Ibu Berpulang, Meninggalkan Dunia Ini

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Le, kowe ndang mulih, yen ora mulih, kowe mengko getun! (Nak, kamu segera pulang, kalau tidak pulang, kamu nanti menyesal!)” Itu kalimat persuasif Bapak ketika mengabarkan Ibu masuk ICU (Intensive Care Unit) pada hari senin, 12 November 2018 lalu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ponorogo, Jawa Timur.

Ibu saya sudah hampir 2 tahun lakukan cuci darah (hemodialisis) karena gagal ginjal. Sebenarnya tidak hanya itu saja sakitnya. Ibu juga terkena sakit jantung dan pernah operasi pasang ring. Kemudian ada diabetes juga dalam dirinya.

3 bulan sebelum masuk ICU, Ibu alami patah kaki karena terpeleset di kamar mandi. Sehabis operasi sambung kaki, otomatis Ibu harus berkursi roda. Bapaklah dengan sabar menemani kegiatan Ibu selama berobat.

Kalimat Bapak itu indikasikan keadaan ibu semakin memburuk. Saya harus pulang, ambil tiket pesawat dan langsung cuzz menuju Surabaya. Mampir Mojokerto untuk pinjam mobil saudara dan ditemani istri tercinta nyetir ke Ponorogo.

Sesampai di RSUD, ibu sudah di ICU. Waktu besuk serba dibatasi. Namun Alhamdulillah bisa jumpa dengan ibu dan sesekali suapi makan. Tak banyak ucapan dari ibu selain sibuk betulkan masker oksigen nya yang kadang tidak pas di hidung.

Pagi itu di hari ketiga, saya sudah tengok ibu dan suapi 3 sendok sarapan pagi nya. Tidak mau nambah lagi meski saya paksa. Saya tinggalkan ibu dalam keadaan nafas yang berat meski ada masker oksigen dihidungnya. Gantian Bapak yang menjaga. Saya harus keluar beli sarapan pagi untuk Bapak dan Hendy adik saya. Sekalian beli pampers nya ibu yang stok nya menipis.

Setelah serahkan bungkusan sarapan, saya ingin mandi dan sekaligus jemput Yulia adek saya di kostan. Ya, Ibu dan Bapak saya harus kost di Ponorogo untuk kelancaran cuci darah seminggu dua kali.

Kenapa harus kost? Tidak pulang balik ke Pacitan setelah cuci darah? Jarak rumah Pacitan di pucuk pegunungan sana ke RS di Ponorogo cukup jauh. Sekali jalan gunakan mobil butuh waktu 2 jam dengan kondisi jalan pegunungan hampir 50% rusak, berlubang dan berbatu akibat aspal yang mengelupas. Entah apa saja urusan pemerintah seakan lupa dengan jalanan disana. Trus, waktu cuci darah adalah 4 jam!

Kondisi perjalanan dari rumah Pacitan ke Ponorogo pernah saya videokan, disini:

Sehabis cuci darah, biasanya ibu sempoyongan. Pusing, nggak enak makan dan ambruk di tempat tidur untuk beberapa jam. Cuci darah itu tidak hanya ambil racun dalam darah namun beberapa nutrisi penting tubuh juga ikut terbuang. Jadi hal tersebut diatas tak memungkinkan untuk pulang pergi.

Kembali ke cerita. Selama saya nyetir ke kostan, Bapak dan Hendy berkali-kali telpon suruh saya segera ke RSUD. Darurat katanya. Namun saya selalu bilang iya dan meneruskan mandi dan jemput Yulia.

Sesampainya di depan ruang ICU, saya dirangkul sama Bapak. Sesekali kilat mata saya memandang tempat tidur ibu di ICU yang kosong! Ibu telah tiada!

Ya Allah, sontak air mata dan tangisan tak bisa membohongi diri. Kami bertiga berpelukan terisak.

Ibu tega sekali meninggalkan saya tanpa bilang. Cerita Bapak, sebelum meninggal ibu hanya bilang, “Mas aku wis ora kuat (Mas, aku sudah tidak kuat lagi)”.

Tertatih sambil berangkulan kami berjalan menuju kamar jenazah di ujung belakang RSUD. Sesampainya disana, tidak ada orang. Saya dan Bapak masuk ruang pemandian jenazah. Diatas beton keramik terlihat sosok yang terbungkus kain putih tertutup lembaran kain batik (jarit). Perlahan saya jalan dan membuka ujung atasnya.

AllahuAkbaaaar! jerit saya lirih dan air mata itu keluar lagi. Ibu saya tertidur, menutup mata selama-lamanya. Saya cium kening nya. Tangan Bapak meraba pipi kiri kanan ibu sambil meratap.

Ketika petugas kamar jenazah datang untuk memandikan, kami memandikan ibu untuk terakhir kalinya. Memastikan agar semuanya bersih sebelum ibu di antar kembali pulang ke Pacitan dan raga ibu menyatu luruh ke bumi pertiwi.

