Kenken? Masih penak jaman ku tho?

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

~ Sebuah dialektika jaman sekarang dibumbui cerita masa kecilku

“Pendidikan jaman sekarang beda dengan dulu!. Sekarang kompleks dan tingkat kompetisinya tinggi! Anak lengah dikit bakal tertinggal!”. Keyakinan dan kekawatiran itu yang seringkali kudengar. Dari beberapa orang tua.

badunglaranglks

Terlepas dari ‘kejamnya’ dunia pendidikan jaman sekarang (keto kone), aku mau cerita masa ku. Masa SD sampai SMA yang kutempuh dari tahun 1986 – 1996. “Isih penak jaman ku to? (Masih enak jaman ku kan?)”, gitu kata meme bergambar Pak Soeharto senyum. Meme populer jaman sekarang bagi yang belum bisa move on. Tapi hmmm, tanpa harus mengakui, aku sebagai anak remaja, ya, enak!

Aku tinggal di pedesaan, 7 km dari hinggar nya kota Mojokerto, Jawa Timur. Selepas jam sekolah SD, aku bagaikan panah yang melesat dari busur orang tuaku. Main bersama teman-teman desaku. Kami bermain di ladang jagung, petak umpet di bekas bangunan pengasap tembakau, main di hutan cari kalajengking, menyisir sungai cari buah cipluk’an, naik pohon cari asam Belanda.

Pas hari hujan, aku dan teman lari-lari di jalan dan kadang main bola di lapangan. Di lain waktu sibuk cari tanah liat, pukul-pukul di dengkul supaya cekung, bikin 2 biji dan disambungkan, terlihat oval. Bikin sebesar-besar nya dan di lepas di sungai. Terlihat seperti kapal selam mengapung dan pelan terbawa arus. Klo bosan, kapal oval itu kita lempari pake batu. Bertubi-tubi sampai tenggelam. Puwas!

Musim nya karet gelang, kami beli, kumpulkan dan berlomba. Musimnya bola kelereng, kami pun beli dan berlomba, neker’an. Main ‘game’ pathil lele, gobak sodor, ayunan tali, holahopan. Di desa kami ada pabrik pengolahan minyak kayu putih. Disekitar nya ada rawa-rawa. Di sana banyak berkumpul ikan-ikan kecil yang menarik perhatian untuk di buru! Hasilnya nggak seberapa tapi kami puwas!

Topik musim bermain kadangkala ditentukan oleh pedagang mainan yang ngendon di sekolahan kami. Ketika ada pedagang senapan tembak dari kayu dan pelontar nya dari karet gelang (kami sebut nya pentil), saatnya kami bermain perang-perangan. Pelurunya dari batang tanaman hias yang dipotong-potong kecil. Dikokang pake karet gelang dan jempol di tekan untuk memuntahkan peluru itu, melesat ke arah lawan. Klo kena lumayan bikin kulit merah. Klo ingin bikin kulit membiru, bikin peluru dari batang tanaman beluntas. Potongan batang nya keras dan sanggup bikin aku menangis klo kena hahaha.

Bobo siang? Heh .. nggak ada! Orang tua kami terkesan membiarkan. Namun dengan tegas bilang jam 4 sore (waktu ashar) harus pulang. Belajar ngaji Al-Qur’an sampai maghrib. Selepas maghrib, kami belajar. Setelah itu nonton TV dan selanjutnya tidur sampai pagi.

Bapak ku aktif di dunia silat. Akupun sebagai anak pertama ikut rasakan latihan silat di sore hari seminggu dua kali. Itu pas SMP, selama 3 tahun. Ada 4 tingkatan sabuk yang harus kulalui. Sabuk Jambon, Hijau, Putih dan Warga. Ada ujian kenaikan tingkat dan ujian ambil sabuk. Kami para murid silat harus tes daya ingat untuk peragakan senam, jurus dan sabung. Sabung ini berkelahi sesuai kaidah persilatan. Setelah lulus, harus ambil sabuk.

