Wanita perokok dan minum bir

Indonesia, dari pedesaan sampai perkotaan, kita terbiasa melihat mayoritas kaum pria merokok. Bagaimana dengan nge-bir ?. Kesukaan pada minuman bir (spt bir bintang, heinekken, guiness, budweiser, dll) mayoritas bisa dijumpai di lingkungan perkotaan. Tapi jika di Bali, minum bir sudah membudaya di kaum pria dari pedesaan sampai perkotaan. Kegiatan minum bir-pun tidak bisa lepas dari merokok.

Bagimanakah dengan wanita/perempuan perokok ?. Bahkan diselingi dengan minum bir ?. Apakah kaum wanita penekun kegiatan tersebut banyak dijumpai di pedesaan ?. Saya pikir kaum wanita tersebut banyak dijumpai di perkotaan saja. Sedangkan di pedesaan hampir tidak ada. Apakah yang terjadi kemudian dalam lingkungan kita ?.

Bagaimanakah sintesis terhadap wanita perokok dan minum bir ? Pendekatan apa yang akan digunakan dalam menilai mereka (wanita) ?. Saya kira, kita tidak akan berdebat panjang lebar ketika mengetahui para pria doyan merokok dan minum bir. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan akan dinilai lumrah.

Berbicara mengenai unsur penilaian, yang mungkin diambil adalah secara subyektif dan obyektif. Subyektif-pun sepertinya akan bercabang lagi menjadi subyektif sempit dan meluas. Saya pikir, kita harus melatih diri untuk belajar menganalisa dan menilai terhadap fenomena ini. Meski itu tidak menghasilkan pendapat mutlak benar ataupun salah.

Ok, saya akan mulai menurut versi diri pribadi. Manusia (pria dan wanita) menjadi individu bebas ketika hidup di dunia. Tempaan pendidikan dari orang tua, lingkungan, pesantren, lembaga agama, dan sekolah formal akan menjadi content logic bagi manusia itu untuk memutuskan dan berbuat dalam hidupnya.

Subyektifitas sempit akan mengatakan bahwa wanita perokok dan suka minum bir adalah tabu atau kurang pantas dilakukan. Pikiran ini lekat dengan tradisi budaya tradisional yang menghakimi bahwa perempuan tersebut ‘nakal’. Saya hanya cukup tahu saja dan menyimpannya bahwa hal tersebut tidak selamanya benar.

Subyektifitas luas mengatakan bahwa, dengan content logic yang ada, wanita itu jelas punya pengetahuan efek samping dari merokok dan minum bir. Jadi, kebiasaan tersebut adalah suatu pilihan, seperti hidup ini adalah sebuah pilihan. ‘Nakal’ atau baik-baik itu tidak bisa dilihat dari kebiasaan tersebut. Kebiasaan tersebut relasinya pada kesehatan, bukan pada hati dan rasa manusia. Ryan Jombang (tukang jagal manusia) punya kebiasaan mengaji dan menjadi guru ngaji (mempertebal moral keimanan hati), tapi kegiatan itu bukan jaminan menjadikan dia baik. Look what he had done ?

Jika saya menilai dari obyektifitas, wanita perokok dan minum bir mungkin banyak dijumpai di perkotaan. Budaya masyarakat urban terkenal dengan individualis/cuek, bebas, dan tercerahkan oleh faham kesetaraan gender. Pria dan wanita adalah setara memiliki kehendak bebas atas hidup mereka. Jika pria saja merokok dan minum bir, kenapa wanita tidak boleh ?. Merokok dan bir berpengaruh langsung kepada fungsi-fungsi organ tubuh manusia. Perusahaan rokok sendiri sudah mengakui dan mencantumkan kalimat di bungkusnya bahwa “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”. Di bungkus itu tidak mencantumkan kalimat bahwa merokok bisa merusak moral manusia menjadi biadab. Jadi secara obyektif, pria dan wanita sama dalam memutuskan hal terbaik bagi hidupnya. Termasuk keputusan untuk merokok dan minum bir.

Sebetulnya masih banyak menilai wanita perokok dan minum bir ini dari sudut pandang lain. Misalkan Agama. Tapi, saya tidak membawa agama dalam bahasan ini. Tapi lebih kepada dampak dalam berinteraksi di lingkungannya. Dalam agama sudah jelas dan mengikat bahwa kegiatan yang merusak tubuh sendiri adalah tidak benar. Baik itu pria dan wanitanya.

Bagaimana menurut Anda ?.

Merdeka.com: Berita Indonesia | Peristiwa | Politik | Jakarta | Uang | Dunia

Ayo share

Bagikan Yuk