Dosen Kuliah Kewirausahaan Tak Punya Bisnis, Bagaimana Hasilnya?

Himpunan Mahasiswa Oseanografi Universitas Diponegoro Semarang mengundang saya sebagai pembicara di acara Webinar How to Be Creativepreneur by Using the Potensial of the Ocean dengan tema “Build Entrepeneur Skill from Digital Marketing and Financial.”

Webinar Digital Marketing Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro

Terselenggara secara online pada Sabtu, 28 Mei 2022, kegiatan ini untuk semua mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. Namun juga terbuka untuk mahasiswa lain baik itu internal maupun eksternal seluruh Indonesia. Begitu penuturan panitia. Total ada sekitar 65 peserta yang online.

Juga dibuka dan dihadiri hingga akhir sesi oleh Dr. Kunarso, S.T., M.Si., sebagai Ketua Program Studi Oseanografi (S1) Universitas Diponegoro. Beliau juga sebagai pembina himpunan mahasiswa.

Sesuai pengalaman saya membangun usaha sejak tahun 2003 dan menerapkan teknik digital marketing, para mahasiswa saya ajak untuk memahami cara membangun usaha dan melakukan branding di dunia internet.

Hendra Digital Marketing

Ada 13 poin yang saya jelaskan kepada para mahasiswa dalam rangka membangun usaha dan branding di dunia internet, yaitu

1. Kenali Peluang & Potensi
2. Riset produk vs pasar
3. Product development
4. Validasi Pasar
5. Bangun Aset Digital
6. Branding, Marketing, Ads
7. Ciptakan Portfolio
8. Manajemen Financial
9. Build Teamwork
10. Networking
11. Investasi
12. Berbagi bikin Happy
13. Libatkan Tuhanmu

KEWIRAUSAHAAN UNTUK MAHASISWA

Dr. Kunarso, S.T., M.Si. dalam sambutannya menjelaskan agenda webinar ini untuk mendukung mata kuliah Kewirausahaan dan memperkuat minat mahasiswa di dunia wirausaha. Pihak kampus memberikan metode dan wadah keilmuan dimana setelah sarjana mereka akan menentukan nasib sendiri. Mau jadi profesional atau mau jadi pengusaha.

Pendidikan kewirausahaan merupakan program prioritas perguruan tinggi di Indonesia, tujuan Pendidikan Kewirausahaan di perguruan tinggi tidak lain untuk menyiapkan calon sarjana yang memiliki keahlian (skill) berwirausaha, sehingga mampu mencipatkan lapangan pekerjaan (job creator).

Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan tinggi antara lain adalah membentuk insan yang kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan berjiwa wirausaha.

Namun persolan yang muncul adalah gerakan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi yang telah dilakukan ternyata belum memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Dalam sesi tanya jawab, Pak Kunarso mengharapkan adanya sinergitas antara pengusaha dan dunia kampus khususnya untuk mendukung program kewirausahaan mahasiswa.

Menurut beliau, dosen yang mengasuh kewirausahaan di departemennya bukanlah seorang pengusaha. Mungkin hal ini menjadi kurang greget dalam menciptakan output kewirausahaan bagi mahasiswa.

Seringkali pendanaan dari pemerintah untuk akselerasi wirausaha di kampus digunakan untuk kegiatan yang sifatnya seremonial. Mungkin acara yang melibatkan saya adalah diantaranya. Seremonial. Hanya memberikan masukan dan inspirasi saja. Selebihnya tidak ada kelanjutan.

SOLUSI KEWIRAUSAHAAN UNTUK MAHASISWA

Saya lantas memberikan contoh Program Bangga Lokal milik BCA yang mendampingi UMKM binaan BCA selama 3 bulan. Secara intensif saya dan mentor (coach) bisnis lain yang tergabung dalam organisasi profesional SBM Pro Indonesia, mendampingi UMKM binaan BCA.

Bangga Lokal BCA

Menjadi mentor bagi UMKM syaratnya harus mempunyai bisnis nyata yang telah lama berjalan. Menguasai metode bisnis (business proccess) dan memiliki sertifikasi coach bisnis.

Selama 3 bulan ada mentoring bersama setiap 1 minggu sekali. Tiap mentor membawahi 10 hingga 20 UMKM dan mendampingi untuk kegiatan mentoring tiap hari.

Seminggu sekali para UMKM mendapatkan pelatihan dari para profesional bisnis yang berpengalaman menangani korporasi dengan materi ini:

– Product Development
– Marketing & Branding
– Sales & Distribution
– Operational Excellence
– Organization Capability
– Financial Literacy
– Legal Aspects

Para korporasi bisnis sudah menerapkan metode bisnis yang sempurna dan hal tersebut harus ditransfer ke para UMKM.

Para mentor berkewajiban tiap hari mendampingi UMKM. Salah satu outpout dari kegiatan ini adalah UMKM mampu menuliskan rencana, strategi dan forecasting bisnisnya dalam masa 1 hingga 5 tahun ke sebuah dokumen business plan.

Menengok pengalaman tersebut saya menyarankan kepada Pak Kunarso sebagai berikut:

1. Dosen kewirausahaan harus mempunyai bisnis nyata yang sedang berjalan. Menguasai ilmu business proccess dan punya sertifikasi coach.

2. Menggandeng para pebisnis untuk terlibat di pendidikan kewirausahaan para mahasiswa dengan menjadi mentor nya. Mungkin 1 pebisnis (mentor) membawahi 10 hingga 15 mahasiswa.

3. Pebisnis yang suka dengan kegiatan sosial ini biasanya ada di organisasi wirausaha seperti HIPMI, TDA, KADIN, dan komunitas/organisasi lainnya. Sebaiknya juga mendekati ke pemerintah untuk memberikan kemudahan akses.

Saya pribadi kawatir kampus-kampus lain di seluruh Indonesia mempunyai mata kuliah kewirausahaan namun dosen nya bukan pengusaha.

Ada satu kampus yang saya tahu mempunyai departemen khusus entrepreneurship, Universitas Podomoro. Pemimpin dan dosen di departemen itu teman saya di komunitas wirausaha TDA dan memang punya bisnis besar. Namanya Mas Wisnu Dewabroto. Beliau pernah mengundang saya untuk berbicara digital marketing didepan mahasiswa nya.

Bagaimanakah dengan kampus-kampus lainnya? Semoga dosen nya juga punya bisnis ya. Biar omongannya sesuai pengalaman, makin menggigit dan relevan. Semoga juga ada pendampingan khusus ke semua mahasiswa nya. Biar tidak tebang pilih.

Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan angka pengusaha di Indonesia. Katanya semakin banyak pengusaha, negara itu akan semakin makmur.

Flyer digital marketing

Undangan digital marketing

Bagikan Yuk

Comments are closed.