Asal Usul Sejarah Orang dan Hindu Bali

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Aku ini tinggal di Bali sejak 1996 dan sudah jadi warga Bali, tapi pengetahuanku soal sejarah Bali masih perlu dipertajam lagi. Dibawah ini adalah sumber dari berbagai website dan komentar yang kukumpulkan untuk tujuan dokumentasi diri pribadi. Juga akan menyertakan sumber nya dibawah sana. Sudah kubaca dan semoga yang mampir disini juga menemukan sesuatu yang menarik dan bermanfaat. Jika dirasa tulisan ini kurang atau keliru menurut versi sejarah yang dianut, mohon maaf dan terbuka untuk koreksi/menambahkannya dibawah sana.

Menurut I Wayan Kaler, peradaban di Bali ada 3 periode :

1. Bali Mula
Yaitu Bali yang belum mendapat pengaruh dari luar, dimana masyarakat Bali lebih banyak melakukan ritual untuk menyembah leluhur. Perdaban Bali Mula masih ada sampai sekarang di desa Tenganan Pegringsingan, desa Trunyan dll, dimana di Desa tersebut Dewa yang disembah berbeda dengan Dewa dewa di luar desa tersebut
Sampai sekarang.

2. Bali Aga ( awal masehi )
Yaitu. Sewaktu Rsi Markandia dari India Datang ke Bali, yang mana sebelum Beliau Ke Bali, Beliau bertapa di suatu gunung di Jawa timur dan mengajak Suku Aga dari Jawa Timur untuk membuka hutan di Besakih ( Gunung Agung ). Orang Bali Aga sekarang Kebanyakan tinggal di pegunungan dan daerah lainnya di Bali.

3. Bali Majapahit ( 1300 Masehi )
Yaitu sewaktu sebelum dan sesudah Ekspedisi Gajah Mada ke Bali. Dan Gelombang kedua adalah sewaktu runtuhnya Majapahit.

Waktu. Jatuhnya kerajaan Bedahulu, Bali tahun 1343, Gajah Mada, Arya Damar dll balik ke Majapahit. Sedangkan Panglima perang yaitu para Arya seperti Arya Kenceng, Arya Sentong dll tetap di Bali dan dikasi rakyat dan daerah kekkuasaan di beberapa daerah di Bali. Sedangkan yang diangkat sebagai Raja di Bali adalah Sri Dalem Ketut Kresna Kepakisan dari Jawa. Keturunan Beliau yang menjadi raja sekarang adalah bergelar Ida Dalem Semaraputra yang beristana di Puri Agung Klungkung, sebelah uatara Kerta Gosa. Mungkin Bapak ( Bapak Raden ? ) Masih ada hubungan dengan Beliau.

Hubungan Jawa Bali memang tidak habis habisnya untuk dibahas, karena sekarang Orang Bali lagi bersemangat mencari jejak leluhur di Jawa dan saya tidak tahu apakah Orang Jawa juga demikian.

Percampuran Jawa Bali melahirkan Tokoh tokoh besar Nusantara yaitu ;

MAHA RAJA AIRLANGGA
Keturan Raja Udayana ( Dinasti Warmadewa Bali ) dan Gunapria Dharmapatni ( Putri Darmawangsa Teguh raja Kahuripan Jawa Timur ) . Dimana semasa pemerintahan beliau menghasilkan karya Sastra, sistim irigasi dan menurunkan Raja raja yang besar.

RADEN ARYA WIRARAJA
Putra Manik Angkeran dari Bali dengan Putri Empu Pinatih dari Jawa timur. Beliau adalah Pahlawan besar di Pemekasan dan Lumajang. Keturunan Beliau di Bali dikenal dengan Arya Wang Bang Pinatih yang sekarang menjalin hubungan denngan keturunan Beliau di Jawa.

RATU TRIBUANA TUNGGADEWI
Keturunan Raden Wijaya dengan seorang Putri dari Bangli, Bali yang bernama Tri Buana.

UNTUNG SURAPATI
Seorang Budak dari Bali yang sebenarnya keturunan bangsawan Bali yaitu I Gusti Ngurah Jekantik ( keturunan Arya Kepakisan VI ). Beliau kawin dengan beberapa Putri Bangsawan Jawa dan melahirkan Pahlawan Pahlawan jaman Penjajahan Belanda.

