Ada pikiran ini di beberapa warga (anggota) PSHT, “Timbang nuruti wong nduwuran sing royokan balung, sakral sak morine di simpen sing apik… Fokus nyambut gawe, gawe masa depan anak bojo..!!” (Daripada nuruti maunya pengurus PSHT yang rebutan harta dan jabatan, seragam dan kain mori -ijazah wisuda PSHT- disimpan yang baik. Fokus aja kerja, untuk masa depan anak dan istri!).
Menurut saya itu kalimat pesimis, egois, su’udzon (berprasangka buruk), terkesan pembiaran dan tidak mau tanggungjawab terhadap keberadaan PSHT.
PSHT – Siapa dan apa sih PSHT itu?
PSHT singkatan dari Persaudaraan Setia Hati Terate, organisasi pencak silat nirlaba (non profit) berdiri sejak tahun 1922 di Madiun, Jawa Timur. Sudah lebih dari 100 tahun tetap tegak berdiri hingga sekarang dengan anggota lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan internasional.
Wow, PSHT itu non profit alias bukan seperti perusahaan bisnis. Maka Pengurus dan ngurusin PSHT tidak ada gaji, tidak ada deviden (uang bagi hasil), namun kokoh berjalan hingga ratusan tahun!
Urusin apa saja sih? Urusannya apa PSHT itu?
PSHT adalah pencak silat! Mempunyai kurikulum pelatihan dan pendidikan pengembangan diri berupa pencak silat yang ajarannya mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah. Masa pelatihan 3 tahun.
Roda organisasi PSHT bisa berjalan karena ada unsur: Siswa, Pelatih, dan Pengurus Organisasi.
Siswa mengikuti pelatihan selama 3 tahun melewati 4 tingkatan yaitu tingkat dasar (sabuk hitam), tingkatan sabuk jambon, tingkatan sabuk hijau, dan terakhir tingkatan putih. Setelah itu mereka naik tingkatan menjadi anggota PSHT atau biasa disebut Warga. Prosesi yang harus dilakukan untuk menjadi Warga PSHT adalah wisuda pengesahan. Tanda mata benda yang diperoleh adalah: Sakral (seragam) strip satu, ijazah/sertifikat, kartu KTA, dan kain mori (pengingat akan kematian).
Warga disumpah dalam Wisuda tersebut. Salah satunya sumpah untuk ikut mengembangkan PSHT dilingkungannya masing-masing. Sumpah inilah yang menjadikan warga bisa menjadi pelatih PSHT. Ya, membuka latihan PSHT atau ikut melatih.
Sumpah ini pula yang jadi latar belakang seorang warga akhirnya bisa menjadi pengurus organisasi PSHT.
Padahal, bisa saja warga ini langsung menghilang dari peredaran tidak urusin PSHT. Tapi kenapa masih saja ada warga yang repot-repot melatih dan mengurus organisasi PSHT?
Teruslah membaca ya …
Warga Punya Tanggung Jawab Keluarga dan Ekonomi
Warga juga manusia sosial yang punya istri, anak, dan pekerjaan untuk keberlangsungan ekonomi keluarga. Namun kenapa masih saja rela berkecimpung di PSHT yang tidak digaji?
Padahal urus keluarga sudah menyita waktu dan konsentrasi. Eh ketambahan urus PSHT. Melatih saja bisa 5 jam. Urus organisasi PSHT saja bisa berjam-jam tanpa mengenal waktu dan hari. Bahkan urusan keluarga kadang ditunda sejenak, keluarga harus dipaksa memahaminya.
Terkadang pintu rumah terkunci oleh istri. Tapi kenapa warga itu masih saja rela berjuang urus PSHT?
Proses Menjadi Pengurus atau Pelatih di PSHT
Keterikatan atas sumpah pada saat wisuda, para warga-warga akhirnya membuka tempat latihan dan bergantian menyusun waktu untuk melatih. Selain itu mereka dihadapkan dengan tanggungjawab baru sebagai pengurus organisasi PSHT.
