Kerja Bintang 5, Ijazahku Nggak Kepake Bro!

“Selama karir kerja di hotel, yang sudah lintas benua di berbagai hotel bintang lima multinasional, dengan pengalaman 15 tahun di hotel industry, selama itu, tidak ada 1 perusahaanpun yg minta secarik ijazah itu.” Tutur Iqbal teman kuliah saya.

Iqbal

Iqbal menambahi, “Ternyata nggak kepake. Yang kepake ya malah PENGALAMAN organisasi dan pengalaman “sekolah kehidupan”. Sekali lagi, tak 1 pun yang peduli dengan ijazahku.”

Hendra: “Awal-awal sebagai tarikan kan perlu pak bro.”

Iqbal: “TIDAK. Tidak pernah. Di luar negeri orang melihat track record dan 3 month probation period.”

Hendra: “Masa sih? awal-awal ketika kerja kan perlu menyertakan ijazah pas kasih lamaran tuh?”

Iqbal: “Aku awali kerja itu sebelum lulus. Kerja di hotel dulu kan sebelum lulus. Pertama kali kerja ya di Bali Tourism Board (BTB). DI BTB kan aku dilamar. Gak ngelamar hehehe.”

Hendra: “Heh kok bisa?”

Iqbal: “Aku kan pemenang lomba karya tulis populer tentang pariwisata Bali pasca bom Bali. Yang diselenggarakan oleh BTB dan Yayasan Paras Paros. Dari tingkat mahasiswa aku pemenangnya. Dan si Heru Gutomo juara 2.

Masuk koran kan. Dan pas penerimaan hadiah dan piagam, langsung ditawarin kerja. Ya udah masuk aja. Jadi gak pake ijasah.”

Hendra: “Ini mrinding! Ukir prestasi pada masa mahasiswa.”

Iqbal: “2 tahun di BTB banyak kenal dengan owner hotel dan para General Manager (GM) hotel berbintang.”

Hendra: “Rawk! Trus your first step ke hotel gimana ceritanya?”

Iqbal: “Tapi Pak Putu Antara waktu itu owner GWK dan Mamaleon group melihat pontensiku. Dijebloskannya aku ke Darin Storkson. Orang bule Amerika yang sudah 7 tahun di Bali. Dilatihlah aku bahasa Inggris dan ilmu Tourism marketing dan Public Relations. Pake bahas inggris loh ngajarinnya. Hehehe.

Genap setahun dibawah Mr. Darin. Aku dijambret ke Mamaleon grup. Sempat kerja di GWK juga. Lalu dijebloskan ke manajeman hotelnya juga di jimbaran sono (Keraton Jimbaran Hotel).”

Hendra: “Sebagai apa di Keraton?”

Iqbal: “Sales lah. Kan aku bocah marketing. Langsung ditarik lagi ke Mamaleon holding. Ngurusi proyek Romancing Bali dengan semua Bupati se-Bali.

Waktu itu proyek perdana bikin 1000 kecak dance di Tanah Lot. Untuk mendatangkan dan menggenjot pariwisata Tabanan.

Lalu aku kepikir untuk Go internasional. Iseng-iseng ngelamar hotel di Bahrain.”

Hendra: “Nah ini kan pake ijazah?”

Iqbal: “Nggak pake setor ijazah sama sekali! Langsung interview dengan GM nya. Khalid Anib orang perancis berdarah maroko.”

Hendra: “Tapi apa sempet bilang, saya lulusan s1 tourism di udayana bla bla bla?”

Iqbal: “Cuma modal:
– doa
– percaya diri
– bahasa inggris
– grooming standar hotel
– dan CV.”

Hendra: “Oke, CV tetap menyebutkan S1 udayana kan? walau tanpa serahkan digital paper nya.”

Iqbal: “Kayaknya gak sempet. Tapi mungkin lihat di CV ku. Education: Udayana University.”

Hendra: “Klo CV ku, aku menyebutkan udayana dan fakultasku sebagai tempat kuliah nya. Cuma sifatnya keterangan doang. Di CV mu jelas menyebutkan pengalaman kerja kan?”

Iqbal: “Nah. Itu dia. Di CV pengalaman kerja (track record) harus. Ditulis DETAIL. Rinci dengan segenap prestasi-prestasi yang ada hehehe…”

Hendra: “Boleh minta CV mu bro? Siapa tahu jadi inspirasi bagi adik-adik generasi bangsa”

Iqbal: “Boleh. Jaman dulu masih pake CV. Jaman sekarang sudah ganti pake profil LinkedIn. Coba aja lihat profil LinkedIn ku.”

Hendra: “Aku dah lihat LinkedIn mu. Btw, aku penasaran. Kenapa sih kerja di Indonesia itu waktunya pendek-pendek? Contoh di Crowne Plaza Semarang cuma 3 bulan kerja. Habis itu di perusahaan selanjutnya cuma 4 bulan.”

Iqbal: “Khusus di semarang istriku gak mau jauh-jauh. Dia jakarta. Aku semarang. Makanya diminta balik. Kalo mau LDR mending sekalian yg lintas benua aja sekalian. Hehhe…”

==========

Silakan download CV nya Iqbal. Semoga bisa jadi inspirasi.

Iqbal teman saya, akhirnya memutuskan untuk berwirausaha (entrepreneur) mendirikan restoran steak, burger, dan aneka olahan ayam. Sudah bosen kerja katanya hehehe. Silakan lihat website bisnis nya di BarapiGrill.

Jadi, silakan ambil kesimpulan sendiri ya tentang ijazah. Pentingkah atau sangat penting? Bagi saya pribadi penting! Namun sayang nya nggak kepake juga. Kisah saya sama seperti kisah Iqbal. Saya mulai kerja pada saat masih kuliah. Kemudian mempunyai bisnis sendiri pada saat kuliah pula. Hingga sekarang dah. Akibatkan tidak mengenal ijazah sama sekali hehehe.

Ijazah mungkin penting untuk awal-awal cari kerja meniti dunia profesionalisme ya. Selanjutnya, mungkin akan menemukan nasib seperti cerita Iqbal. Pindah kerja hanya andalkan CV dan prestasi kerja di tempat sebelumnya. Ijazah nya pun tak sempat diperlihatkan.

BarapiGrill

Barburger

Team Barapi

Bagikan Yuk

Comments are closed.