Meratap, Menghujat, Berbuat atau Penikmat? (Refleksi E-Commerce Indonesia)

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Indonesia urutan 4 (58,5%) se Asia Pasific dalam hal belanja online via ponsel (smartphone). Urutan pertama India (75,8%), kedua China (71,4%), dan ketiga Thailand (65%). Keanehan datangnya dari negara maju seperti Jepang yang cuma 31%, Australia (26%) dan Selandia Baru (26%). Angka itu keluar dari Vice President Digital Payments and Labs Asia Pasifik Mastercard, Benjamin Gilbey.

e-commerce Indonesia

Bukalapak, menurut CEO nya Achmad Zaky klaim 80% penggunanya belanja lewat aplikasi mobile di ponsel. Berita itu dilansir Jawapos cetak kemarin.

Perkembangan ter-now untuk investasi e-commerce di Indonesia melahirkan 3 unicorn yaitu Tokopedia, Go-Jek dan Traveloka. Yuk kita lihat hasil para investor yang bakal ‘kuasai’ e-commerce Indonesia:

1. Tokopedia & Lazada -> Diinvest Alibaba (China)
2. Shopee, JD.ID, Traveloka, Go-Jek -> Diinvest Tencent (China)
3. Blibli, Tiket.com -> Diinvest GDP Capital (Djarum Group)
4. Grab -> Diinvest Alibaba dan Tencent (China)

Perkembangan diatas saya ikuti dari dinamika tokoh senior e-commerce Indonesia Mas Jaya Setiabudi dan Dewa Eka Prayoga. Hampir 3/4 barang dalam portal-portal belanja online dan marketplace sudah dipenuhi produk-produk murah dari China. Mereka bisa murah karena skala produksinya besar/masal.

Fakta lapangan mengatakan Alipay (sistem pembayaran asal China) sudah gerilya sosialisasi dan melatih (workshop) para pedagang di Indonesia. Melalui telpon, Alipay undang para pedagang untuk berkumpul bersama memahami dan tawarkan bergabung dengan nya. Investor China peduli hal ini karena penduduknya bisa berkunjung ke Indonesia tanpa Visa! Tourist asal China paling banyak datang ke Indonesia. Bahkan bisa kerja di Indonesia dengan surat resmi atau tanpa surat (ilegal). Di China, penduduknya tidak terbiasa lagi belanja dengan cash. Mereka sudah cashless, bayar dengan mata uang digital dengan handphone didalamnya ada Alipay nya.

Urusan logistik, pengiriman barang, Alibaba sudah bermitra dengan J&T. Lazada sudah punya divisi logistik bernama LEX – Lazada Express. Jaringan besar dibawah Alibaba itu sudah bangun Fulfillment Center (warehouse barang) besar di Indonesia. Tujuannya apa? Mempersingkat waktu kirim barang!

Mungkin petinggi Indonesia mulai ‘gerah’ hingga lahirlah Peraturan Presiden no. 74 Tahun 2017 pada agustus lalu tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road map e-commerce) Indonesia tahun 2017 – 2019. Saya sendiri hadiri sosialisasi Perpres itu. Program nya untuk rakyat Indonesia. Semoga ya πŸ™‚

Indonesia darurat e-commerce? Lantas kita, saya, diam saja? Meratapi dan menghujat yang hanya hasilkan obrolan negatif tak berguna. Atau mau berbuat sesuatu?

Ingat lho masih ada kategori-kategori usaha lain yang bisa dimaksimalkan dan menjuara di dunia online. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dari 17 juta UKM Indonesia, hanya 75 ribu yang memiliki website atau sudah Go Online.

Menurut eMarketer, Indonesia habiskan $ 834.5 juta setara Rp. 11 triliun lebih untuk iklan digital dan hampir setengah dari iklan itu habis untuk beriklan memanfaatkan mesin pencarian yaitu $ 367.2 juta (44%). Sedangkan prediksi nilai transaksi e-commerce tahun 2016 adalah Rp. 394 Triliun. Itu uang yak?

Klo saya, lebih memilih untuk berbuat sesuatu (kerja). Karena berpotensi menghasilkan sesuatu. Utamanya untuk pribadi dan lebih-lebih membawa manfaat bagi bangsa. #Mrinding!

Masyarakat Indonesia perlu diberikan edukasi untuk Go Online. Caranya adalah workshop digital marketing dan pendampingan (one on one coaching). Memberikan ilmu persenjataan berbasis online hadapi potensi pasar dan persaingan. Mereka tidak perlu ikut USP (Unique selling proposition) mereka (China), yaitu murah.

Pendampingan ini harusnya ada sisi edukasi bisnis nya juga. Mulai dari validasi produk, kemasan, branding, manajemen keuangan, SDM, dan produksi, hingga pemasaran. Idealnya si pendamping ini harus mampu jadi trainer, mentor dan seorang business coach. Tentunya dengan bisnis yang sudah proven.

Satu orang praktisi bisnis yang melek digital marketing mendampingi 1 UKM akan berpotensi buat UKM Idonesia naik kelas dan scale up!

Wahai para praktisi dan UKM Indonesia, BANGUN lah! Merapatlah ke komunitas-komunitas bisnis/wirausaha. Ikuti workshop teknologi seperti kelas digital marketing. Ikuti pula festival, workshop, seminar wirausaha. Tempel terus orang pintar disekitar Anda.

Wait, dari kenyataan dunia e-commerce Indonesia, apakah kita cukup sebagai penikmat saja? Apa mau kasus ala Freeport terjadi lagi di Indonesia?

Keputusan ada di tangan kita. Saatnya genggam dunia!

Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Banner 1
Banner 2
banner 3

One Response to “Meratap, Menghujat, Berbuat atau Penikmat? (Refleksi E-Commerce Indonesia)”

  1. Rahmat Says:

    Terima kasih pak hendra atas pelatihan SEO pada even gapura digital lagi, semoga para UKM yang mengikuti gapura digital mampu ekspansi dari bisnis lokal kecil2an menjadi salah satu pionir didunia digital.

    Maju terus UKM Bali! Go ONLINE!

    Reply

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Catering di Bali




Ayo Berbagi
Afiliasi Hosting Indonesia
Hosting Indonesia

Anti Korupsi
Chat with me