INDIKATOR, Lembaga Riset Opini Publik Independen Indonesia kontak Saya 6 Oktober 2026 via Whatsapp. Mereka meminta Saya menjadi juri expert panel pada kategori Tokoh Pemberdayaann UMKM Indonesia, untuk sebuah kegiatan penghargaan (awards) dari Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI).
PIKI akan menyelenggarakan PIKI Awards 2026, sebuah penghargaan yang memberikan pengakuan publik kepada tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi kehidupan berbangsa pada delapan kategori: Toleransi, Lingkungan, Pemberdayaan UMKM, Anti-Korupsi, Pendidikan, Kesehatan, Riset dan Inovasi, serta Budaya.
Saya Islam tapi PIKI kan Kristen
Sekelebat terlintas pikiran itu. Apakah Saya yang Islam ini boleh aksi untuk lembaga Kristen? Ini sikap saya:
Menerima undangan sebagai juri ahli dalam acara PIKI Awards 2026 tidak melanggar syariat Islam, karena kegiatan tersebut termasuk dalam ranah muamalah (interaksi sosial dan urusan duniawi) yang diperbolehkan. Dalam Islam, seorang Muslim diizinkan bekerja sama dengan umat beragama lain dalam hal kebaikan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat, selama tidak melibatkan unsur ritual ibadah atau akidah agama lain.
Let’s Go! Saya lakukan penjurian secara profesional!
INDIKATOR memberikan saya dokumen berisi identitas, profil dan prestasi kandidat. Kemudian diberi juga Term Of References penjurian sesuai aturan mereka.
Mau lihat para kandidat Tokoh Pemberdayaan UMKM Indonesia versi PIKI? Silakan klik buka/download.
Saya publikasikan penjurian ini karena penghargaan akan disampaikan dan ditayangkan di Live MetroTV, Minggu 25 Oktober 2026. Saya menulis ini Minggu, 25 Oktober 2026. Jadi, sesuai timeline INDIKATOR, harusnya mereka sudah finalisasi skor dari 240 juri dan menetapkan pemenangnya. Maka dibawah hasil penelitian para kandidat satu persatu dan hasil analisanya, skor saya kaburkan karena itu rahasia namun tidak ada larangan untuk publikasikan hasil analisa penjurian.
1. Djokas Siburian, S.E.
– Dampak: Memfasilitasi pelatihan vokasi 40 UMKM dan seminar 250 mitra di Jambi.
– Integritas: Etis dengan tidak mengklaim pendanaan CSR sebagai keberhasilan politik pribadi.
– Keberlanjutan: Mendirikan kelembagaan Kenara Institute sebagai ruang publik.
– Kepeloporan: Inovatif di tingkat lokal menggagas Festival Paguyuban Mie.
2. Pnt. Eddy Misero
– Dampak: Advokasi struktural nasional seperti kebijakan penurunan ambang batas PPh UMKM.
– Integritas: Berani mengkritik literasi digital pelaku usaha sendiri demi growth mindset.
– Keberlanjutan: Perjuangan melembaga melalui Akumindo.
– Kepeloporan: Memelopori kolaborasi dengan industri fintech.
3. Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna)
– Dampak: Skala penciptaan lapangan kerja dan serapan produk lokal luar biasa besar.
– Integritas: Etos kerja kuat merintis dari usaha konveksi kecil hingga ekosistem raksasa.
– Keberlanjutan: Kokoh berdiri sejak 2007 dan tidak bergantung penuh pada figur tunggal.
– Kepeloporan: Pionir sentra pemasaran pariwisata yang mengintegrasikan ratusan UMKM.
4. Ir. H. Irwan Bachri Syam, S.T., IPM.
– Dampak: Membentuk 128 Koperasi Merah Putih dan 15 desa Kampung Pangan Adhyaksa.
– Integritas: Diakui objektif melalui BDS Impact Award 2026.
– Keberlanjutan: Pendekatan sistemik terintegrasi dengan kebijakan pemerintah daerah.
– Kepeloporan: Merintis kemandirian pangan/koperasi di wilayah tambang ekstraktif.
5. Dr. Lasti Nur Satiani, S.S., M.Pd.
– Dampak: Dampak riil ekonomi kelurahan via pendampingan Kelompok Sadar Wisata.
– Integritas: Menerjemahkan teori akademik menjadi aksi pengabdian masyarakat.
– Keberlanjutan: Pendekatan terdokumentasi dalam publikasi ilmiah agar bisa direplikasi.
– Kepeloporan: Penggerak komite ekonomi kreatif pertama di Salatiga.