BUNG KARNO
Ibunya adalah seorang putri Brahmana dari Buleleng Bali dan ayah beliau adalah keturunan Bangsawan Jawa. Siapa yang tidak kenal Bung Karno.

Saya yakin, banyak saudara saaudara Bapak di Bali. Dan memang benar apa kata Sopir Taxi, bahwa sebagian besar leluhur orang Bali tertulis di Lontar ( Babad / Prasasti ) dan dipuja seperti memuja Dewa Dewi. Dan orang Bali tahu betul asal leluhurnya di Jawa kalau memang leluhurnya dari Jawa.

Asal-Usul Bali dan Pura Besakih (Maha Rsi Markandeya dan Orang Bali Aga)

Orang-orang keturunan Austronesia telah menyebar di seluruh wilayah Bali. Mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan Jro-jronya (pemimpin-pemimpinnya masing-masing). Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali mereka adalah Orang Bali Mula, dan mereka dikenal dengan nama Pasek Bali.

Ketika itu, orang-orang Bali mula belum menganut Agama, mereka hanya menyembah leluhur yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, kondisi spiritual masyarakat Bali pada saat itu masih kosong. Keadaan yang demikan ini berlangsung hingga awal tarih masehi kurang lebih sekitar abad pertama masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian maka mulailah berdatangan orang-orang dari luar Bali ke pulau ini. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Untuk hal tersebut datanglah seorang rsi ke Bali yang bernama Maharsi Markandeya.

Menurut sumber–sumber berupa lontar, sastra, dan purana, Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan sebagai berikut dalam Markandeya Purana, “Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu” yang artinya “sang yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”. Dari data-data yang di dapatkan nama Markandeya bukan nama perorarangan, melainkan adalah nama perguruan atau nama pasraman seperti halnya juga nama Agastya. Perguruan atau pasraman adalah lembaga yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran dari guru-guru sebelumnya. Kebiasaan secara tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan tradisi dari guru sebelumnya, yaitu dari guru ke murid dan seterusnya. Garis perguruan turun temurun ini di sebut Parampara, dan tiap-tiap parampara menyusun pokok-pokok ajarannya, dari parampara yang telah mengangkat guru dan murid untuk melanjutkan garis perguruan ini dinamakan Sampradaya. Dari tiap-tiap sampradaya menyusun pokok-pokok ajarannya dari sumber-sumber yaitu, Catur Weda, Purana, Upanisad, Wedanta Sutra, dan Itihasa. Walaupun memiliki pandangan yang berbeda, namun mereka mengambilnya dari Weda dengan tradisi turun-temurun yang sama dalam menafsirkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran di dalam Weda. Demikian akhirnya, pustaka-pustaka suci tersebut disebarkan, dimana di antaranya adalah Markandeya Purana, Garuda Purana, Siva Purana, Vayu purana, Visnu Purana dan lain sebagainya. Bahkan dari tiap generasi ke generasi terdapat nama diksa (inisiasi) yang sama dengan nama pendahulunya. Jadi sang Maharsi Markandeya adalah seorang rsi dari garis perguruan yang namanya sama dengan nama pendahulunya di India, beliau datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu).

Ketika tiba di Indonesia, Maharsi Markandeya berasrama di wilayah Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Lalu beliau ber-dharmayatra ke arah timur, dan tibalah di Gunung Raung, Jawa Timur. Disini beliau membuka pasraman dimana beliau di dampingi oleh murid-murid beliau yang di sebut Wong Aga (orang-orang pilihan). Beberapa tahun kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke timur, tepatnya ke pulau Bali yang ketika itu masih kosong secara spiritual. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, beliau juga ingin mengajarkan teknik-teknik pertanian secara teratur, bendungan atau sistem irigasi, peralatan untuk yajna dan lain-lain. Perjalanan beliau diiringi oleh 800 orang murid-muridnya.

Saat datang pertama kali ke Bali, beliau datang ke Gunung Tohlangkir. Disana beliau dan murid-muridnya merabas hutan untuk lahan pertanian, tetapi sayangnya banyak murid-muridnya terkena penyakit aneh tanpa sebab, ada juga yang meninggal diterkam binatang buas seperti mranggi (macan), ada yang hilang tanpa jejak, bahkan ada yang gila. Melihat keadaan demikian, Maharsi Markandeya memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung, lalu beliau beryoga untuk mengetahui bencana yang menimpa murid-muridnya ketika ke Bali. Akhirnya beliau mendapatkan petunjuk bahwa terjadinye bencana tersebut adalah karena beliau tidak melaksanakan yajna sebelum membuka hutan itu.