Hadapi tanggungjawab baru sebagai pengurus, apakah warga tersebut langsung mau? Di hati sanubari terdalam, mereka tidak mau. Ada yang bicara menolak, ada yang terpaksa menerima.
Namun setelah adanya proses persuasif, negosiasi, dan kompromi tingkat tinggi, warga tersebut akhirnya mau jadi pengurus.
Kalimat sakti persuasif itu bisanya begini, “Ingatlah sumpah kita di malam wisuda. Menjadi pengurus itu amanah, penunjukan ini tandanya ada kemampuan, dan siapa lagi yang mau mengurus PSHT klo tidak Anda/Kita. Ayo dijalani saja.”
Saya melihat sendiri proses pemilihan Ketua Umum PSHT, Ketua Majelis Luhur dan Majelis Ajar PSHT tahun 2021. Kenapa saya ada disana? Karena saya termasuk anggota pimpinan sidang Perapatan Luhur PSHT. Tidak boleh bersuara namun hanya bisa melihat proses persuasif, negosiasi, dan kompromi tingkat tinggi.
Mas Taufiq dan Mas Edy Asmanto awalnya tidak mau menjadi Ketua. Namun karena kalimat sakti diatas yang terucap oleh Mas RB Wiyono, salah satu warga sesepuh PSHT, maka luluh lah hati beliau berdua.
Saya pun menolak ketika ditunjuk oleh Ketua Umum sebagai Ketua Biro Humas Pusat PSHT periode 2021 – 2026. Lagi-lagi kalimat sakti diatas yang akhirnya buat hati saya luluh.
Resiko Apa Saja Ketika Urus PSHT?
Waktu – Jelaslah akan banyak menyita waktu. Disaat harus urus keluarga, kerjaan, bisnis, tanggungjawab sosial di lingkungan, harus sisihkan waktu untuk urus PSHT. Melatih, rapat koordinasi, membina hubungan dengan pemerintah, lingkungan, dst.
Konsentrasi – Pikiran yang harus nya tercurah untuk keluarga, kerjaan, dan bisnis, harus rela terbagi untuk urus PSHT. Memikirkan siswa, pelatihan, dokumen, membuat proposal, narasi, berstrategi agar roda organisasi terus panas bergerak.
Sosial – Berkumpul/silaturahmi dengan keluarga besar, tetangga, teman ataupun kolega akan terbagi dengan silaturahmi bersama warga PSHT.
Peluang Ekonomi – Disaat harus berstrategi dengan urusan profesi atau bisnis yang bisa saja berpotensi ekonomi tinggi, ternyata harus rela membagi waktu dan konsentrasi dengan PSHT. Apakah cuan akan hilang? Wallahu a’lam bishawab, “Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran sesungguhnya”.
Klo Tidak Di Gaji Lantas Dapat Apa di PSHT?
Saya pribadi dari lahir ke dunia sudah tahu PSHT dan sejak tahun 1990 sudah berkecimpung di PSHT (36 tahun hingga saat ini tahun 2026). Mengalami menjadi siswa, warga, pelatih, hingga pengurus PSHT dari tingkatan cabang, provinsi hingga pusat.
Membersamai PSHT, Saya banyak berinteraksi dengan warga dan pengurus PSHT di Indonesia dan Internasional. Dan berupaya menyelami dan memahami mereka dari sikap, perilaku dan pemikirannya.
