Ajakan Menumbuhkan Budaya Malu Ya Akhirnya Malu-Malu’in

Kata-kata [negatif] itu mengirim pesan ke otak dan menutup sebagian pusat logika dan penalaran yang terletak di lobus frontal,” kata Newberg dan Waldman (Peneliti perubahan otak).

Lanjut lagi, persepsi diri yang negatif akan mendorong seseorang untuk bersikap penuh curiga dan ragu-ragu.

Secara sadar perkataan tersebut membuat mental manusia down dan patah semangat, secara tidak sadar perkataan itu pun berpengaruh pada otak, alam bawah sadar dan organ-organ di tubuh. Membuat manusia semakin tidak bisa, merasa lemah dan putus asa.

Bagaimana jika manusia merubah perkataan tersebut dengan positif ?

Penulis yang mendasari tulisannya dengan penelitian ini memaparkan, kata-kata positif seperti “cinta” dan “damai” bisa mengubah ekspresi gen, memperkuat area di lobus frontal, dan meningkatkan fungsi kognitif otak. Kata positif mendorong pusat motivasi di otak untuk melakukan tindakan.

Pada gambar papan yang biasanya ditempel di sekolah-sekolah, gimana kalau merubahnya menjadi:

Tumbuhkan Mental Ksatria
1. Selalu datang tepat waktu.
2. Sibukkan diri melakukan aktivitas positif.
3. Taat peraturan.
4. Selalu berbuat benar.
5. Tekun belajar kejar prestasi.
6. Selesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu.
7. Inisiatif jaga kebersihan lingkungan sekolah.
8. Menghormati guru dan staf sekolah.
9. Mengharumkan nama sekolah dan bangsa Indonesia.
10. Berkepribadian senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Poin 8, 9, dan 10 ide tambahan saja. Bisa jadi para generasi bangsa jadi ksatria ?

Budaya Telat

Sering telat dan itu dah biasa? Ya itulah di Indonesia, para masyarakat +62. Undangan jam 08.00 eh datang nya 08.30. Masih saja PD datang jam 09.00. Merasakah bersalah? Tidak, itu sudah biasa! Apakah merasa malu? Ya enggak lah, dah biasa. Perlu minta maafkah karena telat? Lho yang telat kan juga buanyak, ngapain ada rasa salah?

Maka masihkah efektif kalimat “tumbuhkan budaya malu itu?”

Saya pernah hadiri undangan meeting pelanggan saya asal Jepang. Saya telat 5 menit! Didalam ruangan meeting sudah menunggu 2 warga negara Jepang. Tampak keduanya berdiri sambut saya dan tak lupa saya nyengir sambil minta maaf karena telat. Jawab pelanggan saya gini, “Hendura, di Jepang, terlambat 5 minutes, no bisnis,” ucap salah satu dari mereka dengan nada datar, dengan tatapan mata seperti di film-film kartun Jepang itu.

Wallahu A’lam Bisshowab

Bagikan Yuk

Comments are closed.