Apakah Babi dan Onta itu sama?

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Membiasakan diri hidup dalam perbedaan pola pikir itu mulia daripada menyatukan/samakan perbedaan nya. Pola pikir beda kan ketetapanNya. Bahkan sudah jadi resolusi hak asasi manusia.

Klo jaman dulu, dalam rangka menyatukan perbedaan pola pikir, langkah instan yang logis adalah ‘pembunuhan’. Karakter nya dibunuh agar terjadi situasi yang tenang. Mungkin contoh nyata nya partai politik yang dipangkas jadi 3 (jaman Mbah Harto). Partai yg tadinya puluhan harus dipaksa merapat ke salah satu dari 3 itu. Majalah yg kritis pola pikir nya dan beda dengan penguasa berakhir terbredel. Itu semua ‘pembunuhan’ karakter akibat pola pikir yang beda. Akhirnya tidak ada perbedaan. Yang ada adalah ketakutan untuk jadi beda. Berani kritik beda, besok hilang (Widji Tukul, Petrus Bima, dll, Munir-diracun). Langkah pemaksaan pola pikir yang ngeri!

Sekarang? Wuah bebas. Menjadi beda pola pikir dijamin oleh hak asasi dunia dan konstitusi. Namun kebablasan. Dulu jaman orde baru, penguasa/pemerintah lah yang hrs paksa berangus perbedaan. Sekarang? Penduduk nya yang maksa berangus perbedaan.

Jaman sekarang, perbedaan apa yang dipaksakan dalam beragam argumen agar sama dalam berpola pikir? Apakah itu Politik? Agama? Suku?

Padahal masyarakat punya pilihan berbeda dalam politik, beda dalam beragama dan suku, tapi seakan dipaksa untuk mencipta kebersamaan dalam pola pikir nya. Nih contohnya:

Ada yg berpola pikir pluralis, bahwa pemimpin itu apapun agamanya, yang penting bersih, anti korupsi, harus di dukung semua umat beragama.

Ada yg fanatik pola pikirnya, bahwa pemimpin itu harus seiman dengan penduduk mayoritas nya. Maka yang beda iman harus ngikut.

Hal diatas kan jelas beda pola pikir, yang dalam kompetisi di paksa harus sama oleh masing-masing pihak. Lucu nggak? Mereka pikir otak manusia itu sama yak. Makanya wajar klo tidak ketemu persamaan, akan ada saling nyinyir nyindir satu sama lain.

Selama ada mindset perbedaan pola pikir itu harus disatukan, maka siapkan rasa kecewa karena ternyata ada perbedaan yang tidak mau disamakan pola pikirnya.

Jika perbedaan pola pikir itu hal biasa, maka masyarakat bisa hidup berdampingan bhw perbedaan itu hal yang sama-sama lumrah, hal suci karena Tuhan mencipta manusia itu berbeda satu sama lain.

Lumrah dan terbiasa akan cepat dilupakan dan manusia akan beralih memikirkan hal yang secara prinsip sama. Apa contoh mudah nya?

Ada yang suka makan pakai tangan karena lebih menjiwai. Ternyata yang lain ada yang suka makan pakai sendok karena higienis. Keduanya terlibat debat tentang penting nya higienis dan satunya bertahan penting nya menjiwai makan yang dicontohkan nabinya. Mereka berdua sama-sama beda. Iya, beda pola pikir. Lantas apakah mereka terhenti makannya? Bakal mati klo nggak makan! Hari-hari berikutnya mereka tetap makan bersama kok. Tetap dgn cara nya masing-masing. Pokoknya kenyang!

Jadi mari membiasakan diri dengan perbedaan ya. Ingat tujuan prinsip hidup ini. Untuk apa sih? Salah satunya ya untuk makan! Dilain sisi ya untuk mengatasi perbedaan-perbedaan agar tetap hidup. Atasi nya bisa dengan cara perang atau hubungan kesetiakawanan, tenggangrasa dan toleransi. Tergantung pilihan manusianya. Ya kan?

Berbeda-beda tetap 1 tujuan. Itu kata slogan Bhinneka tunggal ika. Tujuannya hidup harmonis kan?

Maka, siapkah diri Anda, jika suatu saat Bali akan di pimpin seorang gubernur beragama Islam dari suku Jawa?

Anda akan puputan kah? Klo ada yang marah, tersinggung, ataupun membela diri, berarti pola pikir Anda sama dgn orang-orang yang Anda teriakin ‘Onta’ itu. Hahaha. Anda dan dia sama-sama berjuang, pertahankan pola pikir yg beda. Dan itu sejatinya lumrah dan kita harus membiasakan diri utk beda.

Selamat menyambut subuh!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


Leave A Response