“Korban” Earth Hour

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Satu lagi kegiatan positif untuk alam kita, yaitu “Earth Hour” yang digagas oleh Earth Hour Indonesia 28 Maret 2009 kemarin. Programnya disampaikan cukup gencar melalui iklan di televisi kepada masyarakat Indonesia, yaitu berpartisipasi untuk mematikan listrik 1 jam saja pada saat beban puncak penggunaan listrik pada pukul 20.30 – 21.30. Salut dan angkat topi buat aktivis dan partisipan nya.

Program ini mengingatkan saya kepada kampanye bumi yang digagas oleh Kolaborasi World Silent Day (WSD) beberapa waktu lalu. Kesamaan dari 2 program ini adalah pengurangan emisi CO2 agar bumi ini bisa ‘bernafas’ mengurangi efek destruktif bagi penghuninya. Bedanya, dalam penerapan WSD menawarkan 4 jam untuk mematikan listrik, alat elektronik dan menghentikan/mengurangi penggunaan alat transportasi. Earth Hour menawarkan 1 jam saja untuk mematikan alat listrik.

Saya ingin sekali berpartisipasi pada Earth Hour ini, seperti yang telah saya lakukan untuk WSD beberapa waktu yang lalu. Tapi, ada kegiatan yang tidak bisa saya hindari karena waktu tersebut tepat dengan kegiatan Akad Nikah Adik di salah satu Masjid di Mojokerto. Semua serba terburu-buru, salah satunya ‘mengkambing hitamkan’ Earth Hour ini. Yah akhirnya, Earth Hour ini berkesan mendatangkan ‘musibah’ bagi saya huehuehue. Duh, sakit euy.

1 jam sebelum acara akad nikah, saya mondar mandir sebagai sie transportasi antar bolak-balik keluarga besar dari rumah ke tempat acara akad berlangsung bertempat di Masjid Besar Mojokerto (depan alun-alun barat). Isinya ngebut penuh sopan santun.

Saya harus ngebut ditengah hiruk pikuk kota yang jalanan dipadati oleh masyarakat penikmat malam minggu. Ibu mertua saya teriak-teriak di handphone menyuruh agar cepat karena takut ada pemadaman listrik. Saya kaget, dari mana ada pemadaman listrik ? Rupanya, Ibu mertua terpengaruh dari perkataan keluarga besar lain yang tahu pemadaman listrik dari program teriklan di televisi. Oalah, pikiran saya langsung tertuju pada program Earth Hour Indonesia.

Sayapun beri pengertian ke Ibu bahwa itu program sifatnya partisipatif saja dan tidak sampai pada pemadaman listrik. Tapi, Ibu tetap kekeuh barangkali saja ada pemadaman itu. Di lain kesempatan, bahkan saya mengetahui pihak keluarga membeli lilin dalam jumlah banyak. Wew.

Kembali ke peristiwa menjadi ‘Transporter’ keluarga. Saat terburu-buru itu, terjadi salah paham ketika harus melipat jok tengah mobil agar penumpang belakang bisa keluar. Penumpang belakang menjadi panik tidak bisa keluar dan teriak-teriak bagaimana melipat jok tengah. Karena saya merasa tahu tempatnya, dari jok kemudi mencoba merebahkan badan dan menjulurkan tangan kiri ke tombol jok. Rupanya, kegiatan merunduk saya berbarengan dengan salah satu penumpang yang tahu posisi tombol merebahkan jok itu.

Karena saya kalah cepat, maka secepat kilat jok itu menimpa muka saya dan cukup membuat kacamata lepas dari muka nan imut ini. Oke, akhirnya penumpang belakang bisa keluar dengan selamat, dan gantian saya yang cari-cari kacamata terjatuh akibat hantaman jok tadi. Kembalilah ke rumah untuk jemput calon mempelai wanita. Selama perjalanan, nyeri itu mulai datang di daerah sekitar bibir dan hidung, kaca tengahpun saya arahkan ke muka … Oh My God, ada goresan sepanjang 2 cm dari bawah hidung ke bibir atas dan darah segar menyembur pelan-pelan tapi pasti. Tak ada tisu dalam mobil. Hmm, mantab. Tanganlah yang jadi tisu ….

Proses akad berjalan lancar dan hampir semua keluarga tanya tentang luka goresan tadi. Biar tidak terlalu bertele-tele, saya bilang aja “Habis berantem ma tentara”. Lo kok bisa ? … Wew, pengennya singkat malah harus cerita lengkap …

Itulah pengalaman Earth Hour saya. Disamping positif, tetapi penyampaian kampanye nya masih ambigu bagi masyarakat. Ada yang panik terkena pemahaman yang berbeda dari maksud kampanye itu sendiri. Salah satunya keluarga besar kami dan para tukang becak di lingkungan saya. “Ternyata tidak ada pemadaman listrik ya mas, tiwas saya beli lilin” … Nah lo, duitnya keluar untuk Earth Hour.

Blum lagi yang terkena was-was dan jantungan seperti peristiwa diatas. Huehuehue.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


3 Comments

  1. Arif Nofiyanto April 2, 2009 at 8:30 am

    “Oh My God, ada goresan sepanjang 2 cm dari bawah hidung ke bibir atas dan darah segar menyembur pelan-pelan tapi pasti. Tak ada tisu dalam mobil. Hmm, mantab. Tanganlah yang jadi tisu ….”

    Ilange gantenge donk? 😀

    Reply

  2. acnegirlcandy November 10, 2009 at 4:45 pm

    this Earth Hour is really a good concept on how we could spend at least a few minutes of our time in remembering mother Eearth. people should be more aware and more caring of our environment now that we have Global Warming and Climate Changes.

    Reply

  3. Ben Griffiths August 13, 2010 at 9:24 am

    Earth Hour really helps in promoting environmental awareness among the young generation.:~

    Reply


Leave A Response