Kalau hidup tujuannya bahagia, kenapa justru para nabi yang hidupnya paling berat ujiannya? TURUNKAN EKSEPEKTASIMU Sekarang juga … Hidup Capek bukan karena ujiannya. Tapi ekspektasi ketinggian dalam hidup…
Ini seuprit ringkasan kajian Syamella One Day Class bersama Ustadz Oemar Mitha, ada 5 pelajaran yang pelan-pelan meluruskan cara pandang saya 👇
1️⃣ 🎯 Tujuan Hidup Bukan Bahagia, Tapi Ibadah
Kalau bahagia adalah tujuan utama, harusnya dunia ini terasa ringan. Nyatanya tidak.
Kata Bahagia hanya muncul 1X didalam QUran. Saat menceritakan Experience Surga.
Lalu dunia untuk apa?
Untuk beribadah.
Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Sejak ini jelas, satu hal berubah: hidup tak lagi dituntut nyaman, tapi bermakna.
2️⃣ 🔄Dunia Itu Bukan Zona Nyaman, Tapi Zona Ujian
Dunia bukan dari tenang → tenang.
Tapi dari ujian → ujian berikutnya.
Kadang ujian bentuknya kegagalan.
Kadang justru tercapai.
Menariknya, bagi orang beriman:
* Keinginan tercapai → rahmat
* Keinginan gagal → hikmah
Dua-duanya untung. Yang bikin capek itu bukan ujiannya, tapi berharap hidup tanpa ujian.
3️⃣ 👨👩👧👦 Keluarga Bukan Jaminan Tenang, Tapi Ladang Iman
Ini bagian yang paling sering bikin kecewa. Kita berharap: keluarga = tempat paling aman.
Padahal para nabi & orang beriman justru diuji dari keluarga.
Padahal para nabi justru paling banyak diuji dari keluarga:
* Nabi Ibrahim ‘alaihis salam → ditentang ayahnya sendiri.
* Nabi Nuh ‘alaihis salam → kehilangan anaknya dalam kekafiran.
* Asiyah binti Muzahim → hidup dengan suami paling zalim (Fir‘aun).
* Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam → diuji oleh anak-anaknya sendiri.
* Nabi Muhammad ﷺ → dimusuhi keluarga terdekat (Abu Jahl & Abu Lahab).
Sejak ekspektasi ini diturunkan:
* Kita berhenti menuntut keluarga sempurna
* Kita mulai bertanya: “Saya sedang diuji di level apa?”
4️⃣ 🌿 Kenapa Semua Dibuat Sulit?
Supaya hati tidak betah di dunia.
Supaya orang beriman:
* rindu pada surga,
* kangen pada tempat tanpa ujian,
* dan tidak salah alamat berharap.
Kalau dunia terlalu nyaman, kita tak akan pernah ingin pulang.
Terus apa lagi solusinya.
5️⃣ Surah Yusuf = Obat Hati yang Sedih.
Ada satu fase dalam hidup Rasulullah ﷺ
yang disebut ‘Āmul Ḥuzni — tahun kesedihan.
Orang terdekat wafat. Perlindungan hilang. Ditolak, diusir, dilukai.
Di titik itulah Surah Yusuf diturunkan.
Seolah Allah berbisik:
“Engkau tidak sendiri. Para nabi sebelum engkau pun diuji panjang.”
Surah Yusuf bukan cuma kisah. Ia obat hati.
Bukan mengajarkan:
“Kenapa Allah menakdirkan ini?”
Tapi: “Bagaimana seorang hamba merespons takdir.”
Dan dari sudut pandang Nabi Ya‘qub, kita belajar satu hal mahal:
Sabar bukan karena tak sakit, tapi karena yakin siapa yang mengatur.
Tulisan Mas Dody Zulkifly
Bagikan Yuk






