Bapak Berpulang, Meninggalkan Dunia Ini

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un telah berpulang ke Rahmatullah Bapak saya Untung Subagijo di usia 71 tahun pada Kamis, 4 Maret 2021 sekitar pukul 15.00 WIB di Sanding, Desa Wonosobo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

Bapak telah menyusul Ibu meninggalkan dunia ini. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi panjenengan berdua. Aamiin YRA.

Sebelum Bapak meninggal, beliau berjuang selama 3 bulan tergolek di tempat tidur karena habis terjatuh di kamar mandi. Ya Allah, izinkanlah saya menyesali diri dan mohon untuk bisa move on bangkit lagi dari penyesalan itu. Saya tidak berada di rumah Pacitan ketika peristiwa itu. Posisi saya tinggal di Denpasar – Bali. Ya Allah mohon ampuni hambaMu ini yang belum bisa maksimal menemani masa tua nya.

Untung Subagijo muda

Saya bisa menetap di Denpasar karena tahun 1996 lalu diterima kuliah di Univesitas Udayana. Hingga akhirnya tahun 2003 punya bisnis sendiri (BOC Indonesia) dan mayoritas pelanggan berada di Bali.

Rasa penyesalan kadangkala muncul. Maklum saya manusia yang diberi hati oleh Allah. Ya tadi, kurang maksimal menemani orang tua. Tulisan ini saya tujukan untuk mengingatkan pada diri sendiri bahwa manusia suatu saat akan meninggal. Kemudian mungkin saja tulisan ini bisa memberikan inspirasi bagi pembaca untuk selalu memakmurkan orang tua. Temanilah dan makmurkanlah selagi orang tua itu ada.

Rasa bersalah itu pun kadang masih bergelayut di hati, utamanya detik-detik akhir perjalanannya Bapak. Seminggu sebelum meninggal, saya berada di rumah Pacitan selama 3 hari. Dari hari kamis hingga minggu. Kemudian saya pamitan berangkat kerja ke Situbondo urusin proyek. Eh 4 hari kemudian yaitu kamis siang sudah meninggal. Andaikan saya masih di Pacitan! Duh … Itu lho penyesalannya!

Seminggu sebelum meninggal, kami berempat anak-anaknya Bapak (Hendra, Hendy, Yulia, dan Dimas) semua berkumpul di rumah Pacitan. Entah karena pertanda atau apa, yang jelas hari Jum’at nya akan membawa Bapak kontrol ke RS Harjono, Ponorogo. Gunakan mobil ambulan milik PSHT Pacitan.

Saya datang ke rumah Pacitan hari Kamis dalam kondisi sakit batuk dan panas. Sengaja tidak menemui Bapak hingga hari sabtu pagi nya karena takut Bapak ketularan. Musim nya covid juga. Saya mengurung diri di kamar. Kalaupun harus melewati tempat tidur Bapak, saya berjalan pelan supaya tidak terlihat oleh Bapak. Ini lho penyesalan itu!

Maka waktu efektif bertemu Bapak hanya di Sabtu siang – malam. Itupun tidak lama-lama bicara sambil gunakan masker. Minggu nya saya pamitan berangkat ke Situbondo. Duh rasanya sesak dada ini.

Senin hingga Kamis siang saya di Situbondo. Hingga kabar menggelegar itu datang. Ditelpon oleh teman-teman tetangga di rumah Pacitan, “Mas Hen, Bapakmu sedo.” Itu kalimat to the point yang di omongkan oleh Slamet ketika telpon nya saya angkat. Blaaaaarrrrr! Kaku kelu lidah ini.

Teman itu langsung WA foto-foto nya almarhum Bapak. Mungkin untuk meyakinkan saya. Duh semakin ancur hati ini. Terlebih melihat kaos terakhir yang dipakai Bapak. Ada tulisan Bali. Posisi tempat tidur Bapak memang dibawah, agar tidak terjatuh dan mudah untuk ambil-ambil peralatannya. Dulunya, meski tergolek di tempat tidur, Bapak masih aktif gerak-gerak geser tubuhnya. Kalau ditaruh di dipan, kawatirnya terjatuh.

Diantara linglung, langsung kebingungan cari transportasi ke Pacitan dari Situbondo. Saya meminta sesepuh Pacitan untuk menunggu kedatangan saya di rumah Pacitan. Diperbolehkan. Penguburan Bapak akan dilaksanakan hari Jumat pagi.

Kalau naik bus dari Situbondo jelas nggak mungkin. Bakal lama. Harus ke Surabaya dulu. Kemudian cari Bus Surabaya – Ponorogo. Trus nunggu angkutan desa dari Ponorogo ke rumah. Bisa-bisa sampai rumah jam 10 pagi. Sedangkan deadline penguburan adalah kisaran jam 8 pagi.

Saya berusaha cari pinjaman mobil ke tim bisnis di Situbondo melalui grup WA namun semuanya terdiam. Disini saya kecewa sekali!

Akhirnya ada jalan keluar yaitu istri saya bawa mobil dari Bali. Kamis sore nya langsung tancap gas ke Situbondo. Sampai pukul 02.00 WIB dini hari di Situbondo. Langsung tancap gas Situbondo ke Probolinggo. Masuk tol dan keluar di exit tol Madiun. Akhirnya sampai rumah Pacitan Jumat pukul 07.00 WIB.

Saya sempat membuka wajah Bapak. Tak kuasa hati ini menahan tangis.

Tepat pukul 08.00 WIB rombongan tetangga dan warga-warga PSHT mengantarkan Bapak ke peristirahatan terakhir. Saya dan adik saya Hendy turun ke liang lahat untuk menerima jenazah dan menata tidur terakhir nya Bapak. Tali pocong harus dibuka. Wajah harus terbuka, dihadapkan ke barat menempel dengan dinding tanah. Adzan terakhir berkumandang untuk Bapak. Ya Allah …

Terima kasih Bapak. Telah engkau berikan makan, engkau berikan rumah untuk berteduh, engkau berikan pendidikan, engkau berikan uang saku, engkau berikan contoh, dan engkau berikan kasih sayang, engkau berikan warisan sosial yaitu ikut organisasi PSHT, bisa sama tingkatnya dan engkau jadi tokoh PSHT Mojokerto. Jadi banyak saudara di seluruh dunia.

Bapak saya hidupnya penuh inspirasi. Terlahir kembar, anak dari pembantu dan tukang delman. Bisa jadi PNS dan kuliah kan 4 orang anak-anaknya. Bahkan menjadikan semua anak-anaknya warga PSHT.

AlFatihah, semoga damai bersama Allah SWT. Salam sama Ibu.

Bagikan Yuk

Comments are closed.