Pelatih tidak asal beri sabuk, namun siswa harus mencari nya sendiri di kuburan. Ya, dini hari gelab gulita di lepas sendiri-sendiri, cari sabuk itu di Kuburan! Titik berangkat sampai ke kuburan kurang lebih 1 km. Sendirian! Rasa tersiksa, kaget, merinding dan takut itu tidak hanya dalam kuburan. Namun selama jalan 1 km, harus lewati suara-suara nggak jelas. Harus siap sabung (berkelahi) jika ada mas pelatih yang menyerang dari arah yang tidak terduga. Bisa dari samping, belakang ataupun jarang yang dari depan.

Dalam kuburan, sabuk Jambon di beri tanda lilin. Klo ada nyala lilin ya disitulah letak sabuk Jambon. Siswa bisa ambil dan sah dapat sabuk jambon. Hijau tanda nya hanya nyala obat nyamuk. Sabuk putih nggak ada tanda! Suruh cari sampai ketemu! Ternyata sabuk putih itu diletakkan di atas pohon sama mas-mas pelatih. Kurang ajar kan? hahahaha.

Masa SMA sibuk dengan melatih silat dan main-main bersama teman-teman sekolah. Tes kenaikan tingkat silat bisa kita rancang sekejam-kejam nya hehehe. Berkubang di sungai, bergumul dengan lumpur di sawah dan ujung-ujung nya kuburan! Bukan mati ya namun cari sabuk. Soal kuburan, ada filosofi nya lho. Setelah kita mati-matian berlatih, naik tingkat, itu ibarat hidup kerja keras di dunia. Toh ujung-ujung nya ya mati, diantar ke kuburan hehehe. Jadi, walaupun itu pesilat, harus ingat akan kematian juga. Agar tidak sombong!.

Bersama teman-teman SMA, kami sering kumpul bersama selepas sekolah. Kebetulan jamanku, siswa sekolah punya genk-genk sendiri. Akupun terkumpul dalam sebuah genk, namanya Q-OST. Katanya sih singakatan dari Qumpulan Orang Santri Terpelajar. Wuaaaah hahaha. Keren ya!. Sesuai nama, kami sering berkumpul untuk sholat Jum’at bersama. Berkunjung (tangkil) silaturahim ke Kyai Jatmiko di Gondang. Kadangkala sisi liar kami muncul, balapan motor, touring ke cangar, malang, dll. Sabtu malam minggu berkumpul di rumah teman. Nongkrong didepan rumah nya yang kebetulan di pinggir jalan besar, sambil motor di parkir rapi berjajar hadap kedepan. Tawuran? Ya pernah hahaha. Kadang itu demi cewek. Halaaaah :p

Itu masa ku. Alhamdulillah indah!

Lantas jaman sekarang, aku melihat berita ini di koran. Isinya tentang himbauan Pemerintah Pusat dan di dukung oleh Pemda Badung untuk melarang sekolah menjual LKS dan melarang guru menjual jasa les rumahan.

Aku dulu mengenal les hanyalah ikut-ikutan teman. Semasa SMA kurasa pelajaran matematika dan bahasa inggrisku lemah. Aku les di sore hari nya, ditengah-tengah suntuk nya otak sehabis sekolah. Nyantol kah? Wallahu A’alam. Lanjut lagi les ketika mau masuk tes perguruan tinggi. Nyantol kah? Ya aku akhirnya di terima kuliah negeri di Universitas Udayana Bali. Nyantol kayaknya hahahaha.

Masih di koran itu, Pemda Badung yang pernah studi banding tentang sistem pendidikan ke Finlandia, menceritakan proses pendidikan disana. Finlandia adalah negara yang berpredikat dengan pendidikan terbaik dan murid terpintar di dunia.

Anak-anak di Finlandia baru boleh bersekolah ketika berumur 7 tahun. Setiap 45 menit belajar, siswa berhak dapat istirahat 15 menit. Tidak ada PR dan ujian nasional. Kebanyakan siswa SD di Finlandia berada di sekolah selama 4-5 jam saja/hari. Selebihnya bermain!

Siswa SMP dan SMA di Finlandia mengikuti sistem pendidikan layaknya kuliah. Mereka hanya datang ke sekolah pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang karena merasa terpaksa tapi datang karena pilihan mereka sendiri.

Gimana di Indonesia?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

banner 4 dongkrak
Banner 1
Banner 2
banner 3

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me