Kongkalikong ataukah trik dalam penentuan pemenang tender ?

Ada peristiwa menarik beberapa hari lalu yang patut saya analisa tentang pemilihan pemenang tender dalam sebuah proyek web development. Sebuah perusahaan multinasional menginginkan redevelopment websitenya. Perombakan harus dilakukan di sisi layout desain dan sistem programmingnya. Perusahaan telah memberikan syarat bahwa komposisi penilaian adalah 60% dari sisi teknis, dan 40% dari sisi harga.

Persyaratan utama peserta tender adalah harus mempunyai legalitas usaha (SIUP, TDP, NPWP, Akta Notaris) serta desain mockup awal sebagai perwakilan konsep website perusahaan di masa datang. Tahapan seleksi tender adalah rapat bersama antara perusahaan dan peserta tender. Sebanyak 5 peserta tender mendengarkan dan berpendapat tentang keinginan dan persyaratan dari perusahaan pemilik website. Kemudian, peserta tender diwajibkan mengirimkan proposal website dan mockup desain website. Salah satu peserta tender adalah perusahaan web development yang masih aktif menangani website versi lama.

Selanjutnya, perusahaan mempelajari proposal dan mockup dari masing-masing peserta tender kemudian ditindaklanjuti dengan undangan presentasi. Jadwal presentasi diputuskan oleh perusahaan pemilik website. Nah, disinilah letak analisa itu dimulai. Disamping itu, keikutsertaan peserta tender yang masih menangani website versi lama juga menjadi faktor penentu dalam analisa pemenang tender.

Dalam 3 hari, urutan presentasi peserta tender adalah : Peserta A, B, C, D dan terakhir E. Peserta tender terakhir (E) adalah perusahaan web development yang masih aktif menangani website versi lama. Setelah jadwal presentasi selesai, perusahaan multinasional itu mempunyai 4 hari untuk memutuskan pemenang tender. Pada akhirnya, Peserta A dan B telah menerima surat ‘pemecatan’ tender. A dan B sama-sama tahu karena memang sudah kenal baik satu sama lain. Maka tanda tanya pemenang tender dialamatkan ke peserta C atau D dan atau E.

Pertanyaan yang sempat mencuat dalam benak saya adalah :
– Kenapa peserta A yang terlebih dahulu diundang untuk presentasi ?
– Atas dasar apa perusahaan pemilik website menentukan waktu presentasi bagi peserta tender ?
– Apakah terdapat unsur kongkalikong (merujuk ke budaya KKN di Indonesia) ?
– Ataukah memang murni trik dari perusahaan pemberi tender untuk mencapai penilaian 60% dan 40% tersebut ?

Analisa ‘bodoh’ yang bisa saya ungkapkan adalah, sistem tahapan tender diatas merupakan cara efektif untuk mendapatkan sistem website yang mutakhir dengan dana yang rasional (rendah). Ada kemungkinan, ide-ide cemerlang yang telah dipresentasikan oleh peserta A, B, C, dan D dikemukakan oleh perusahaan di presentasi peserta E. Mengingat bahwa ilmu website semuanya serba mungkin bisa dipelajari dan diimplementasikan atau di outsource-kan ke pihak ketiga yang mampu. Persoalan pembiayaan website menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh, karena penilaian atas harga adalah 40%.

Analisa narsis lainnya adalah, kemungkinan ide yang paling cemerlang berada di peserta A, atau … harga yang paling mahal adalah dimiliki oleh peserta A hahahaha. Ok, what do you think ? Oh ya, saya belum sampai pada analisa poin ke 3, yaitu kongkalikong. Fyuh, lebih baik gak omong dah.


Banner 1
Banner 2
banner 3

4 Responses to “Kongkalikong ataukah trik dalam penentuan pemenang tender ?”

  1. luhde Says:

    :fyuh: sistem tender dibuat untuk transparansi dan kompetisi. Tapi banyak BUAYA, dan kita kapan jadi pawangnya?

    Reply

  2. gajah_pesing Says:

    sante aja, semua bisa diatur, jadwal presentasi pengen cepet atawa lambat, tinggal telpon aja…
    :))

    Reply

  3. blog project Says:

    tapi klo dah menang enak kan? dapet duit banyak :top: :top:

    Reply

  4. PanDe Baik Says:

    Tergantung… Tergantung BOC masuk yang mana. :p

    Reply

DoFollow Comments - Be wise yah - Leave a comment below


Chat with me