Blogger, Sumpah Pemuda & Nasionalisme – Live @ Bali FM

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mendapatkan kesempatan untuk bicara melalui radio FM adalah kesempatan langka. Radio adalah media real time yang mempunyai jangkauan luas dan segmentasi jelas. Pun dia sebagai media publikasi yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Apa buktinya ? Ijin dan biaya bikin radio kan mahal, trus iklan bejibun pada datang hehehe. Beda halnya dengan eksistensi ‘blogger kacangan’ kek saya ini. Yah, ndak papa, nge-blog adalah hal yang berkaitan dengan kepuasan dan memberi nilai kepada perjalanan hidup.

Saya termasuk ketinggalan berita, ternyata talkshow antara Bali Blogger Community (BBC) dan Bali FM telah berlangsung lama. Hari ini, 1 November 2009 sudah menginjak sesi ke 4 dengan tema “Blogger, Sumpah Pemuda & Nasionalisme”. Duh maaf, terlalu sok sibuk dengan pekerjaan sih. Dikejar-kejar macan.

Kebetulan, saya didaulat sebagai pembicara ‘injury time’ karena pembicara utama berhalangan. Semoga saja mampu bercas-cis-cus seperti dalam talkshow Bali Orange beberapa tahun yang lalu di Pinguin FM. Terima kasih Tuhan atas kesempatannya.

Kebetulan lagi bahwa saya dah lama banget tidak menulis di blog ini. Malah keseringan menulis di blog perusahaan. Jadi, tema diskusi di radio itu akan saya pakai untuk meramu tulisan dan sampaikan pendapat mengenai spirit Sumpah Pemuda dan dikaitkan dengan Nasionalisme.

Ada apa dengan Sumpah Pemuda ?. Sebuah peristiwa di tahun 1928 dimana seluruh komponen pemuda-pemudi Indonesia berkumpul menyatakan sumpah bersama. Ini bunyi sumpahnya :

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kemudian, tema Nasionalisme mencuat. Apa sih Nasionalisme itu ? Menurut Wikipedia Indonesia :

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep
identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Sedangkan Nasionalisme menurut Rupert Emerson, seorang Profesor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional asal USA, mendefinisikan nasionalisme sebagai komunitas orang-orang yang merasa bahwa mereka bersatu atas dasar elemen-elemen penting yang mendalam dari warisan bersama dan bahwa mereka memiliki takdir
bersama menuju masa depan.

Kemudian masih menurut ‘bule’ lagi, Ernest Renan seorang filosof dan penulis asal Perancis, nasionalisme adalah kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah dibuat di masa lampau untuk membangun masa depan bersama. Hal ini menuntut kesepakatan dan keinginan yang dikemukakan dengan nyata untuk terus hidup bersama.

Nah, menurut saya antara Sumpah Pemuda dan Nasionalisme mempunyai benang merah yang jelas. Posisi Sumpah Pemuda adalah sejarah yang menjadikan spirit/semangat dalam ber-nasionalis untuk Indonesia. Disanalah terjadi pengakuan utuh untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Sesungguhnya secara sadar, nafas gerak Blogger di Indonesia sudah sesuai dengan Sumpah Pemuda. Blogger tinggal di Indonesia, termasuk bangsa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisannya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah (sesuai pertanyaan dalam diskusi di radio Bali FM) :
– Apa makna Sumpah Pemuda Bagi seorang blogger ?.
– Dari kacamata seorang blogger, adakah sesuatu hal yang (masih) bisa dibanggakan dari nasionalisme Indonesia saat ini, terutama oleh pemudanya?
– Dari kacamata seorang blogger, adakah yang mengkhawatirkan dari nasionalisme Indonesia saat ini, terutama oleh pemudanya?
– Lalu, apa peran blogger (yang sudah dilakukan dan yang masih bisa dilakukan) oleh blogger dalam nasionalisme Indonesia saat ini?
– Bagaimana hasilnya selama ini?.