6. Marthella Rivera Roidatua Sirait
– Dampak: Pelatihan spesifik literasi keuangan bagi kelompok disabilitas (PESTA INKLUSIF).
– Integritas: Rela melepas kenyamanan status ASN demi fokus di isu rentan.
– Keberlanjutan: Membangun yayasan Konekin dan katalog digital berkelanjutan.
– Kepeloporan: Membuka akses tenaga kerja UMKM disabilitas ke kawasan industri.
7. Ir. Rajumi Sitompul, M.M., M.Min.
– Dampak: Berskala mikro (pelatihan vokasi seminggu untuk mahasiswa teologi).
– Integritas: Visi luhur mendorong kemandirian finansial pelayan gereja.
– Keberlanjutan: Bersifat ad-hoc tanpa pembentukan ekosistem pasar jangka panjang.
– Kepeloporan: Memadukan ilmu manajemen praktis dengan kurikulum teologi.
8. Dr. Sellvyana Sangkek, S.E., M.Si.
– Dampak: Bantuan Rp2,3 Miliar untuk 492 UMKM dan validasi 2.127 UMKM OAP.
– Integritas: Berorientasi pada perubahan nasib keluarga, bukan sekadar penyerapan anggaran.
– Keberlanjutan: Infrastruktur fisik nyata (Pasar Mama-Mama) dan basis data terstruktur.
– Kepeloporan: Kebijakan afirmatif berbasis gender di provinsi Papua Barat Daya.
9. Pdt. Suenita br Sinulingga, M.Th
– Dampak: Memobilisasi kesadaran partisipasi perempuan dalam UMKM.
– Integritas: Mentransformasi komisi kerohanian menjadi wadah anti kekerasan gender.
– Keberlanjutan: Dukungan infrastruktur organisasi Moria GBKP se-Sumatera Utara.
– Kepeloporan: Memposisikan komisi agama sebagai mitra strategis pemda.
Kesimpulan dan Rekomendasi Utama
Mengingat tujuan utama dari pemberdayaan UMKM adalah membangun usaha yang mandiri secara ekonomi, berdaya saing tinggi, dan berkelanjutan, maka rekomendasi utama Saya jatuhkan kepada:
Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna), dengan argumentasi pemilihan:
1. Menciptakan Kemandirian Ekonomi Riil: Pelaku usaha tidak bergantung pada hibah/APBD, melainkan terserap oleh ekosistem swasta (market off-taker) yang mendidik mereka hidup dari transaksi pasar murni.
2. Mendorong Peningkatan Daya Saing: Produk UMKM bersaing langsung di pasar pariwisata terbuka, memaksa produsen lokal menaikkan standar mutu, kemasan, dan pasokan secara alami.
3. Keberlanjutan Jangka Panjang: Tidak rentan terhadap pergantian masa jabatan politik/birokrasi. Ekosistem komersial ini telah teruji daya tahannya sejak tahun 2007 hingga pasca-pandemi.
Saya berpandangan bahwa masalah klasik di UMKM adalah:
1. Sales, bingung memasarkan.
2. Produk, bingung membuat produk yang konsisten dan ngangenin
3. Finansial, tercampurnya keuangan pribadi dan bisnis kerap membuat kehabisan modal
4. Manajemen, semua ditangani sendiri, bingung membagi peranan
Namun top problem adalah Sales. Kadang produk sudah oke, finansial oke, manajemen oke namun kebingungan atas target pasar, kondisi ekonomi makro, faktor kreativitas dalam hal memasarkan.
Produk yang biasa saja dengan pemasaran yang luar biasa seringkali bisa bertahan lebih lama di pasar dibandingkan produk brilian yang tidak diketahui oleh siapa pun. Arus kas dari penjualan adalah oksigen bagi UMKM. Ketika penjualan mengalir deras, keuntungan tersebut membeli “waktu” dan “sumber daya” bagi pemilik usaha untuk perlahan membenahi kualitas produk, merapikan pembukuan finansial, dan merekrut tim untuk mendelegasikan manajemen operasional.
Maka Ajik Krisna mampu memberikan kepastian “oksigen” Sales untuk UMKM tetap berdaya. Dengan Sales, para UMKM mampu rekrut karyawan untuk keberlangsungan mutu produk, tertib keuangan, dan manajerial operasional.
Pihak INDIKATOR bertanya kepada Saya tentang Ajik Krisna, “Apakah Pak Hendra secara personal kenal dengan Ajik Krisna?”
Saya jawab, “Secara personal saya belum kenal. Namun Saya tahu secara umum kiprah Ajik Krisna. Terkenal di Bali.”
Semoga bermanfaat!
Dokumen Hasil Penjurian
Bagikan Yuk







