‘POLICIK’ Demokrasi Kebablasan

Seorang teman resmi minta menghapus status FB saya kemarin. Berisi dan bermuatan kasus nya dia. Salah satu pertimbangan harus dihapus, kawatir dipecat dari institusinya. Hanya karena dia beda pilihan calon presiden RI.

Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia yang berhasil membuat masyarakatnya bebas sampaikan pendapat. Indonesia juga sebagai negara muslim terbanyak di dunia. (Sumber Tempo)

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. (Sumber Wikipedia)

So, sekte demokrasi macam apa yang menimpa teman saya tadi ya?

Efek Pemilihan Umum di Indonesia

Saya mencoba merekam ‘ngeri’ nya efek pemilihan umum di Indonesia. Akibat beda pendapat calon pemimpin, pertemanan jadi perkelahian dan persaudaraan jadi permusuhan.

Dulu jaman kuliah bersahabat. Saling beri hutang dan bantu contekan. Giliran sekarang urusan politik jadi saling debat menghujat dan saling blokir.

Dulu mesra berkomunitas. Saling memuji dan menimba ilmu. Giliran urusan politik, beda pilihan, obrolan jadi melebar dan sensitif. Omongan keplintir dikit jadi baperan dan malas saling bertemu.

Hayo, apalagi coba efek politik pemilihan umum ini di sekitar Anda?

Pemilihan Berbasis Kultural

Salah satu warisan budaya di Indonesia adalah sifat ewuh pakewuh (sungkan, nggak enakan) kepada yang dituakan. Sungkan atau nggak enakan ini dalam batas normal akan meningkatkan tali silahturami dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Wow kok bisa?

Saya salut cara pemilihan Presiden/Ketua di dua organisasi ini yaitu Komunitas Tangan DiAtas (TDA) dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Mereka organisasi sah diakui oleh NKRI. (Sumber KemenkumHAM).

Pimpinan tidak dipilih oleh anggota. Tidak ada voting atau coblosan seperti PEMILU yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Para anggota hanya diminta pendapatnya soal pimpinan versi mereka. Keputusan jadi pemimpin ada ditangan para orang tua yang tergabung dalam sebuah majelis. Para orang tua itu bermusyawarah hingga memutuskan seorang pemimpin.

Tidak ada voting maka tidak ada kampanye-kampanye resmi dari kandidat. Tidak ada blok-blok-an, kubu-kubu-an. Tidak ada debat kusir antar pendukung. Tidak ada klaim saling benar/pembenaran satu sama lain. Karena pemilihan pemimpin jadi urusan majelis, maka anggota tunduk segala keputusannya. Adem kan?

Pemimpin ini terlahir untuk menjalankan amanah. Amanah dari anggota agar mengelola organisasi secara bertanggungjawab dan membawa berkah bersama.

Pemulihan Jadi Tanggung Jawab Siapa?

Kembali ke kehidupan politik di NKRI. Masyarakat masih terbelah secara psikis. Pergolakan nya seperti urusan memilih surga dan neraka saja. Padahal mereka belum mati! Tanggungjawab siapa untuk membuat mereka rukun kembali?

Kalau menurut saya, ada di diri kita masing-masing. Kita kembali ke konsep kultural ya. Jangan meminta negara. Prettt Mandul! Habis Ramadan ini kita ada Idul Fitri. Ada halal bihalal. Momentum untuk saling maaf memaafkan. Pergunakan dengan baik ya gaes! Leburkan disana ego-ego policik itu!

Gaes, pada akhirnya: “Saling memaafkan akan jadi urusan surga dan neraka :)”

“Mohon maaf lahir dan batin”
Hendra W Saputro

Bagikan Yuk

Comments are closed.