Bela Diri Bangsa, Indonesia Punya Budaya Dan Sejarah Saya di PSHT

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Adanya bela diri di Indonesia salah satunya untuk usir penjajahan dari bumi Indonesia. Teknik membela diri adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia terhadap jaman nya. Ya, itu produk budaya manusia.

PSHT Badung Bali

Ajarannya sendiri kaya akan seni yang punya arti puja dan puji kepada sang Tuhan Yang Maha Esa. Setiap langkah, gerak, laku dan pernak-perniknya punya nilai-nilai filosofis kesemestaan dan keTuhanan.

3 tahun dulu, medio 1990-1993 diri ini menempa olah kanuragan dan kerokhanian bersama seni bela diri bernama Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Salah satu ajarannya yang bikin mrinding adalah harus ingat dengan kematian. Ilmu yang didapat dari bela diri ini dipersiapkan diri untuk hadapi kematian, dengan meninggalkan prestasi budi pekerti yang luhur.

Dengan bekal ingat kematian, harus memahami bahwa manusia sepatutnya mencipta bekal terbaik selama masih hidup. Menjalani nya dengan turut serta mempercantik dunia dan dalam lingkup rasa persaudaraan yang abadi.

So, apa sih yang kita cari di dunia ini?

Paragraf-paragraf diatas hasil update status singkat saya di Facebook. Sehabis acara pengesahan wisuda warga baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) seluruh Bali yang dipusatkan di Gilimanuk pada Sabtu, 7 Oktober 2017.

PSHT ada di Bali, berawal dari Mas Juworo yang mulai membuka latihan pada tahun 1992. Mas Juworo asli Madiun, pengesahan tingkat I tahun 1973, murid langsung dari alm RM. Imam Koesoepangat, salah satu ketua umum PSHT yang membuat organisasi pencak silat ini jadi membesar.

PSHT Badung Bali

Saya sendiri kenal dengan Mas Juworo ketika hijrah ke Bali untuk kuliah di Universitas Udayana pada tahun 1996. Ketika itu Bapak saya (Mas Untung) yang sudah kenal baik dengan Mas Juworo, memberitahukan dan menitipkan saya selama di Bali. Mereka berdua sama-sama warga tingkat II di perguruan pencak silat PSHT, jadi sudah seperti keluarga.

Saya sempat menunda untuk mencari keberadaan Mas Juworo hingga hmm 2 tahunan. Ketika sudah bertemu di kediaman beliau di Jl. Nusantara, Tuban, Badung – Bali, Mas Juworo setengah jengkel bilang ke saya, “Iyo, Bapakmu nitipin kowe ke aku. Tak cari sampai ke kost mu di Kedonganan sana tapi ora pernah ketemu. Ben tak jiarno wae, tak biarin saja. Nanti kan ketemu sendiri“. Hehehehe, maaf Mas! Ampun. Begitu baiknya Mas Juworo atas amanah yang terucap ke Bapak saya.

Lambat laun keberadaan saya di Bali tercium oleh para saudara-saudara PSHT dalam pulau Bali. Mungkin karena mereka tahu dari website shterate.com dan media sosial. Kadangkala datang atas undangan dari Mas Cipto. Ya, Kangmas Cipto warga PSHT Banyuwangi ini salah satunya yang paling dekat dengan saya. Ada pula mas Hadi Mahmud, warga PSHT Banyuwangi sesama pebisnis web hosting di Bali.

PSHT Badung Bali

Ketika ada saudara-saudara SH Terate dari Belanda (Luuk, Chris, Mas Peter dan istrinya Marlous), maka kadang saya bawa main ke rumah nya Mas Cipto.

* PSHT di Bali

PSHT di Bali sendiri sudah punya 3 cabang yaitu Denpasar, Jembrana dan Badung. Denpasar lah cabang paling tua. Sedangkan sisanya baru saja terbentuk pada tahun 2017. Ya cabang baru. Sudah punya ribuan warga dan siswa PSHT di seluruh Bali. Keren banget Mas Juworo ini. Sama seperti Bapak saya yang ikutan membesarkan PSHT Mojokerto.

Lambat laun akhirnya saya di daulat, di minta oleh Ketua Cabang PSHT Badung terpilih yaitu Mas Edi Kuswanto untuk ikut jadi pengurus. Posisi yang harus diperkuat adalah anggota Dewan Pertimbangan Cabang PSHT Badung. Tugas nya memberikan pemikiran, baik itu pendapat bersifat opini atau tata aturan kepada Ketua Cabang, sebagai bahan pertimbangan.

Maka bersama sang Ketua Dewan Pertimbangan Mas Derajad, ada saya, Mas Adam dan Mas Sigit yang menjadi anggota nya. Bismillah berjuang untuk mengembangkan cabang baru bernama PSHT Cabang Badung hingga 5 tahun masa kepengurusan. Semoga Allah SWT mempermudah langkah kami, PSHT Badung.

