Yellow Pages ‘Tergusur’ Jaman Digital

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Saya pernah beberapa tahun listing di Yellow Pages Bali dan Nusa Tenggara untuk usaha saya BOC Indonesia. Iklan seukuran kartu nama, hitam putih!, kalau tidak salah harus bayar 3 atau 5 jutaan. Cicil 3 kali hahaha. Itu di medio tahun 2006 hingga 2008 lalu.

Yellow Pages

Eh omong-omong generasi milenial tahu Yellow Pages kah? Buku kuning besar yang berisi semua informasi nomor telepon serta alamat bisnis. Semua pemilik telpon rumah yang terdaftar di Telkom, akan muncul nama lengkap dan nomor telpon nya.

Yellow Pages juga ada direktori bisnis dan informasi alamat nya. Alamat-alamat itu tersusun berdasar kategori bisnis dan nama kota/kabupaten. Yellow Pages ini hampir dimiliki di setiap rumah yang punya telpon kabel, alias berlangganan telpon Telkom.

Yellow Pages dipasarkan oleh anak perusahaan Telkom, PT. Infomedia Nusantara. Itu dulu. Sekarang nama nya berubah jadi MD Media. Bisa dikatakan, sebuah bisnis akan dikatakan valid dan terpercaya bila sudah terdafar atau iklan di Yellow Pages.

Orang kalau cari nomor telpon seseorang, tinggal melihat nama kota/kabupaten dan membuka nya di halaman yang dimaksud. Kemudian tinggal mencari nama lengkap berdasar abjad.

Jika cari produk, orang akan buka Yellow Pages dan memilih nama kota/kabupaten dan melotot pada kategori bisnis nya. Misal mau cari produsen seragam, maka nama kategori bisnis nya adalah Konveksi atau Tekstil. Disamping kanan kategori ada nomor halaman nya. Tinggal buka disana.

Ribet nggak sih? Kalau jaman now kan tinggal Googling aja hahaha!

* Berhenti Gunakan Yellow Pages

Saya sudah menghentikan berlangganan Yellow Pages sejak tahun 2009. Semenjak dunia blogging mulai semarak. Semenjak teknik Search Engine Optimization (SEO) jadi penentu popularitas bisnis melalui Google Search. Semenjak Facebook dan media sosial lain mulai ramah sebagai acuan emosional merekomendasikan bisnis.

Semenjak Google Search dan fasilitas nya seperti Google Bisnisku, yang membawahi Google Maps dan Google+ Brand yang mampu tampilkan segala deskripsi bisnis, termasuk alamat dan nomor telpon nya, semenjak itulah orang lambat laun meninggalkan Yellow Pages.

* Disrupsi Yellow Pages oleh Google dkk

Orang akan gunakan Google untuk mencari produk dan bisnis sesuai kebutuhannya. Beberapa hitungan detik sudah ketemu. Kalau Yellow Pages berpuluh-puluh menit. Belum lagi waktu kepotong harus cari letak bukunya hehehe.

Jadi, disruption berhasil diciptakan oleh Google dan produk turunan nya. Cukup dengan smartphone digenggamannya dan puas dapatkan informasi yang diinginkan.

Apakah ada kekuatan disruption lainnya?

Ya, media sosial sebagai tempat bertanya. Orang dengan mudah akan posting status, “Saya butuh seragam dalam jumlah banyak, ada yang tahu buatnya kemana?”. Bertubi-tubi notifikasi komentar akan merekomendasikan sebuah bisnis. Rekomendasi itu punya nilai tinggi karena yang bilang adalah teman nya!

Lain nya?

Ya ada, orang akan mencari produk atau bisnis di media sosial gunakan kata kunci #hashtag. Semenjak free ongkir (ongkos kirim) jadi daya tarik, orang tidak masalah belanja di kota atau provinsi lain. Bahkan dari negara lain pun no problem! Market place juga jadi agen disrupsi Yellow Pages. Iklan nya di TV besar-besaran.

* Bagaimana Nasib Yellow Pages?

Tahun 2013 lalu petinggi Yellow Pages umumkan beralih ke online (website) dan siapkan aplikasi berbasis Android dan iOS untuk di unduh oleh pengguna.

Setelah saya cek di Google Play Store, jumlah pengunduh nya antara 10.000 – 50.000 saja. Apakah ini jumlah yang cukup meyakinkan bahwa aplikasi ini penting? Kalau menurut saya penting ya, bagi orang yang merasa penting sih hehehe.

Saya belum cek di Apple App Store. Silakan cek sendiri. Kayaknya nggak ada deh.

“Sudah tiga dasawarsa Yelow Pages identik sebagai buku petunjuk Telkom. Kami mau menyesuaikan dengan fenomena masyarakat untuk menggarap digital advertising,” kata Eddy Kurnia, Presiden Direktur Infomedia di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Rabu (20/3/2013). Ini berita yang dimuat oleh Detik pada 2013 lalu lho ya!

Apakah sekarang masih cetak? Sepertinya berhenti pada 2013 lalu seiring dengan perubahan nama perusahaannya. Infomedia menjadi MD Media.

Yellow Pages Indonesia ini ternyata franchise dari Yellow Pages internasional yang berpusat di Inggris.

Menurut Detik yang diberitakan September 2017 lalu, memuat kabar Yellow Pages internasional, “Setelah beredar hampir 51 tahun, Yellow Pages akhirnya harus berhenti cetak mulai Januari 2019 nanti. Kenangan akan buku kuning besar itu pun menyeruak”.

Tagline Yellow Pages Indonesia adalah, “Cari Tahu Dengan Jarimu”. Ya, tagline itu masih relevan untuk jaman now, cuma jemarinya dipakai usap dan sentuh Smartphone. Hehehe.

Kenapa sih saya menulis tentang Yellow Pages?

Karena Yellow Pages adalah pertanyaan saya kepada peserta ketika mengisi seminar The Power Of Digital Marketing di depan mahasiswa program S1 dan Magister STIE Triatma Mulya – BALI.

“Ada yang masih gunakan Yellow Pages jaman sekarang?”. Semua hadirin ketawa. Terutama dari barisan program magister. Kelihatan sekali kalau mereka sudah tua hahahaha.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

banner 4 dongkrak
Banner 1
Banner 2
banner 3

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me