Menuju Denpasar Anti Macet!

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ah hari minggu kedatangan tamu wartawan Otomotif Bali, bli Robby Patria di kantor BOC Indonesia. Diselingi rintihan eh rintikan hujan kami berdiskusi tentang kemacetan jalanan di Bali Selatan. Rupanya dia tertarik bicarakan status opiniku sebelumnya tentang Denpasar yang dinobatkan oleh aplikasi peta WAZE sebagai kota dengan pengalaman berkendara terburuk. Yang nulis berita itu ngga tanggung-tanggung, Jawa Pos lho! [1]

denpasar-anti-macet

WAZE adalah komunitas aplikasi berbasis lalu lintas dan navigasi terbesar di dunia. Dia punya 65 juta user bulanan aktif yang tidak sembarangan asal rilis survei. Pengalaman berkendara para pengguna nya akan direkam sama dia. Parameter penilaian WAZE adalah Traffic, Safety, Driver Services, Road Quality, Social Economic dan Wazey. Silakan cek detailnya di link resources di bawah tulisan ini. [2]

Opiniku tentang warga mempunyai motor dan mobil adalah keniscayaan. Mereka punya uang dan berhak untuk beli motor. Siapa sih yang nggak mau mobil kalau duit banyak? Kita masih berstatus negara berkembang. Jadi beli motor lantas bermobil adalah grafik perkembangan hehehe.

Lantas aku ditanya tentang solusi atasi kemacetan. Aku bilang ya bikin jalan baru. Beli tanah-tanah warga dengan harga sepantas nya dan bikin jalan. Pendapat ini disanggah dengan ketidakmampuan dana dari Bali ataupun negara. Padahal aku mau sarankan bikin subway, kereta bawah tanah yang tembus kemana-mana. Bakal bikin cemberut pejabat hahaha.

Baiklah. Jika solusi pembangunan fisik jalanan bukanlah solusi tepat maka harus ada solusi lain. Maka aku tawarkan solusi kreatif. Ubah mindset. Revolusi mental! Cie :p

Menurutku terjadinya kemacetan itu berlangsung di jam-jam dan kondisi tertentu. Juga di ruas-ruas jalan tertentu. Mungkin terjadi pada jam-jam berangkat sekolah dan kerja. Pulang nya pun bikin macet. Dibarengi dengan kondisi musim liburan/wisawatan membanjiri Bali. Ruas jalan yang kena macet adalah di persimpangan, pertigaan, lampu merah dan jalanan sempit satu arah. Aku praktisi IT dan bukan DLLAJR. Jadi perlu diteliti kembali ya opiniku ini.

Sekarang coba dipersempit saja tentang penyumbang kemacetan. Katakanlah penyumbangnya adalah para pekerja secara umum. Bisa jadi karyawan kantoran, hotel, travel, instansi swasta, organisasi, pemerintahan, bahkan pejabat, walikota, bupati dan gubernur pun itu pekerja lho!

Menurut aktivitas nya, ada 2 jenis tipe pekerja. Yaitu beraktivitas di kantor saja dan ada yang mobile. Maka bayangan solusi kreatif dariku adalah buatlah inisiatif dan buatkan peraturan.

Bayanganku untuk pemerintahan dan swasta adalah mewajibkan mobil dinas tidak boleh dibawa pulang. Pejabat, direksi, bahkan gubernur harus berangkat gunakan motor dari rumah. Mobil dinas dipergunakan dari kantor. Para petinggi yang nggak bisa naik motor bisa dibonceng pake motor oleh sopir/ajudannya. Ini kan merangsang jasa ojek warga bergeliat lagi. Masih banyak lho ojek-ojek tradisional yang usianya paruh baya sampai manula. Kasih mereka kerjaan! Jangan hanya agung-agungkan transport berbasis online saja.

Inisiatif atau peraturan ini juga berlaku bagi pekerja-pekerja yang aktivitas nya berdiam diri di kantor, dari pagi – pulang kerja. Begitu banyak yang selama ini kulihat, mobil-mobil itu isinya cuma seorang doang didalamnya. Kecuali mobil pariwisata ya yang isinya kayak angkutan karyawan saja hehehe.

Mungkin ada yang protes dari para pekerja, lha buat apa mampu beli mobil tapi dianggurin di rumah? Ya sewain aja! Hahahaha nggak-nggak. Mungkin dengan memaksimalkan lagi konsep bus sarbagita dan memperbaiki serta memperbanyak angkutan pengumpan, akan menarik minat warga. Angkutan pengumpan adalah bemo-bemo/mikrolet lawas yang disubsidi pemerintah. Namun kata wartawan itu, pengumpan banyak yang hilang. Bosen kali ya, kosong terus hahaha.

Mobil pengumpan ini harus diremajakan. Bikin mobil angkutan pengumpan yang ber AC, duduknya nyaman, tidak berhadap-hadapan kayak konsep bemo lawas itu. Bikin orang grogi saja. Apalagi yang rok nya ketat. Bakal jadi bahan seger-segeran di mata wkwkwk. Katakanlah mobil pengumpan ini mirip bentuknya dengan mobil pariwisata seperti APV, Hi Ace, dll.

Rute mobil pengumpan harus banyak. Jumlah nya harus banyak. Jam keberangkatan harus rapat. Misalnya tiap 15 menit. Rute nya menyasar jalanan dimana kantor-kantor pekerja itu berada. Misal pengumpan lewat Jl. Dewi Sri, Legian, Kerobokan, Seminyak, Teuku umar, Taman Griya, dll. You know tempat nya lah. Pemerintah harus koordinasi dengan segala SKPD untuk tentukan rute pengumpan.

Kemudian, bikinkan sistem pembayaran yang menarik bagi warga. Begitupula sistem reward/bonus bagi warga. Bank-bank sudah keluarkan kartu pra bayar yang bisa direfill untuk bayar tol. Kenapa tidak diterapkan di bus sarbagita dan pengumpan tadi. Bayarnya tinggal gesek saja. Berikan poin reward bagi warga yang dapat ditukarkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Setiap top up kartu bayar sarbagita, dapat poin. Kemudian akumulasi poin tertentu bisa ditukarkan dengan setrika, majic jar, helm, dll. Ini terinspirasi dari Tiara Dewata sih. Orang suka belanja disana karena dapat poin dan bisa ditukarkan dengan barang.

Agar program sarbagita dan pengumpan ini berhasil, pemerintah wajib berlakukan dulu bagi PNS nya. Baru kemudian sosialisasi ke warga.

Setiap 6 bulan sekali pemerintah adakan undian berhadiah berdasarkan akumulasi poin. Hadiah utama adalah mobil. Halaaaaaah ….

Solusi lain nya lagi, pemerintah adakan lomba memecahkan masalah macet di Bali selatan secara kreatif. Berikan kesempatan warga nya untuk beri presentasi dan solusi. Pemenangnya akan dapat hadiah mobil. Halaaaaaah …. [Loh serius ini!]

Hendra W Saputro

Resources :
[1] Jawa Pos ttg WAZE : http://www.jawapos.com/read/2016/09/22/52661/kabar-dari-aplikasi-waze-denpasar-kota-terburuk-berkendara-di-dunia
[2] Rilis WAZE : https://www.waze.com/driverindex
[3] Cara kerja WAZE : https://support.google.com/waze/answer/6078702?hl=en

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


Leave A Response