Hiking Mengejar Cinta di Bukit Campuhan Ubud

Ikutan yuk sama teman-temanku lari di Ubud?” Itu ajakan cinta saya, si istri 🙂 Setelah diskusi lebih dalam ternyata trek nya di Bukit Cinta, Campuhan Ubud – Bali. Yay! Saya belum pernah kesana. Jangan ketawa ya wkwkwk.

Bukit Cinta Campuhan Ubud

Berangkat dari Denpasar selepas subuh saya, istri dan Altaf (anak lelaki kami paling bontot) serta teman-temannya istri penghobi olah raga lari yang punya julukan mrinding “Gerombolan Mak-Mak Bar-Bar (GMB)” wkwkwk.

Hiking ini olah raga yang cukup terjangkau secara budget. Tinggal siapin kendaraan, bawa bekal minum dan makanan dari rumah, jadi deh olah raga.

Waktu itu hari Minggu, 18 Oktober 2020. Setiba di Campuhan – Ubud, kami parkir kendaraan di pelataran SMK Pariwisata Putra Bangsa. Lokasinya dibawah jembatan Campuhan. SMK itu ada kok di Google Maps. Salah satu parkir yang paling dekat ke Bukit Cinta, Campuhan – Ubud.

Bukit Cinta Campuhan Ubud

Kami langsung cuss ke arah bukit. Cukup mudah dikenali jalan nya. Setapak tapi sudah di beton dan akan ketemu jalanan berpaving yang membelah punggung Bukit Campuhan. Makanya klo di Google Maps, kawasan Bukit Cinta ini bernama Campuhan Ridge Walk.

Kalian kalau cari nama Bukit Cinta di Google Maps, akan diberikan display Bukit Campuhan oleh Google. Trus nama jalanan yang berada di punggung bukit itu adalah Jalan Bangkiang Sidem. Coba cek aja di Google Maps.

Mayoritas kami ternyata tidak lari. Jalan kaki alias hiking saja wkwkwk. Ealah. Namun 3 km sebelum finish, para srikandi GMB rupanya gatal untuk berlari. Wuzz berlarilah mereka. Saya terpaksa ngalah dengan permintaan Altaf, dia nggak kuat dan akhirnya naik Go-Jek wkwkwk. Sempat minta Om Fuad menemani Altaf tapi ternyata memilih untuk lanjutkan hiking.

Pelari Hore

Kembali ke awal perjalanan hiking. Kami menelusuri jalanan di Bukit Cinta Campuhan sampai ketemu perkampungan. Selain rumah penduduk, berjajar cafe, homestay, dan vila dengan diiringi pemandangan yang menakjubkan. Persawahan, padi yang menghijau dan menguning, hijaunya pepohonan di lembah dan perbukitan. MasyaAllah indah di mata dan di hati. (Lihat foto-fotonya dibawah)

Sampailah kami di pertigaan Jannata Resort and Spa kemudian belok ke kiri. Menyusuri jalanan aspal satu-satu nya disana. Kalau di Google Maps, jalan itu bernama Jl. RSI Markandya II hingga ke RSI Markandya I. Jalan teruuuus hingga ketemu pertigaan dan belok kiri menyusuri Jl. Raya Campuhan. Hingga ketemu kembali dengan jembatan Campuhan dan turun kebawah menuju pelataran SMK Pariwisata Putra Bangsa.

Peta ke Bukit Cinta Campuhan Ubud

Kurang lebih 7,9 km jarak total hiking ini. Kata STRAVA aplikasi olahraga milik istri. Waw mrinding! Itu peta diatas bisa klik dan diperbesar. Bisa jadi panduan bagi yang belum pernah kesana.

Saya sempatkan diri kebawah menuju sungai yang debit air nya kecil. Berada dibawah jembatan Campuhan, ternyata masih bernuansa eksotis. Ada bebatuan dan ada semeton Bali sedang upacara di pinggir sungai. Ada Pura kecil di pinggir sungai itu.

Sungai di Bukit Cinta Campuhan Ubud

Keajaiban 3 butir batu kerikil

Saya sama Altaf jalan paling belakang. Anak saya nggak mood dari berangkat. Mecucu terus dan mengeluh. Tugas saya untuk semangati dia. Saya hibur dan beri edukasi bahwa hiking haruslah riang gembira dan berfikiran positif. Itu buat kuat tenaga kita. Yah namanya anak kecil (kelas 4 SD), mood itu datang dan pergi. Tibalah ujian itu datang. Ditengah perjalanan Altaf bilang:

Pi aku kebelet ngengek (Buang Air Besar)!” Duh …

Langsung saya bilang, “Tahan dek, bentar papi carikan 3 butir batu kerikil. Nah ini dapat, satu, dua, tiga. Nih pegang dan simpan di saku celana pendek mu. Itu akan hilangkan rasa kebelet ngengek mu.”

Altaf agak bengong sambil tanya ala Surabaya’an, “Hah iya ta?

Iya, papi dulu kalau kebelet ngengek langsung cari 3 batu kerikil dan simpan di saku celana. Jalan lagi dan mampet.” Jawab saya meyakinkan Altaf.

Yuk jalan lagi, nanti mampet!” ucap saya cepat. Dan kami jalan lagi sambil obrol dan nggak ingat lagi soal ngengek.

Hendra dan Altaf

Sesampai di tujuan Altaf saya tanya, “Masih kebelet ngengek dek?” Altaf bilang tidak dan juga merasa heran. Teman-teman istri pun tertawa dengar nya. Antara tak percaya dan merasa dejavu. Ya, cara ini sudah jadi rahasia umum untuk cegah rasa kebelet BAB di jalanan.

Sebenarnya ini cara diri mendapat sugesti dari batu kerikil tadi. Perintahkan syaraf-syaraf tubuh untuk menghentikan rasa mules.

Saya pribadi sih antara percaya dan tidak tapi faktanya berhasil lho. Dulu semasa kecil juga pakai cara itu dan berhasil. Altaf juga berhasil. Aneh tapi nyata wkwkwk.

Kejadian lucu pas waktu kami makan bersama di warung Nasi Kedewatan. Altaf sehabis makan kebelet ngengek bilang, “Pi aku kebelet ngengek, mana kerikilnya tadi?

Meledaklah tawa saya dan teman-teman! Kalau sudah ada toilet ya jangan ditahan. Kerikil itu dipakai jika kamu kebelet dan tidak ada toilet.

Dah sana dibelakang ada toilet. Keluarin sebanyak-banyaknya dah hahaha.” Perintah saya wkwkwk.

Alhamdulillah masih bisa berolahraga sambil berwisata selama pandemi corona covid-19 berlangsung. Salah satunya menjaga kewarasan juga siy 🙂

#bukitcinta #bukitcampuhan #bukitcintacampuhan #ubud

#WeLoveBali
#ILoveBali
#BaliSafe
#BaliAman
#WonderfulBali

#BukanPemerintah tapi #BoggerIndonesia dan #BaliBlogger

Bagikan Yuk

Comments are closed.