …. I don’t think it’s worth it, don’t want you guys to go through what I went through!!!

    Reply

  15. I Wayan Kaler Says:

    Buat pemimpin bali dan pejabat yang membidangi Pariwisata. Waspadalah, karena ada indikasi / skenario penghacuran pariwisata Bali. Lihatlah pembangunan hotel di kawasan Bali selatan saat ini, di Nusa dua saja ada lebih dari 10 proyek. Dan semua proyek tersebut tak satupun memakai arsitektur Bali. Ini memang disengaja, supaya pariwisata Bali tidak punya karakter lagi dan tinggal menunggu waktu akan ditinggalkan oleh tourist. Dalang dari semua ini adalah pesaing Bali / negara tetangga. Bukti nyata dari skenario ini adalah adanya calo tanah yang membeli tanah sebanyak banyaknya di Bali. Berapapun harga tanah di Bali akan dibeli oleh investor. Lama kelamaan orang Bali akan terasing di rumahnya sendiri. Mudah mudahan skenario ini tidak berhasil. Mudah mudahan orang Bali bangun dari tidurnya dan masih ingat Karma Pala. Janganlah terbuai dengan sanjungan. jangankan tanah kosong dan rumah, sanggah kemulan ( Pura keluarga ) pun sudah ada yang jual.sekali lagi semoga skenario ini tidak berhasil. Salam damai dari Nusa Dua

    Reply

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Catering di Bali




Ayo Berbagi
Afiliasi Hosting Indonesia
Hosting Indonesia

Anti Korupsi
Chat with me