Kebebasan Waktu itu bukan milik Bos saja!

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sepulang dari kantor, aku mampir ke tempat printing untuk ngeprint. Pandanganku terarah ke salah satu staf yang kurasa sering bertemu. Kami beradu pandang dan langsung kutanya, “Lho mbaknya kan yang di printing sana, ngapain di printing sini?”.

mac-gondrong

Sambil tersipu mbaknya bilang “Iya Pak, saya memang diprinting sana, kan disana 5 tahun”.

Aku heran, “Lho klo 5 tahun ngapain kok keluar dan berada disini?”.

“Disini baru 5 bulan Pak, disana saya disuruh keluar oleh bos nya karena nggak dapat ijin hadiri ngaben Bapak saya. Ya sudah, saya berat di ngaben, maka saya keluar saja. Padahal saya sudah 5 tahun lho disana Pak”, jawabnya memelas.

Kulanjutkan menyelidik, “Apa nggak dikasih cuti sih? Biasanya 12 hari dalam setahun. Trus sistem libur nya gimana?.”

Seperti menerawang, tidak melihat aku, mbak nya jawab, “Kita disana tidak dikasih cuti Pak. Kalau libur itu ditentukan oleh Bos nya, misal libur kerja seminggu sekali, kemudian libur hari raya seperti contoh Galungan, dikasih libur 2 hari saja. Selebihnya ya tidak. Kalau sakit ya harus ada surat dokter nya.”

Seperti dapat teman curhat, mbak nya lanjut curcol, “Disana kalau ada yang telat kerja, bisa tidak dapat uang makan siang Pak. Trus kalau ketahuan bolos, kena denda Rp. 50.000 per hari. Padahal gaji sehari nggak segitu Pak.”

Aku hela nafas dan rasakan keadaan terbalik di perusahaan yang aku pimpin. Sepertinya aku harus ceritakan juga ke staf nya disana bahwa tiap perusahaan pasti punya kebijakan yang beda-beda. Aku menimpali, “Sepertinya kebebasan waktu dimiliki Bos nya mbak, staf nya tidak berhak rasakan bebas waktu. Ditempatku beda jauh mbak.”

“Bedanya gimana Pak?”

Begini Mbak, “Prinsip yang kubangun di perusahaanku adalah Kebebasan waktu adalah hak manusia. Itu yang kuterapkan. Jika aku bebas waktu, maka anak buahku juga harus merasakan bebas waktu.”

Kulanjutkan, “Kami tidak ada yang namanya cuti 12 hari selama setahun. Libur kerja sih di hari minggu. Kalau mau ijin pun aku persilahkan, asal bilang dan bertanggungjawab. Contoh libur keagamaan, jika yang Hindu ada hari raya, maka yang Islam dan Buddha tetap masuk. Jika yang Islam ada tanggal merah, ya yang Hindu dan Buddha masuk, begitupula untuk yang Buddha. Saling mengisi. Aku faham Hindu banyak upacaranya. Aku persilahkan ijin upacara Mbak. Apapun itu upacara nya.”

“Ijin apapun itu, asal masuk akal, aku ijinkan. Termasuk ijin ada keluarga datang dan temani jalan-jalan ke Bali. Ijin mau liburan plesir ke pulau sana, sini, aku ijinkan. Asal ya tadi, kita sebagai bos harus pintar atur kerjaan dan strategi saling mengisi satu sama lain.”

Mbak nya menimpali, “Wah enak ya Pak anak buahnya. Klo Bos saya yang disana harus terus menerus pastikan printing nya buka. Karyawan harus bisa mencetak uang dan sepertinya tidak ada keberpihakan kepada karyawan”.

“Wah mbak, berarti Bos mu yang sana tuh nggak pintar-pintar amat dalam manajemen waktu. Harusnya dia bisa tambal dari sana sini jika ada yang ijin. Rejeki itu akan datang sendiri dari Tuhan. Kita ini cuma disuruh berusaha dan berserah diri (tawakal). Sepertinya bosmu yang sana perlu belajar hakikat hidup tuh.” Celetuk ku sok bijak :p

Diakhir percakapan aku tegaskan, “Jadi mbak, kebebasan waktu adalah hak asasi manusia. Jangan mentang-mentang Bos, maka dia bisa bebas waktu dengan belenggu atau penjarakan waktu para staf nya. Hmmm, kok bisa ya dia enak-enak nyetir Pajero nya, sedangkan anak buahnya berpeluh-peluh mengorbankan waktunya”.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


Leave A Response