Setelah mendapatkan petunjuk, Maharsi Markandeya kembali lagi datang ke Bali tepatnya ke Gunung Tohlangkir. Kali ini beliau hanya mengajak 400 orang muridnya. Tapi sebelum merabas hutan dan kembali mengambil pekerjaan sebelumnya, Maharsi Markandeya melakukan upacara ritual, berupa yajna, agni hotra, dan menanam panca datu di lereng Gunung Tohlangkir, Nyomia, dan upacara Waliksumpah untuk menyucikan dan mengharmoniskan tempat tersebut. Demikianlah akhirnya semua pengikut beliau selamat tanpa kurang satu apapun. Oleh karena itu, Maharsi Markandeya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki, kemudian berkembang menjadi nama Basukian dan dalam perkembangan selanjutnya orang-orang menyebut tempat ini dengan nama Basuki yang artinya keselamatan. Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau menaman panca datu akhirnya di dirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Besakih. Dan Maharsi Markandeya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama Gunung Agung. Tidak hanya itu saja, Maharsi Markandeya akhirnya menamakan pulau ini dengan nama Wali yang berarti persembahan atau korban suci,  dan dikemudian hari dikenal dengan nama Bali Dwipa atau sekarang dikenal dengan nama Bali, dimana semua akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna atau korban suci. Setelah beberapa tahun lamanya beliau akhirnya menuju arah barat untuk melanjutkan perjalanan dan sampai di suatu daerah datar dan luas, sekaligus hutan yang sangat lebat. Disanalah beliau dan murid-muridnya merebas hutan. Wilayah yang datar dan luas itu dinamakan Puwakan, kemudian dari kata puakan berubah menjadi Kasuwakan, lalu menjadi Suwakan dan akhirnya menjadi Subak.

Di tempat ini beliau menanam berbagai jenis pangan dan semuanya bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat ini di namakan Sarwada yang artinya serba ada. Karena keadaan ini dapat terjadi karena kehendak Tuhan lewat perantara sang maharsi. Kehendak bahasa Balinya kahyun, kayu bahasa sansekertanya taru, kemudian dari kata taru tempat ini dikenal dengan nama Taro dikemudian hari, yang terletak di kabupaten Gianyar. Di wilayah ini Maharsi Markandeya mendirikan pura sebagai kenangan terhadap pasramannya di gunung raung. Pura ini dinamakan Pura Gunung Raung, bahkan hingga saat ini di bukit tempat beliau beryoga juga di dirikan sebuah pura yang kemudian dinamakan Pura Luhur Payogan, yang letaknya di Campuan, Ubud. Pura ini juga disebut pura Gunung Lebah. Selanjutnya Mahasri Markandeya pergi ke arah barat dari arah Payogan dan kemudian membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa, sedangkan wilayahnya dan sebagainya di beri nama Parahyangan kemudian orang-orang menyebutnya dengan sebutan Pahyangan. Dan sekarang tempat tersebut dikenal dengan Payangan.

Orang-orang Aga, murid-murid maha rsi markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau, mereka membaur dengan orang-orang Bali mula, bertani dan bercocok tanam dengan cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh Maharsi Markanadeya. Dengan cara demikian terjadilah pembauran orang-orang Bali mula dan orang-orang Aga, kemudian dari pembauran ini mereka dikenal dengan nama Bali Aga yang berarti pembauran penduduk bali mula dengan orang-orang aga, murid Maharsi Markandeya,  dengan adanya hal ini, maka Hindu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali mula ketika itu. Sebagai rohaniawan (pandita) orang-orang Bali Aga dimana Maharsi Markandeya menjadi pendirinya, maka orang-orang Bali Aga dikenal dengan nama Warga Bhujangga Waisnava.

Dalam jaman kerajaan Bali, terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara lain Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M, sebagai pengganti Mpu Kuturan. Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini, bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi : “Kalau ada rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman. Dan apa bila terjadi kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur, Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, bagaikan Bima dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. Oleh karena sang guru Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan dapat melenyapkan hukuman”.

