Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan – Bali

Setelah 13 tahun kemudian saya bisa mengulangi kembali trekking dari Danau Buyan membelah hutan Tamblingan, ketemu Danau Tamblingan dan kembali pulang ke Danau Buyan lagi. Berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2020 bersama istri tercinta Shinta Dyan K dan pasangan suami istri Om Decy dan Mbak Uci.

Hutan Tamblingan

Butuh waktu 6 jam pulang pergi dengan posisi awal (start) di parkiran Danau Buyan. Pukul 08.00 WITA berangkat dan kembali sampai di parkiran Danau Buyan pukul 14.00 WITA, menghasilkan 3 destinasi yang mrinding!

Peta Danau Buyan dan Danau Tamblingan

1. Ujung Barat Danau Buyan

Posisi berangkat bisa dikatakan berada di pertengahan Danau Buyan. Trekking masuk hutan yang pepohonannya rapi seperti di perkebunan. Mungkin usianya baru puluhan tahun tapi cukup rapat jaraknya. Kesan gelab syahdu cukup terasa disini.

Sempat keluar hutan sejenak untuk bertemu padang rumput luas. Dulu biasanya dipakai spot untuk event tertentu. 13 tahun silam pernah lewat situ banyak tenda-tenda besar ukuran barak tentara. Spot ini namanya Camping Ground Buyan II.

Masuk lagi hutan yang komposisi pohon nya masih sama berbaris rapi hasil settingan manusia hehehe. Mungkin ulah dinas kehutanan ya. Mulailah ketemu sama indukan ayam dan anak-anaknya. Cukup aneh kok ada di hutan. Ternyata disekitaran situ ada rumah penduduk. Cuma satu aja. MasyaAllah bisa juga hidup ya. Jauh banget dari keramaian.

Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan

Melewati rumah itu disertai lolongan anjing. Maklum lah si anjing ketemu orang asing. Si pemilik rumah berusaha mendiamkannya. Ada satu anjing yang rupanya jinak mengikuti kami untuk menikmati ujung barat Danau Buyan. Ada bebatuan disana yang instagramable. Eksotis lah! Bikin konten lah kita hehehe.

2. Danau Tamblingan Sisi Tengah

Perjalanan berlanjut masuk hutan yang berisi pohon-pohon super besar. Ya, seperti tempat yang tak terjamah manusia. Diameter pohon ada yang seukuran 4 hingga 10 orang yang berjajar. AllahuAkbar!

Pohon di Hutan Tamblingan

Cukup lama membelah hutan ini dan keluar di Pura Dalem Tamblingan. Kalau lihat di Google Maps, letak pura ini di sisi tengah danau. Kami turun dan menyusuri pinggiran danau.

Terdapat gubung-gubung dengan pondasi tinggi dari kayu di pinggiran danau. Sempat menebak sendiri fungsinya. Mungkin untuk upacara. Tebakan saya salah!

Untung ada pemancing disitu dan saya tanya fungsi gubug itu. Ternyata untuk memancing jikalau air danau pasang. Debit air tinggi bila musim penghujan datang. Wah saat ini sudah masuk musim penghujan.

Cukup jauh kami menyisiri pinggir danau tersebut. Saya mikir apakah pulang nya bakal balik lagi gunakan jalur Pura Dalem tadi? Saya ajak Om Decy pimpinan trekking untuk menjajal rute baru. Kebetulan hasil penyisiran menemukan celah jalan naik keatas.

Tapi kami istirahat dulu menikmati keberhasilan sampai di Danau Tamblingan. Setelah merenung, jeprat-jepret bikin konten, kami langsung naik keatas. Tak jauh dari tempat istirahat tadi ada celah untuk naik keatas.

3. Danau Tamblingan Sisi Timur

Allah Maha Keren! Ajakan saya tepat. Jalur baru tadi ternyata pernah kita lewati sebelumnya. Lumayan bisa memotong jarak dan waktu. Alhamdulillah.

Hutan Tamblingan

Om Decy menawarkan untuk naik bukit melihat kedua danau. Kami ambil arah yang berbeda dari jalur pulang. Eh ternyata bertemu Pura Ulun Danu Tamblingan!

Pura ini pernah saya kunjungi bersama teman-teman Bali Outbound 13 tahun silam. Saya bilang ke Om Decy bahwa dibawahnya ada jalan menuju danau lagi. Akhirnya kita turun dan menikmati sisi timur Danau Tamblingan. Lebih syahdu disitu.

Danau Tamblingan

Mungkin 30 menit kami disitu dan konsentrasi agak buyar karena salah satu dari kami merasakan rintik air dari atas. Ya, bakal hujan!

Benarlah hujan. Kami pulang diguyur air dari langit. Untung bawa jas hujan.

Trekking kali ini penuh tantangan! Saya bersyukur masih hidup. Waaaa. Bagi yang membaca tulisan ini dan trekking di musim-musim penghujan, hati-hati pacet dan ular! Mereka suka dengan yang lembab-lembab.

Diawal perjalanan memasuki hutan, saya sempat bilang ke rombongan kalau trekking disini kayaknya cocok untuk family termasuk anak-anak. Mohon maaf akhirnya saya cabut. Jika berbanyak, mungkin lebih dari 10 orang, berpotensi membangunkan ular. Bersepatu dan berkaus kaki pun tidak jaminan bebas pacet. Bisa masuk!

Trekking yang cocok untuk family dan anak-anak hanyalah sebatas Camping Ground Buyan II saja. Selebihnya harus punya persiapan dan bekal khusus.

Satu lagi, tantangannya adalah tersesat. Tidak ada penunjuk arah dalam hutan sana. Banyak persimpangan. Om Decy sebagai penunjuk jalan berbekal pengalaman pernah bersepeda disana. Kemudian dia bawa alat penunjuk arah (Garmin). Itupun masih tersesat hehehe. Ikhlaaaas hehehe.

Ya Allah terima kasih atas keselamatan yang Engkau berikan kepada kami.

Tonton aja video saya ya. Cukup mewakili tulisan saya kecuali pacet dan ular hehehe.

#danaubuyan #danautamblingan #hutantamblingan

#WeLoveBali
#ILoveBali
#BaliSafe
#BaliAman
#WonderfulBali

#BukanPemerintah tapi #BoggerIndonesia dan #BaliBlogger

Bagikan Yuk

Comments are closed.