Istri Hamil, Suami Tak Boleh Cukur Rambut

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Salah satu tradisi di Bali.

Dalam masyarakat Hindu di Bali sampai saat ini masih sering kita lihat berbagai tradisi dipercaya dan dilaksanakan dengan patuh. Disisi lain ada juga orang yang tidak lagi menjalankan tradisi tersebut dengan berbagai alasan. Namun banyak orang yang “sekedar” melaksanakan saja tradisi-tradisi ini tanpa memahami secara mendalam maksud dan tujuan dari tradisi tersebut.

Sebagai contoh, ketika si istri sedang hamil, maka lelaki atau suaminya tidak akan memotong rambutnya dan dibiarkan panjang. Yang ingin saya tanyakan kepada bapak, apa maksud dari suami yang tidak memotong rambutnya pada saat istrinya hamil atau mengandung. Selain itu, apa ada hal-hal lain yang mesti dilakukan oleh suami dan istrinya ketika masa kehamilan ? Atas jawaban bapak, saya ucapkan terima kasih.

Jawaban dari Drs. I Ketut Wiana

Setiap suku di dunia ini memiliki pantangan-pantangan yang disebut “tabu” dalam ilmu Anthropologi. Ada “tabu” yang bisa dilacak historisnya, ada juga yang tidak. Misalnya di Bali ada tradisi “tabu” berjalan di jalanan umum saat mata hari yang disebut “jejeg surya”.

Kalau berjalan pas pada pukul 12 siang hari, maka menurut kepercayaan orang, manusia akan dimakan oleh Buta Kala. Akibat perobahan jaman “tabu” seperti itu sudah hilang. Ada juga tabu (maketus) mengajak anak yang belum tanggal gigi ke Pura Luhur Batu Karu.

Dahulu kala pernah ada anak yang belum tanggal gigi di Bali yang diajak ke Pura Luhur Batu Karu, kemudian hilang, dan tidak dapat diketemukan lagi. Setelah ditanyakan pada “orang pintar” di Bali disebut meluasang. Kejadian ini diartikan sebagai tanda bahwa alam niskala melarang orang tua mengajak anaknya yang belum tanggal gigi ke Pura Luhur Batu Karu.

Khususnya berkaitan dengan kehamilan orang Bali juga mengenal berbagai pantangan. Salah satu adalah suami yang istrinya hamil tidak boleh cukur rambut. Suami juga tidak boleh menancapkan pohon yang dipakai sebagai pagar hidup dalam kebun (turus).

Asalusulnya dua tabu ini belum saya tahu. Namun secara logika saat istri hamil suami seharusnya juga ikut “untuk mengkonsentrasikan” segala perhatiannya (bertapa brata) agar bayi dalam kandungan istrinya dapat tumbuh dengan sebaikbaiknya sampai lahir dengan selamat.

Tradisi menancapkan turus saat istri hamil pada jaman modern ini mungkin sudah hilang. Sedangkan pantangan cukur rambut masih seringkali ditaati para lelaki walaupun mereka mungkin tidak tahu mengapa. Mungkin mereka melakukannya saja untuk berjaga-jaga. Kalau tidak ada kegunaannya, juga tidak ada salahnya.

Meskipun juga ada banyak calon ayah yang tidak mempraktekkannya tabu pantang cukur rambut lagi, makna yang terkandung di dalam tabu ini mereka lanjutkan dalam wujud lain. Misalnya suami ikut aktif merawat kesehatan fisik dan psikis sang istri. Menjaga perasaan istri jangan sampai terluka oleh perbuatannya atau kata-katanya, melayani istri terutama menyangkut soal-soal merawat kehamilannya, mencurahkan kasih yang lebih khusus pada sang istri, dan memberikan tuntunan kerokhanian pada istri dengan sebaik-baiknya.

Nampaknya hal inilah yang sebaiknya dilakukan sebagai ganti tradisi suami tabu cukur rambut dan menancapkan turus saat istri hamil.

