Istri Saya Terpaksa BerWirausaha

Saya Shinta Dyan Kurniawati lahir tahun 1978 di kota kecil bernama Mojokerto provinsi Jawa Timur. Selepas kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang bersyukur menyandang gelar sarjana hukum.

Perjalanan hidup selanjutnya mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), Alhamdulillah saya diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

PNS Mojokerto

Selama 14 tahun bekerja sebagai PNS, saya berpindah-pindah jabatan dan kedinasan. Mulai bagian umum, pernah ditempatkan di sekretariat dewan, DPPKA, hingga terakhir ‘terbuang’ sebagai staf di kecamatan. Menjadi PNS di tempat saya tidak bisa lepas dari kebijakan politis dari Bupati yang berkuasa disaat itu.

Mengakhiri, undur diri (Resign) dari PNS

Suami saya, Hendra W Saputro sejak tahun 1996 bermukim di Bali. Mempunyai usaha digital marketing di BOC Indonesia. Selain itu juga dikenal sebagai pembicara digital marketing.

Setelah menikah, kami menjalani Long Distance Relationship (LDR). Suami kerja di Denpasar, Bali. Sedangkan saya masih tetap berprofesi sebagai PNS di Mojokerto, Jawa Timur. Sebulan atau beberapa minggu sekali kami bertemu.

Kami dikaruniai 3 anak oleh Allah SWT. Anak pertama Dhea sudah semester 5 jurusan Arsitek di Universitas Udayana. Anak kedua Adel sudah lulus SMA di JB School. Anak ketiga Altaf baru kelas 5 sekolah dasar di Pelita Bangsa, Denpasar.

Kembali ke cerita awal, waktu itu tahun 2013 saya memantapkan diri untuk mengundurkan diri dari PNS. Setelah sebelumnya berusaha mengurus surat pindah PNS dari Mojokerto ke Bali tidak mendapatkan persetujuan dari Bapak Camat dan Bapak Bupati Mojokerto.

Rumah di Mojokerto kami jual, anak-anak pindah sekolah ke Denpasar – Bali. Bismillah saya pindah ke Bali mengikuti suami.

Membuka Warung dan Jualan di Mobil

Hasil menjual rumah dan beberapa modal dari suami, kami mendirikan sebuah rumah makan di Jalan Tantular, Renon. Namanya Warung Kita. Kami membangunnya dengan selera pribadi, habis ratusan juta membangunnya. Rumah makan ber AC dengan aneka sajian masakan Indonesia.

Warung Kita Renon

Dua minggu setelah buka, warung tersebut sukses bangkrut karena kehabisan modal. Bulan Desember diakhir 2013 adalah saksi kebangkrutan warung tersebut.

Setelah kebangkrutan warung, saya dasarnya tidak bisa diam dan mempunyai ide untuk berjualan nasi pecel di arena car free day pada hari minggu di lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Ratu Pecel adalah nama yang saya gunakan untuk berdagang nasi pecel.

Semalam suntuk pada hari sabtu saya memasak dibantu ibu dan anak-anak. Dini hari selepas subuh semua barang dagangan nasi pecel siap untuk mangkal di timur lapangan Bajra Sandhi.

Ketika suami menggelar tikar, datanglah para satpol PP melarang kami berjualan disitu. Langsung lemas lunglai tubuh saya. Sambil menahan perasaan hancur suami saya mengajak untuk menggelar dagangan menjauh dari lapangan dan dapat tempat di timur kantor Gubernur Bali. Tepatnya di area tersebut adalah untuk parkir motor dan mobil. Alhamdulillah, hari pertama terjual habis. Rasa sedih dan bahagia bercampur aduk.

Ratu Pecel

Kegiatan jualan nasi pecel dengan mobil berlangsung kurang lebih 3 bulanan sampai akhirnya terhenti karena orderan catering semakin meningkat.

Catering Go Online

Suami saya mempunyai ide untuk membuat usaha catering dan menyuruh saya untuk menawarkannya ke konsumen secara langsung.

Saya menjawabnya, “Papi, saya ini bertahun-tahun di PNS terbiasa diperintah, jadi jangan harap bisa untuk cuap-cuap presentasi menawarkan catering!

Menjawab pernyataan saya akhirnya suami membuatkan proyek untuk saya bertemakan “Internet bikin si pendiam jadi pebisnis”.

Mulailah suami membuatkan alat-alat yang berbasiskan internet dimana berfungsi sebagai corong sales marketing aktif tanpa harus melibatkan saya.

Suami membuatkan saya website www.cateringkita.com, media sosial (facebook fanspage Catering Kita Bali dan instagram @cateringkita), dan google bisnisku Catering Kita Bali.

Website Catering Kita Bali

Kemudian membuatkan proposal catering berbentuk PDF dan media-media desain grafis lainnya yang berkaitan dengan promosi catering.

Dengan alat-alat digital marketing tersebut posisi saya benar-benar pasif, hanya menerima pertanyaan pelanggan dari internet dan berupaya closing sales. Alat-alat digital marketing tersebut yang menggantikan saya sebagai sales marketing. Konsumen akan melihat dan membaca dulu profil usaha saya, baru kemudian mereka kontak saya melalui handphone.

Orderan pertama dari online akhirnya datang. Pada sabtu, 18 Januari 2014, Catering Kita melayani catering untuk Ikatan Keluarga Malaka Bali (IKM Bali) sebanyak 350 pax. Alhamdulillah. Berlanjut dengan orderan catering untuk wedding, upacara, gathering, meeting, ulang tahun dan seremonial lainnya.

Shinta Dyan Catering Kita Bali

Tugas suami saya dari tahun ke tahun hingga sekarang adalah memastikan website Catering Kita muncul di mesin pencari online Google Search (www.google.co.id).

Dengan teknik Search Engine Optimization (SEO), website cateringkita.com akan muncul di halaman pertama Google jika orang mencari dengan kata kunci: catering di bali, catering halal bali, catering prasmanan bali. Disitulah orang-orang menemukan usaha saya secara online.

Dengan alat-alat digital marketing, Alhamdulillah saya tidak perlu keluar modal besar. Tidak perlu sewa ruko/warung untuk bisa berbisnis catering. Cukup dari rumah saja operasional catering bisa terlaksana. Kemudian cukup dari WA saja saya berkomunikasi dengan pelanggan, dari proses negosiasi hingga transaksi.

Berwirausaha dibidang catering tidak menjadikan saya sibuk menjalani rutinitas. Orderan catering terjadi secara berkala sehingga saya masih bisa menjalani hobi dengan bahagia. Saya punya hobi olahraga lari, hiking trekking dan traveling. Alhamdulillah.

Shinta Dyan Terpaksa Wirausaha

Terima kasih semoga bermanfaat

Shinta Dyan Kurniawati
www.cateringkita.com
IG @cateringkita
IG @shintasulaiman

Tulisan ini diikutsertakan sebagai lomba storytelling wirausaha yang diselenggarakan oleh IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia).

Bagikan Yuk

Comments are closed.