Dalam blog ini, para pembaca-pun bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas melalui fasilitas komentar dibawah tulisan ini. Tentunya jika Anda seorang Blogger, akan terasa puas dalam menjawabnya. Karena itu adalah pendapat Anda.

Sumpah Pemuda, telah terlaksana sebelum saya lahir didunia fana ini. Dengan ‘mengkambing-hitamkan’ peristiwa itu, maka saya terlahir sebagai bangsa Indonesia, yang ternyata juga telah mempunyai ribuan etnis, budaya, adat istiadat dan bahasa. Saya tidak bisa menggugat untuk terlahir dalam lingkungan bangsa Aria (Jerman), atau bangsa Yahudi, atau bangsa Arab, atau suku Bali, atau suku Badui. Bahkan Anda-pun tidak bisa meminta kepada Tuhan YME untuk terlahir di suatu bangsa manapun di dunia ini. Ya to ?.

Maka dari hal sepele/mendasar tersebut, kita tidak berhak menghakimi bangsa lain atas sebuah peristiwa negatif. Mungkin para pemuda-pemudi yang menyatakan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 itu faham bahwa persoalan bangsa (etnis) akan menjadi polemik besar dimasa mendatang. Maka mereka hadir untuk menjadi pegangan dan landasan bahwa kita ini satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

Maka dalam rangka semangat aktualisasi diri dalam pembangunan, Sumpah Pemuda 1928 adalah semangat pemersatu dan tidak akan terpecah belah. Cukup banyak bukti bahwa persoalan bangsa (etnis) telah membuat hancur suatu tatanan hidup. Tengok ‘peperangan abadi’ antara bangsa Palestina dan bangsa Israel (Yahudi), konflik antara Madura dan Dayak di Sampit beberapa tahun yang lalu, konflik antara etnis Cina dan etnis Pribumi. Sudahlah, kita ini tidak bisa memilih untuk lahir sebagai bangsa tertentu.

Dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928 pula, Blogger bisa menuangkan ide-ide dalam tulisan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan satu bahasa itu, Blogger mampu sebagai kekuatan penyeimbang dan pembaharuan bagi tatanan kehidupan sosial bermasyarakat di Indonesia. Dari Blogger-lah kebijakan pemerintah dikritik, layanan publik digugat, seperti pada kasus Ibu Prita Mulyasari.

Dari Blogger pula yang melahirkan semangat berempati pada nasib pendidikan di Indonesia. Contoh kecil adalah program Berbagi Tak Pernah Rugi milik Bali Blogger Community. Sebuah kegiatan yang ‘dermawan’ berbagi ilmu pendidikan langsung kepada masyarakat yang bebas korupsi. Rasa Nasionalis itulah diterapkan secara nyata tanpa harus berkoar-koar memproklamirkan dirinya sebagai sosok nasionalis. Sungguh berbeda dengan kaum politisi dan pemerintahan kita yang gencar berkoar menahbiskan dirinya sebagai nasionalis tulen, tetapi justru perilaku korupnya tak bisa dibendung.

Blogger dan Nasionalisme

Blogger adalah lahir dalam sebuah bangsa, dimana didalamnya tengah berlangsung dinamika kehidupan multi dimensi. Blogger yang mempunyai ego akan berjibaku dengan dinamika, sosial, budaya, ekonomi, agama, tata negara/politik dan teknologi. Mayoritas, blogger akan menjadi penikmat, pemerhati dan pembaharu dari dinamika yang berlangsung dalam tatanan kehidupan masyarakat, yang tengah dilanda arus globalisasi disegala bidang.

Dalam ranah globalisasi, posisi Blogger mendapatkan ruang gerak yang leluasa karena globalisasi sendiri bergerak akibat dari kemajuan teknologi informasi. Penguasaan terhadap teknologi informasi menjadi kenikmatan tersendiri dari seorang Blogger. Dia akan menjadi pemerhati atas dinamika yang berkembang di masyarakat. Membaca media ini itu, menyaksikan melalui media televisi atas suatu peristiwa, merasakan secara langsung dinamika yang tengah terjadi, dan pada akhirnya dia bebas untuk ekspresikan semua pengalaman itu dalam tulisannya.