Kemudian pada masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito kerajaan adalah Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. Lalu Mpu Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, kemudian Mpu Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115–1119 M, kemudian Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. Untuk raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong di Bali. Saat itu yang menjadi purohito adalah dari griya Takmung dimana beliau melakukan kesalahan selaku acharya kerajaan yang telah mengawini Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain adalah putri Dalem sendiri selaku sisyanya. Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan.

Semenjak kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava. Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga brahmana. Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih terlihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthana Bhatara Sakti Bhujangga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada pelinggih itu. Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha, tirtha apa saja, terutama tirta pengentas adalah melalui pelinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak pernah/berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siva. Selain itu, para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari daging ketika diadakan pujawali dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah.

Warga Bhujangga Waisnava, keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali, pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah tenggara pedharman Dalem. Demikian juga pura-pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat lain di Bali.

Demikianlah Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. Sedangkan orang-orang Aga beserta keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang Bali Aga.

Sumber:
– I Gede Agus Suprapto
– Asal-Usul Bali dan Pura Besakih di website http://hyangsari.wordpress.com/asal-usul-bali-dan-pura-besakih/
– Orang Bali itu keturunan Majapahit ? di website http://adimust.wordpress.com/omong-kosong/orang-bali-itu-keturunan-majapahit/
– Babad Dalem Majapahit di website http://www.babadbali.com/pustaka/babad/babad-dalem-majapahit.htm

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


5 Comments

  1. Yanuar December 25, 2012 at 10:54 pm

    Tulisannya dibikin rata kiri dong Mas..

    Reply

    Hendra W Saputro Reply:

    Iya, kemarin justify. Oke skr dah rata kiri. Yanuar ini nak Bali hasil akulturasi 2 budaya dan 2 agama. Banyuwangi dan Tabanan. Islam dan Hindu. Keluarga yg unik. Ayo crita dong Yan 🙂

    Reply

  2. thawaf December 26, 2012 at 1:17 pm

    …kalo sempat ditambahi dong, sejarah banjar jawa di klungkung yang pada jaman belanda ada warganya diasingkan ke aceh

    Reply

    Hendra W Saputro Reply:

    Apa ini ya mas :

    Oleh: Ahmad Baraas
    (Sumber: Republika, Rabu 28 September 2011, hal. 24)

    Bila dibandingkan dengan jumlah umat Islam di daerah lainnya, umat Islam di Kabupaten Klungkung tergolong nomor buncit.

    Desa Gelgel terletak sekitar lima kilometer di sebelah selatan kota Semarapura, Bali. Di desa itulah umat Islam pertama di Bali bermukim. Mereka berasal dari kalangan kerajaan Majapahit yang bertugas ke Bali pertengahan abad ke-14, membawa misi dakwah untuk mengislamkan Raja Klungkung Dalem Ketut Ngelesir. Namun, utusan itu gagal menjalankan misinya dan akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk menetap di Desa Gelgel dan sebagian lagi pulang ke Tanah Jawa.

    Dari sejumlah sumber disebutkan bahwa Dalem Ketut Ngelesir adalah juga keturunan Raja Majapahit yang memisahkan diri dari kerajaan itu karena menolak proses islamisasi Kerajaan Majapahit yang dimotori oleh Raden Fatah, putera terakhir Brawijaya. Raden Fatah sendiri kemudian mendirikan kerajaan Demak yang sangat kental dengan nilai-nilai keislamannya, disusul dengan keruntuhan Majapahit Hindu.

    Berdasarkan catatan yang dibuat oleh KUA Kecamatan Buleleng (1954) yang disusun kembali oleh Abdullatif, disebutkan bahwa misi dakwah dari Kerajaan Majapahit itu dipimpin Ratu Dewi Fatimah, salah seorang sepupu Dalem Ketut Ngelesir. Antara Dalem dan Dewi Fatimah sebelumya sudah menjalin cinta dan Fatimah bermaksud menemui Dalem ke Bali untuk mengajak memeluk Islam dan menyebarkan ajaran Islam di Bali.

