Rabies dan pengaruh budaya masyarakat Bali

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sabtu yang cerah, sinar matahari pukul 10 pagi terang benderang mengantar saya kerumah Pak Vaughan Hatch (Mr. Von) untuk meeting bahas mockup website yang sedang kita (BOC) kerjakan. Asiknya, disela-sela serius membahas website, kita pun berbincang tentang isu-isu Bali terkini. Meski Pak Von ini bule asal New Zealand, 12 tahun telah membuat beliau fasih berbahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Disamping pintar, mungkin beristrikan wanita Bali (Mrs. Evi) semakin mempertajam kemampuannya berbahasa.

Pak Von dan Mbak Evi cukup lama mendalami ilmu Balinese Gamelan untuk pertunjukan gamelan dan membuka kursus privat untuk belajar tari Bali. Mereka mempunyai grup tari dan gamelan bernama Mekar Bhuana yang sering unjuk kebolehan tampil diberbagai acara kesenian di Bali dan internasional. Tahun kemarin, mereka tampil di the Esplanade Theatres, Singapore dalam sebuah acara festival musik.

Pak Von kali ini bercerita tentang kondisi hidup di kampung daerah Penyaringan, Sanur dan respon masyarakat sekitar terhadap bahaya rabies. Setelah berbicara dengan masyarakat sekitar, Pak Von mempunyai analisa tentang sulitnya memberantas penyakit Rabies yang ditularkan melalui si Guk Guk. Bahkan kabar terakhir, hewan pengerat bisa menjadi pembawa penyakit Rabies dan menularkan melalui gigitan ke manusia. Wow.

Sebetulnya, rabies bisa segera dituntaskan jika cara pandang masyarakat disini berubah. Mereka masih membiarkan si Guk Guk berkeliaran karena masih berkaitan dengan hal niskala (alam ghaib). Jika terjadi sesuatu secara niskala, si Guk-Guk akan menyalak sebagai pertanda kepada tuan rumah untuk waspada. Padahal, jika dibiarkan berkeliaran, si Guk Guk yang tengah terjangkiti rabies berpotensi untuk menyerang orang. Akan berbeda jika si Guk Guk diikat disekitar rumah. Kemudian, hal menarik lainnya adalah tentang keamanan. Si Guk Guk dibiarkan berkeliaran untuk menakut-nakuti orang-orang yang tidak dikenal agar tidak berbuat onar, misal ngutil atau maling.

Jika memang tikus telah terbukti sebagai perantara rabies, maka si Guk Guk yang telah mati bisa berpotensi dimakan oleh tikus itu sendiri, dan selanjutnya berpotensi gigit manusia. Jadi, permasalahan penanggulangan rabies bakal sulit jika pengaruh budaya masih dipertahankan oleh masyarakat Bali.

Pak Von pun menceritakan kekawatiran ibunya yang tinggal di New Zealand. Sang ibu berpikir berkali lipat untuk pergi ke Bali karena terjadi kekawatiran bahaya rabies. Ini hanya tanggapan dari satu orang, belum lagi dengan calon wisatawan lainnya. Pariwisata tidak pernah lepas dari isu keamanan, politik dan kesehatan.

Di sela-sela pertemuan itu, putra Pak Von bernama Semara selalu terlihat aktif disekitar saya. Termasuk unjuk kebolehan memainkan gamelan bersama bapaknya. Bagi saya, agak terlihat unik karena seorang bule dan anak blasteran itu memainkan alat-alat musik asli dari Bali. Semara sudah mampu membunyikan irama gamelan secara dinamis dan sepertinya sudah menjadi satu dengan feelingnya. Luar biasa. So, bagaimana dengan kita ? Bule aja bisa bermain musik gamelan, masa kita lebih tertarik ke piano ?. Ya, itu soal kesukaan sih.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Bagikan Yuk


1 Comment

  1. Cahya January 17, 2010 at 7:11 am

    Hmm…, tapi saya memang lebih anjing dilepas saja kalau memang sehat. Kasihan kan diikat :gaktau:

    Reply


Leave A Response