Kebebasan dalam berekspresi adalah nikmat dan hal itu akan menuai akibat berupa perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Banyak contoh terjadi ketika ekspresi itu menjadi kenyataan, misal program BBC Berbagi Tak Pernah Rugi, adalah tindakan memberikan ilmu teknologi informasi secara gratis kepada anak-anak sekolah. Maka perubahan pun terjadi, anak-anak sekolah menjadi tercerahkan oleh teknologi. Contoh lain adalah rasa solidaritas atas kasus pencemaran nama baik yang dialamatkan kepada Prita Mulyasari oleh RS Omni. Semua Blogger Indonesia menyatakan dukungan kepada Prita, dan yang terjadi adalah respon para tokoh Bangsa Indonesia yang ikut berjuang demi mengeliminir akibat jeratan pasal-pasal karet warisan Belanda.

Blogger mempunyai 2 cara ekspresikan gagasannya, yaitu dengan menulis (publishing dalam blog) dan bertindak. 2 hal tersebut berkaitan dengan posisinya dalam masyarakat. Misal Blogger yang kebetulan berposisi sebagai pejabat/pegawai negara mempunyai potensi untuk menuliskan gagasannya dan sekaligus bertindak dalam struktur kenegaraan. Bagaimana dengan Blogger yang tidak menjabat di pemerintahan ?. Maka dia hanya bisa sampaikan unek-uneknya melalui tulisan. Mengkritik ini dan itu, yang semuanya bertujuan untuk menciptakan sistem yang bersih dan tepat sasaran. Hal lain terjadi ketika Blogger berposisi sebagai pengusaha, maka diapun bisa menuliskan gagasannya sekaligus bertindak untuk kepentingannya. Bagaimana dengan bidang-bidang lainnya ?. Maka dia hanya bisa menjadi pemerhati saja dan hanya bisa menuliskan bidang-bidang itu dalam blognya. Proses pembaharuan terjadi jika tulisannya mendapatkan respon positif dari seluruh kalangan.

Paparan diatas menandakan bahwa seorang Blogger mempunyai ego yang bertujuan untuk menciptakan tatanan yang kondusif bagi Indonesia tercinta. Hal yang terjadi adalah Blogger berekspresi untuk individu dan sistem yang terjadi di bangsa ini, agar kita (Indonesia) bisa menikmati proses pembangunan menuju masyarakat madani (Orba banget wakz).

Erosi Nasionalisme.

Arus globalisasi membawa dampak kenyamanan bagi masyarakat Indonesia. Ukuran kenyamanan itu bisa dilihat dari meningkatnya taraf kehidupan ekonomi masyarakat. Segala sesuatu bisa mudah terbeli, semisal laptop. Dulu mahalnya minta ampun, sekarang laris bak kacang goreng. Internet murah dan wifi gratis dimana-mana, stasiun televisi baru bermunculan dimana-mana. Mesin-mesin industrialisasi terus mengepul dengan sistem kejar tayangnya, memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang gampang terbeli tadi.

Kenyamanan itu membawa manusia seperti para Blogger untuk tetap pada jalur tersebut. Untuk bertemu teman, sekarang tidak susah, cukup melalui Facebook. Bila bertemu muka-pun akan sibuk dengan laptop/HP nya masing-masing. Untuk urusan transfer uang sudah ada sms dan internet banking, untuk beli camilan pikiran kita selalu terbawa ke sebuah mini market yg megah. Waktu mayoritas akan menjadi milik industrialisasi, untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang sudah cukup murah. Intinya, kenyamanan tersebut membawa manusia semakin terpinggirkan menjadi sesosok yang individualis yang akhirnya lupa bahwa dia adalah mahluk sosial.