Menurut sependek pemahaman saya, berikut yang didapatkan oleh para warga yang aktif jadi pelatih dan pengurus:
- Investasi Spiritual
Aktif di PSHT menjauhkan diri dari kegiatan yang berpotensi maksiat. Tidak sempat ke diskotik, tidak ke tempat prostitusi, tidak ke tempat judi. Sikap, perilaku dan pemikiran akan tercurah untuk PSHT. Semua anggota tubuh akan bersaksi didepan Tuhan YME pada Yaumul Hisab. Para warga meyakini bahwa aktivitas melalui PSHT itu menebar kebaikan dan kebermanfaatan. InshaAllah mendapat pahala dari Tuhan YME. - Investasi Sosial
Hubungan sosial di PSHT berlandaskan Persaudaraan. Para warga akan terus menerus berkumpul dan bersilaturahmi satu sama lain hingga akhir hayat. Baik itu untuk tema persahabatan, berorganisasi, hingga tema suka dan duka. Almarhum Bapak Saya ketika pensiun dari pegawai negeri masih aktif urus PSHT. Melatih dan berorganisasi. Siswa dan warga sering datang silaturahmi. Ketika meninggal, banyak warga PSHT yang datang dan ikut mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Begitupula Mas Ketua Umum dan jajaran senior sepuh lainnya, masa pensiun dan masa tua nya masih mengurus PSHT. - Investasi Ilmu dan Pengembangan Diri
PSHT sebagai institusi pelatihan pengembangan diri, banyak melahirkan pemikir-pemikir filsafat dan falsafah kehidupan. Beragam kategori keilmuan bisa didapatkan warga PSHT ketika bersilaturahmi. Baik itu ilmu agama, sosial budaya, filsafat, teknik pencak silat, hingga ilmu ekonomi. Hal ini tidak terlepas dari beragam latar belakang profesi masing-masing warga. Ada yang jadi Jendral, pegawai negeri dan swasta, guru, wirausaha, dan profesional lainnya.Aktif di PSHT juga memberi wadah untuk merasakan memimpin dan dipimpin. Melatih diri agar percaya diri, mampu berbicara terstruktur, negosiasi, lobi, manajerial SDM, dan mengelola konflik. Pengalaman tersebut bisa diterapkan di lingkungan lain. - Investasi Kesehatan
PSHT adalah pencak silat. Jelas ada aktivitas olahraga. Maka berlaku “Men sana in corpore sano” yang diartikan “Di dalam pikiran yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat”. Aktivitas di PSHT ada lari, jalan kaki, tendangan, pukulan, teknik kuncian, hingga pernafasan. Semua bisa dilakukan dari usia dini hingga lanjut usia.Aktif di PSHT juga memancing keluarnya hormon kebahagiaan dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin. Keempat hormon secara alami muncul melalui olahraga, meditasi, dan interaksi sosial yang positif untuk mengurangi stres. - Investasi Ekonomi
Merujuk kegiatan PSHT yang sering silaturahmi, berkumpul bersama, ditambah penerapan nilai dan budaya PSHT, maka melahirkan kepercayaan tinggi (high trust community) diantara sesama warga PSHT. Memungkinan terjadinya kolaborasi bisnis sesama warga. Ataupun terjadi hubungan profesional ekonomi diantara mereka. Ada warga yang punya bisnis dan staf nya adalah sesama warga lainnya.
PSHT itu Non Profit, Jalankan Organisasi Butuh Dana, Kenapa PSHT Masih Eksis Ratusan Tahun?
Pelatihan di PSHT menerapkan iuran bagi siswanya. Prosesi Wisuda Pengesahan juga memungut iuran bagi calon warga nya. PSHT juga menerima dana hibah dari pemerintah. Juga donasi dari sponsor (warga maupun pihak swasta).
Iuran, hibah, dan donasi tersebut masuk ke kas organisasi PSHT baik ditingkat rayon, ranting, cabang hingga pusat. Lantas digunakan apa dana nya?
Dana tersebut untuk operasional organisasi meliputi biaya sewa tempat latihan/acara tertentu, listrik, ATK, konsumsi acara PSHT, transportasi ataupun akomodasi pelatih dan pengurus. Bilamana berlebih, digunakan untuk membangun padepokan/sekretariat organisasi.
Tata kelola belanja operasional tersebut harus obyektif dan transparan. Terkadang digunakan untuk insentif/bonus bagi pengembangan prestasi. Merujuk ke pemerintah yang terkadang ada alokasi dana untuk memacu prestasi.
Jadi itulah, warga tidak hidup dari PSHT namun warga berusaha menghidupkan PSHT.
Bagikan Yuk






