Karyawan adalah Nafas dari Pengusaha

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dipikiranku ketika mengikuti sesi seminar maupun workshop entrepreneur, adalah : “Mana yang lebih baik, menjadi karyawan atau pengusaha?”

Dari maknanya, maka ada hal yang baik dan hal yang lebih baik. Untuk ukuran manusia yang selalu tidak pernah puas, maka akan memilih “yang lebih baik”. Bagaimana jika kita ini yang seorang pengusaha mempunyai anak buah yang bersifat tidak pernah puas?. Dan dihadapkan pada pertanyaan tersebut.

Anak buah ini selama berpuluh-puluh tahun bersama kita membangun bisnis dari nol sampai menjadi besar, akankah rela melepas mereka dari lingkaran kita?.

Bahkan dalam seminar atau workshop, para pembicara yang juga pengusaha seringkali mendiskreditkan para karyawannya dengan istilah bisa bebas menentukan waktu, bebas menentukan kondisi finansial, bahkan bebas berwisata, bebas berkumpul dengan keluarga. Seolah-olah karyawan tidak bisa melakukan hal yang dilakukan pengusaha tersebut.

Dari sisi egaliter yaitu kesamaan manusia dihadapan Tuhan, pernyataan motivator itu seolah-olah memberikan jurang pemisah antara karyawan dan pengusaha. Apakah kondisi itu tengah terjadi saat ini ya?.

Menilik pengalaman pribadiku, menjadi pengusaha tidaklah mudah dengan hanya mengarahkan pikiran. Menjadi pengusaha adalah proses alamiah yang terjadi selama kita berkarya. Pandangan keagamaan mengatakan bahwa kita akan tetap menjadi pengusaha jika mampu mengayomi manusia lainnya. Tuhan akan tetap mempertahankan seorang manusia untuk menjadi pengusaha jika memang mampu memimpin dan mengayomi.

Lihatlah, banyak karyawan yang banting stir menjadi pengusaha. Jangan pikir lantas menjadi enak, karena mantan karyawan itu akan mati-matian menukarkan waktunya untuk membangun bisnis. Jika dia tidak mampu memimpin dan mengayomi bawahannya, maka dia akan bekerja sendiri. Istilah yang tren menyebut itu akhirnya menjadi Independent Business Owner, Wiraswasta, Self Employee, bahkan bakal di cap sebagai freelancer. Padahal, cap pengusaha adalah seseorang yang mempunyai karyawan atau team didalamnya.

Dalam pandangan pribadiku, seharusnya seorang pengusaha harus mentularkan mental dan tindakan dalam bisnis kepada karyawannya. Sebuah unit usaha bisa berdiri karena kerjasama yang apik antar manusia didalamnya. Jadi, mengenai kebebasan yang tersebut diatas, seharusnya menjadi hak bersama, antara pengusaha dan timnya.

Pandangan diatas adalah lebih kepada unsur kehati-hatian dalam berwirausaha dan memanusiakan karyawan. Aku pernah dikritik oleh teamku tentang istilah Eksyen dulu, mikir belakangan. Ya, dikiritik adalah kemauan untuk memahami karyawan. Maka metode selanjutnya adalah sedikit mikir, Eksyen sambil mikir, dan belakangan menjadi untung :).

Ya, inilah kegalauan hati, bisa kutulis. Setelah sekian lama blum bisa menulis hasil pemikiran sendiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


Leave A Response