    Dewi Fatimah menjanjikan, jika Dalem mau memeluk Islam dia bersedia dipersunting oleh Dalem dan bersedia menjadi permaisuri Dalem. Terhadap ajakan itu, Dalem mengajukan syarat untuk kesediaannya memeluk Islam. Di antaranya meminta para ulama yang mengawal Dewi Fatimah untuk melakukan proses khitan. Jika mereka berhasil melakukan proses khitan, maka Dalem bersedia memeluk Islam.

    Versi lainnya menyebutkan bahwa kedatangan sejumlah ulama dari Jawa ke Kerajaan Gelgel bertujuan mengajak Raja Dalem Ketut Ngelesir memeluk Islam. Atas ajakan itu Raja Dalem mengajukan tantangan, jika para pendakwah Islam itu bisa menggunting bulu kaki Dalem, maka dia bersedia memeluk Islam. Namun, ternyata para pendakwah itu gagal menundukkan kesaktian Raja Dalem dan akhirnya mereka kembali ke Jawa dan sebagian lagi menetap di Gelgel.

    Kendati tercatat sebagai Muslim pertama yang menginjakkan kaki di Bali, secara kuantitatif umat Islam di Gelgel tidak mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan, bila dibandingkan dengan jumlah umat Islam di daerah lainnya, umat Islam di Kabupaten Klungkung tergolong nomor buncit. Beberapa daerah yang kini menjadi tempat umat Islam bermukim di Klungkung, di antaranya Kampung Kusamba, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa.

    Asal-usul umat Islam di Bali di setiap daerah berbeda-beda. Selain di Desa Gelgel Kabupaten Klungkung, ada pula komunitas Muslim di Buleleng yang datang ke Bali pada abad ke-16, di Jembrana awal abad ke-17, juga Karangasem sekitar pertengahan abad ke-17. Peningkatan jumlah umat Islam di Bali tercatat terbanyak setelah kemerdekaan RI, baik yang datang ke Bali karena menjadi pegawai pemerintah maupun mengembangkan usaha atau berwiraswasta.

    Dalam tulisannya yang berjudul “Mula Pertama Masuknya Islam di Buleleng” (1979), Ketut Gunarsa dan Suparman HS menuliskan, sebagaimana halnya masuknya Islam daerah lainnya di Bali, Islam di Buleleng juga disebarkan melalui jalur politik, bukan melalui jalur perdagangan. Jalur politik yang dimaksudkan Gunarsa dan Suparman adalah jalur pendekatan langsung ke pusat kerajaan, di mana hal itu disebabkan oleh banyaknya keluarga kerajaan di Pulau Jawa yang sebelumnya sudah terlebih dahulu memeluk Islam.

    Pengaruh Islam
    Pada 1587, I Gusti Ngurah Panji yang menjadi Raja pertama Buleleng menyerang kerajaan Blambangan, Jawa Timur, yang saat itu dipimpin Santa Guna. Kendati salah seorang putera Ngurah Panji gugur dalam pertempuran itu, Ngurah Panji berhasil memenangkan pertempuran. Berita kemenangan Ngurah Panji itu pun terdengar sampai ke Kerajaan Mataram (Dalem Solo). Karena itu, Dalem Solo kemudian menawarkan persahabatan dengan I Gusti Ngurah Panji dengan memberikannya hadiah seekor gajah untuk kendaraan Ngurah Panji.

    Gajah tersebut diantarkan oleh tiga orang Jawa yang sudah memeluk agama Islam, yang selama ini bertugas menjadi penggembala gajah itu. Ngurah Panji pun menyambut hangat tawaran persahabatan itu dan membuatkan petak atau kandang bagi gajah hadiah Dalem Solo. Sementara, tiga orang penggembalanya diberi tempat berbeda. Dua orang tinggal di sebelah utara kandang gajah dan hingga kini tempat itu disebut dengan Banjar Petak atau Banjar Jawa.

    Seorang lainnya tinggal di bagian sebelah barat daya kota Singaraja. Karena dia berasal dari kota Purbalingga atau Probolinggo Jawa Timur, maka tempat tinggalnya itu diberi namai Banjar Lingga. Di antara Banjar Jawa dan Banjar Lingga, gajah-gajah itu biasa berguling-gulingan (peguyangan), maka tempat itu diberi nama Pegayaman. Umat Islam di Pegayaman ini adalah keturunan dari umat Islam yang sebelumnya tinggal di Banjar Jawa.