Drs. I Ketut Wiana (Pengasuh Konsultasi Adat-Agama Hindu)
Dari Bali Sruti

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Bagikan Yuk

banner 4 dongkrak
Banner 1
Banner 2
banner 3

10 Responses to “Istri Hamil, Suami Tak Boleh Cukur Rambut”

  1. Moeghan Network Says:

    Maaf jika ini OOT / terkesan promosi.
    Undangan Kopdar Bareng Blogger Mojokerto

    Reply

  2. PanDe Baik Says:

    Setau saya :no: ada dua alasan dilihat dari sudut berbeda :
    secara ilmu gaib, :apaya: kabarnya kalo kita potong rambut saat istri hamil besar, sia anak bakalan lahir ndak punya rambut. Walaupun hingga saat ini belum berani mencobanya, namun gondrong preman saya bisa menjadi bukti, bahwa tidak selalu gondrong itu menjamin si anak lahirnya dengan banyak rambut. Wong anak saya lahir dengan sedikit rambut kok. :bentur:
    secara akal sehat, gondrongnya suami sebagai tanda cinta :love: dan kasih sayang kepada Istri, yang kadang kala merasa dirinye jelek saat hamil besar. Tentu akan mengundang kecurigaan dan perang dunia, jika si suami terlihat ngguanteng tenan, sementara sang istri krisis pede dengan kehamilnnya. :p

    Reply

  3. Sige Says:

    Alo bro,

    Kalau saya boleh berlogika ria yah, terlepas dari benar tidaknya.

    Mengapa si calon bapak tidak memotong rambutnya ketika istrinya mulai hamil. Saya ada 2 alasan.

    1. Estetika dan kesetiaan, istri hamil tentunya perut istri gede sehingga sedkit mengurangi kecantikannya. Dulunya badannya ramping trus paras cantik, kalau di kasi nilai dapet 9. Sekarang hamil perut membesar ramping tinggal cerita, kalau dikasi nilai cuma dapet tujuh (7). Nah supaya ada keseimbangan antara suami dan istri maka, si suami atau calon bapak juga melakukan hal serupa dengan memanjangkan rambutnya, sehingga rate ketampanannya berkurang. Dulunya rapih ganteng kalo dikasi nilai 9. Nah dengan rambut panjang trus brengosan rate si suami jadi turun, misal turun menjadi 7. Sehingga ada kesetiaan suami pun nampak dan estetikanya juga pas.

    2. Sebagai ID, saya sempet melihat keadaan Bali kuno di youtube, yang saya lihat jarang ada laki-laki berambut panjang seperti wanita. Nah, kalo semisal keadaan sekarng masih seperti di Bali kuno, maka akan sangat mudah mengenali suami-suami yang sedang mempunyai istri hamil.

    Heheh, itu cuma logika saya bro,.

    Reply

  4. HeLL-dA Says:

    @Sige & @ Pande Baik

    :top:

    Jadi, biar ngga selingkuh tuh suami-suami. Hehe.
    Ada tuh istri yg lg hamil yg sensi banget, takut suaminya selingkuh (dan kayaknya memang iya).
    Saya ndak pernah nge-SMS salah nomer, eh, saya dikira selingkuhan suaminya.
    Cape’ deh!
    Udah gitu, ternyata oh ternyata kayaknya suaminya emang bener tukang selingkuh.
    Masa dia telpon saya besoknya dg nomer yg lain.

    :zzz:

    Reply

  5. Indriasari Says:

    Kalau adat Jawa, wanita yang sedang hamil jika bepergian seringkali menyematkan sebuah peniti kecil di baju yang dikenakannya. Tolak bala katanya.. 🙂
    Percaya tidak percaya, pesan ini saya lakukan saat mengandung kedua anak saya.

    Reply

  6. yasa Says:

    🙂 ternyata budaya kita sangat beraneka dan indah serta unik ya… sayang klo akhirnya digerus oleh budaya barat apalagi budaya arab…uh….!!!

    Reply

    raih Reply:

    maksud budaya Barat?(kristiani)Arab(Islam)?

    no SARA please

    Reply

  7. ferry Says:

    saya mau nanya,apakah boleh saya memelihara hewan ( tokek ) padahal istri saya sedang mengandung?
    saya mohon bantuan nya.
    trima kasih banyak

    Reply

    ferry Reply:

    saya mau nanya,apakah boleh saya memelihara hewan ( tokek ) padahal istri saya sedang mengandung?

    tolong kirimi saya jawaban nya melalui email saya
    ferry_jalu@yahoo.com

    atas bantuan nya saya ucapkan banyak trima kasih.

    Reply

  8. hilda Says:

    Itu hanya mitos,
    boleh percaya boleh gak ..

    Reply

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me