Perlengkapan yang harus disiapkan selepas sholat jenazah adalah peti mati. Bersama staf RSUD dan mobil ambulan nya saya beli peti itu. Balik lagi ke RSUD, hampir satu jam proses beli peti saja. Terdiam saja diri ini selama itu.

Sirine mobil ambulan dinyalakan. Melaju kencang membelah jalanan Ponorogo Pacitan. Saya dibelakangnya bersama Yulia dan anaknya gunakan mobil terpisah. Bapak dan Hendy didepan bersama ambulan. Menyaksikan langsung ambulan terhuyung kiri dan kanan menapak jalanan rusak di pegunungan. Terbayang tubuhnya ibu dalam peti itu. Duh Gusti.

Perjalanan cepat berlalu diantara isak dan diamnya kami. Ibu disemayamkan diruang tamu rumah Pacitan. Saudara dan kerabat berdatangan. Tenda telah terpasang bersama kursi-kursinya. Beberapa diantara kami lakukan sholat jenazah.

Terjadi perdebatan antara keluarga dan Bapak tentang waktu pemakaman. Keluarga menghendaki ibu dimakamkan secepatnya karena orang-orang desa sudah menunggu di kuburan. Waktu mendekati sore dan biasanya akan datang hujan. Sedangkan Bapak kukuh menunggu kedatangan Dimas, adek saya paling bungsu yang masih dalam perjalanan dari Surabaya.

Pada waktu ibu masuk ICU, saya melarang Dimas untuk pulang ke Ponorogo. Saya pikir masuk RS adalah hal biasa yang sering ibu alami. Lagian Dimas seminggu sebelumnya sudah pulang. Jadi saya suruh konsentrasi kuliahnya. Namun, peristiwa ini sungguh diluar dugaan dan timbulkan rasa salah yang mendalam ke Dimas. Saya lantas minta maaf setelah Dimas datang.

Jarak rumah dan tempat peristirahatan terakhir sekitar 1 km. Kami, saudara, kerabat, dan warga PSHT Pacitan berjalan mengusung jasad ibu. Prosesi penguburan ibu lancar tanpa hujan. Begitupun hari-hari sampai 7 harinya ibu, lancar tanpa hujan. Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan kemudahan dalam segala urusan melepas kepergian ibu kepangkuanMu.

Saya menulis cerita ini pas 100 harinya ibu. Meninggalnya ibu pada 15 November 2018 lalu, pagi hari kisaran jam 9 di usia 64 tahun.

Masa selepas ibu pergi, begitu berat bagi saya. Termasuk hilang nya selera untuk menulis. Hilang pula selera untuk aktif di media sosial. Hari-hari berjalan dengan segala ratapan dan penyesalan. Rutinitas saya upayakan semampunya. Tanpa ngoyo (memaksakan diri). Sempat terdiam dibeberapa aktivitas sosial. Terbayang ibu dan mengamini secara dalam bahwa toh kita semua akan mati. Apa sih yang dicari? Saya berusaha untuk hilangkan hal tersebut dan segera bangkit. Namun ternyata saya masih manusia. Punya rasa sedih.

Tempat ibu disemayamkan sungguh indah. Berada diatas bukit dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Bak berada di surga. Menjelang 40 harinya, Bapak menghendaki penataan makam nya ibu. Saya tidak banyak ikut campur dalam hal ini. Terserah dengan grand design nya Bapak.

Saya meyakini ibu baca tulisan ini. “Bu, mohon maaf atas segala pembangkangan saya. Mohon maaf atas kesedihan yang timbul atas ulah anakmu ini. Mohon maaf belum bisa maksimal memakmurkanmu. Mohon maaf belum bisa selalu menemanimu di hari-hari tua dan sakitmu. Mohon maaf atas segala keegoisan anakmu ini. Namun Bu, mohon bilang sama Allah SWT, agar senantiasa berikan anakmu ini keselamatan, rejeki yang berlimpah dan kebahagiaan. Agar anakmu ini punya energi lebih untuk mencetak kebaikan-kebaikan yang akan menjadi ladang amalmu. Mohon bilang sama Allah SWT, agar anakmu ini bisa menjaga dan memakmurkan Bapak, Mertua, istri, anak-anak, saudara-saudara dan manusia-manusia yang membutuhkan.”

Ya Allah, mohon mengabulkan omongan ibu saya ya. Itu juga doa saya Ya Allah. Dan juga mohon ampunan atas segala kesalahan dan dosa ibu saya. Mohon menempatkan ibu saya di surga Mu. Amin YRA.

Bagi yang membaca ini dan mengenal ibu dan terlibat utang piutang, mohon menghubungi saya ya. Mohon juga memaafkan segala khilaf dan salah ibu saya.

Saya menuliskan peristiwa ini agar sewaktu-waktu jika kangen melanda, bisa berkunjung kesini untuk membahagiakan rasa kangen itu.

Sampai jumpa lagi Ibu …

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Bagikan Yuk

banner 4 dongkrak
Banner 1
Banner 2
banner 3

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me