    Saat ini, umat Islam di Desa Pegayaman menjadi salah satu komunitas Muslim yang sangat kental dengan adat istiadat Bali. Misalnya dalam hal penggunaan nama, di mana mereka tetap menggunakan embel-embel, seperti Wayan, Negah, Nyoman, dan Ketut. Nama-nama itu diikuti dengan nama-nama Muslim, seperti Ketut Jamaludin, Nengah Robbihuddin, atau nama-nama lainnya. Dalam berkomunikasi sehari-harinya, seperti Muslim di Gelgel Klungkung, Muslim Pegayaman juga menggunakan bahasa Bali.

    Di Jembrana, umat Islam masuk ke daerah itu dalam dua tahap. Menurut I Wayan Reken yang menulis sejarah masuknya Islam di Jembrana, umat Islam generasi pertama yang masuk ke Jembrana yakni periode pertama 1653-1655, sedangkan periode kedua antara 1660-1661. Muslim Jembrana ini kebanyakan berasal dari Sulawesi Selatan, mereka adalah panglima-panglima perang yang berperang melawan Belanda namun enggan menyerah.

    Mereka pun melarikan diri menyebar ke beberapa daerah, termasuk ke Lombok, Kabupaten Badung, Tabanan, dan juga di Jembrana. Para pejuang Bugis itu pun memasuki aliran sungai yang bermuara di Desa Perancak. Mereka pun masuk ke utara dan begitu melihat kelokan-kelokan sungai, ada yang berteriak menyebut loloan atau kelokan. Karena itu mereka kemudian memberikan nama bagi tempat mereka bermukim dengan sebutan Loloan. Saat ini, Loloan terdiri dari dua desa, yakni Desa Loloan Barat dan Desa Loloan Timur.

    Salah seorang tokoh umat Islam di Jembrana adalah Abdullah al-Qadri yang terkenal dengan nama Syarif Tua. Saat terjadi perang saudara di pemerintahan Jembrana, Syarif Tua yang membantu Punggawa Jembrana I Gusti Ngurah Made Pasekan melawan kelaliman Raja Jembrana Ida Anak Agung Putu Ngurah dan Wakil Raja Anak Agung Putu Raka, akhirnya memenangkan pertempuran. Saat itu, terjadi kevakuman kepemimpinan, namun Syarif Tua menolak menjadi pemimpin dan akhirnya mengembalikan jabatan raja kepada I Gusti Ngurah Made Pasekan.

    Sikap rendah hati dan sikap tak mau mengambil keuntungan pribadi membuat Raja Jembrana semakin bersimpati dan hormat pada umat Islam. Kemudian Raja memberikan dua wilayah, yakni Loloan Barat dan Loloan Timur bagi pemukiman umat Islam. Perkembangan umat Islam di Bali tidak terlepas dari pengaruh masuknya umat Islam dari setiap periode ke daerah itu.

    Generasi awal yang masuk ke Bali umumnya adalah orang-orang yang memiliki kebijakan yang tinggi, terdiri dari kalangan cerdik pandai, para punggawa kerajaan dan kalangan lainnya yang secara pribadi memang tergolong kelompok bermutu. Bagaimana dengan umat Islam generasi saat ini yang masuk ke Bali?

    Di Kabupaten Badung, umat Islam yang pertama kali masuk ke daerah itu adalah kalangan pedagang Jawa yang karena mengalami kerusakan, perahunya terdampar di Tuban. Oleh Raja Pemecoetan III yang saat itu sedang berkuasa di Badung, para pemilik dan penumpang perahu itu ditangkap dan dibawa menghadap baginda raja. Oleh Raja Pemecoetan III, warga Jawa itu diajak berperang melawan Kerajaan Mengwi dan akhirnya Kerajaan Badung menang. Para pendatang Bugis ini kemudian diberi tempat menetap di Kepaon dan hingga saat ini hubungan kekeluargaan masih terjaga secara turun-temurun.

    Reply

  3. bli dodi January 10, 2013 at 8:56 pm

    wah keren nie pengetahuannya, ada beberapa hal juga yang baru saya tahu.

    Salah satunya tentang kisahnya Tri Buana Tunggadewi ternyata dari Bangli ibunya ya mas?

    Reply


Leave A Response