PSHT Badung Bali

* Asal mula saya ber PSHT

Bapak saya bernama Untung Subagijo adalah putra asli Madiun. Lahir di Desa Kranggan, Kecamatan Geger, Madiun pada Agustus 1950 silam.

Lahir ber enam dari Ibu yang berprofesi sebagai pembantu dan Bapak sebagai kusir delman. Bapak saya anak ke empat. Sayangnya, semenjak saya dilahirkan pada tahun 1978, belum pernah bertemu dengan Kakek karena keburu dipanggil Allah SWT semenjak Bapak masih SMP.

Otomatis beban keluarga semakin berat. Nenek tidak mampu sekolahkan anak-anak nya. Solusi agar beberapa anaknya bisa sekolah maka anak ke dua sampai ke empat (Pak Dhe Yono, Pak Dhe Widodo dan Bapak saya) dititipkan hidup dan sekolah ke adiknya Nenek di Desa Kertobanyon.

Adiknya nenek ini tidak punya anak. Punya suami menjabat sebagai Carik Desa Kertobanyon. Waktu itu, penghasilan seorang carik bisa dikatakan selevel dengan penghasilan seorang Camat di jaman sekarang. Kenapa harus sekolah? Karena anak-anaknya nenek ini laki-laki. Selebihnya yang 3 orang adalah wanita dan dibiarkan putus sekolah ketika mereka SD. Tragis ya.

Ketiga anak laki-laki tersebut melanjutkan sekolah hingga level sekolah menengah kedua. Pak Dhe Yono dan Pak Dhe Widodo lulusan STM (Sekolah Teknik Mesin). Sedangkan Bapak saya suka ke SPMA (Sekolah Menengah Pertanian Atas).

Dari semua anak-anaknya nenek, hanya Bapak saya saja yang hobi pencak silat. Ikut latihan PSHT di pendopo Kabupaten Madiun, digembleng langsung oleh Mas Imam dan Mas Tarmadji.

Latihan pencak silat di PSHT selama 3 tahun, harusnya tahun 1975 Bapak sudah disahkan menjadi warga atau pelatih tingkat I di PSHT. Namun apa daya, untuk mengikuti wisuda pengesahan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk ukuran remaja yang masih menempuh SPMA.

Bapak harus merelakan diri untuk sabar tidak disahkan waktu itu sambil menunggu dapat dana. Kurang lebih jeda 1 tahun, ketika itu Bapak sudah lulus SPMA dan bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, punya gaji dan bisa disahkan menjadi warga tingkat I di Madiun.

Hobi pencak silat nya lanjut di Mojokerto dengan membuka latihan di Balai Desa Jabon, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Waktu itu sudah ada latihan PSHT namun kurang berkembang.

Akibat keaktifannya di PSHT Mojokerto, Bapak melanjutkan jenjang pendidikan pencak silat hingga disahkan menjadi warga PSHT tingkat II pada tahun 1985. Karir nya berlanjut menjadi Ketua Cabang PSHT Mojokerto selama 2 periode dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan setelah nya, hingga sekarang.

Semenjak saya anak-anak hingga remaja, sudah menjadi menu kehidupan menyaksikan rumah nya Bapak jadi sarang orang-orang berpakaian serba hitam. Ya, seragam nya PSHT kan hitam-hitam.

Ketika saya menginjak kelas 1 SMP, disitulah saya mulai latihan pencak silat PSHT. Masak anaknya warga PSHT kok nggak ikut latihan. Gitu sindir orang-orang berseragam hitam itu hehehe. Ya lah, ikut!

Tiga tahun latihan, akhirnya saya disahkan, di wisuda jadi warga PSHT tingkat I pada tahun 1993. Warga tingkat II yang mengesahkan saya waktu itu adalah alm Mas Djarot Santoso. Terima kasih Mas! Semoga amal baik Kangmas diterima oleh Allah SWT. Amin.

Semasa SMA dari tahun 1993 – 1996, saya mulai melayani PSHT Cabang Mojokerto. Lulus SMA Sooko, Mojokerto pada tahun 1996 dan hijrah diterima kuliah di Universitas Udayana, Bali.

Begitulah kisah nya. Antara saya, PSHT, Bapak dan Nenek. Terkhusus untuk nenek saya yang sekarang sudah almarhum, adalah orang tua yang luar biasa! Anak-anak nya pada sukses. Dua di Lampung, dua di Jakarta, satu di Mojokerto dan satunya di Madiun. Mereka membentuk keluarga yang mandiri yang tidak membebani kehidupan nenek di masa lampau.

Nenek saya adalah orang tua yang profesinya jadi pembantu, punya anak-anak dan cucu-cucu yang hebat. Termasuk saya ini. Tsah! Alhamdulillah hehehe.

Semoga saya bisa amanah dan konsisten mengabdikan segala daya jiwa raga di PSHT Cabang Badung khususnya dan PSHT pada umumnya. Mohon doanya.

PSHT Badung Bali

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


Leave A Response