Esensinya sebagai mahluk sosial biasanya berkaitan dengan interaksi rasa secara nyata manusia satu dengan manusia lainnya. Dengan globalisasi, interaksi itu cukup tersaji melalui teknologi. Lambat laun akhirnya rasa itu menjadi hal yang klise dalam memori otak manusia. Padahal untuk menghasilkan tulisan yang berbobot sebelumnya harus mendasarkannya pada pengalaman secara langsung. Jika rasa itu hilang, maka manusia akan menggampangkan segala hal yang terjadi. Termasuk terjadi pada rasa nasionalisme kepada Indonesia.

Dari dulu kita tahu bahwa Batik adalah kebudayaan Indonesia, reog dari Ponorgo, tempe dari Indonesia, tari pendet dari Bali, tapi kenapa semenjak bangsa lain berusaha mengklaim produk budaya itu, lantas kita ribut-ribut membangkitkan genderang perang. Saya pikir itu nasionalisme yang salah kaprah. Jika rasa memiliki kebudayaan tersebut terus diapresiasi, saya kira bangsa lain tidak akan mengambilnya. Kemudian, jika rasa kepedulian terhadap nasib generasi muda itu ada, maka efek globalisasi seperti narkoba dan HIV atau perilaku hidup menyimpang (selingkuh/seks bebas) tidak bakal tumbuh subur seperti saat ini.

To be continued …

Thanks to Winarto yang sabar menggawangi acara TalkShow dengan BBC, serta thanks to Dr. Oka – You are Threesome Dok (baca awesome hehehe). Salut !


Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

banner 4 dongkrak
Banner 1
Banner 2
banner 3

13 Responses to “Blogger, Sumpah Pemuda & Nasionalisme – Live @ Bali FM”

  1. saylow Says:

    Sekarang Nasionalisme sering disalahkaprahkan, hidup di pulau yang sangat urban kita sering malu bagaimana “tamu” lebih bangga memekai atribut lokal daripada kita.

    Panjang aja artikelnya, pasti karena dolar melemah nih. hahaha

    Reply

  2. Winarto Says:

    Mantap analisisnya 🙂

    Reply

  3. pushandaka Says:

    Analisisnya panjang! Mantabs banget. Asal jangan lupa poinnya mas.. :D: :D:

    Reply

  4. Yanuar Says:

    kereennn…
    :top:

    Reply

  5. okanegara Says:

    belum bisa gabung karena baru sampai bali, kelelahan melayani para gadis dayak di pontianak…maju terusss. *masih kebayang threesome discussion dengan para gadis dayak. cuma diskusi, tidak lebih.

    Reply

  6. wira Says:

    bravo BBC on Air…!!

    Reply

  7. Gung De Says:

    Two Thumb Up….

    Reply

  8. eka dirgantara Says:

    :top: :top: :top:

    YAHUDDDDDDDDDD!!!!!! BRAVOOOO!!! MANTAPPPP!!!

    Reply

  9. PanDe Baik » Blog Archive » Terima Kasih untuk Anda Semua Says:

    […] di Bali Orange Communications, Hendra W.Saputro, Arip Yulianto dan Viar S.Kusuma yang telah banyak memberikan bantuan ilmu, dorongan serta semangat […]

  10. Nasionalisme dari Kacamata Blogger | Winarto's Hermitage Abode Says:

    […] adalah terkikisnya rasa kebersamaan dan interaksi antar sesama (Lihat juga tulisan Hendra WS di sini) yang akan berdampak pada rasa nasionalisme Indonesia. Di akhir sesi, para blogger tersebut […]

  11. aar ss Says:

    hallo hallo hai… burung beo terbang ke awan aar suparyono mencari kawan….

    Salam kenal sesama blogger, mari berkunjung ke blog yang laen untuk menjalin persahabatan. Salam hangsat dari aar ss. musik dan curhat Inilah blogku mari berkawan dan saling memberi masukan. mencari kawn sbanyak banyak nya, mari..
    Trimakasih ya….

    Reply

  12. aar ss Says:

    bali adalah tempat favo aku, gimana rasanya tinggaldi bali? oy skema warna blognya di ganti yang lebih terang agar mudah coment nya

    Reply

  13. guaorangindonesia Says:

    salam kenal mas….MERDEKA

    Reply

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me