Bapak Jatuh Dari Kamar Mandi

Menjelang malam tahun baru 2021 pukul 19.30 WITA, telpon datang dari Pak Yanto tetangga Bapak saya di Pacitan sana. Pak Yanto bilang, “Hen, bagaimanapun caranya kamu harus pulang, Bapakmu kritis! Lemas, di tempat tidur gerakannya pelan seperti orang yang tidak sadar. Mohon maaf ya, Bapakmu tingkah nya seperti tanda-tanda orang yang mau meninggal.

Blaaar memutar otak. Kondisi pandemi seperti ini transportasi yang cepat serba sulit. Baik itu pesawat maupun bus malam. Mobil satu-satunya pun sudah terjual efek dari krisis ekonomi di masa pandemi. Dana pribadi menipis juga.

Pandemi ini menimbulkan krisis ekonomi yang sangat hebat. Alhamdulillah nya saya sekeluarga masih bisa makan, bisa kasih ke istri dan sekolahkan anak-anak, bayar kebutuhan rumah seperti listrik, phone, dan internet. Bayar hutang hehehe. Bisa berkirim ke Bapak juga secukupnya. Kemudian masih bisa menggaji anak buah di BOC Indonesia.

Menyisakan uang sisa untuk jajan atau menabung sangatlah sulit.

Dalam kebingungan itu, ternyata semesta mendukung. Pertolongan Allah datang melalui Mas Khairul. Dia WA saya bilang, “Mas Hendra! Alhamdulillah client sewa jet dari Russia sudah transfer, ini buktinya,” sambil forward foto bukti pembayaran.

Dengan sangat cepat saya balas, “Alhamdulillah Ya Allah. Tapi Bapakku lagi kritis mas. Aku butuh dana untuk pulang.

Mas Khairul balas, “Oke Mas Hendra butuh berapa?

Saya menyebut 6 digit dan Mas Khairul langsung transfer uang. Saya tumben-tumben nya hutang ke sahabat dekat dan itu baru kali ini saja. Saya beranikan diri hutang karena berharap dari komisi sewa jet untuk pengembaliannya.

Mas Khairul, Saya dan Pak Anton pada akhirnya berkolaborasi bersama untuk usaha Charter Jet. Saya bertugas mencarikan client lewat online, memastikan website nya selalu di top 10 Google Search. Pak Anton bertugas cari pesawat jet nya. Mas Khairul bertugas jadi CS yang melayani chat/telpon dari calon client. Bagian juru closing lah hehehe.

Kembali ke cerita. Alhamdulillah masalah dana teratasi. Kebingungan selanjutnya, naik apakah saya ke Pacitan sana? Rumah Bapak saya di pegunungan Pacitan, Jawa Timur.

Sebelum Pandemi Covid menyerang, saya tinggal injak gas klo keluar kota. Mobil ada. Namun krisis pandemi ini merengut mobil kesayangan harus terjual. Menutupi kekurangan.

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA. Bus antar pulau sudah berangkat jam 6 sore tadi. Pesawat? Sudah tidak memungkinkan. Akhirnya istri punya solusi, meminjam mobil saudara, ke Purwono namanya. Tujuannya mengantar saya ke Pelabuhan Gilimanuk di ujung barat Pulau Bali sana. Harapannya di Banyuwangi mendapatkan bus ke Surabaya. Alhamdulillah bisa pinjam mobil. Thanks Pur!

Kemudi saya pegang dan gas ke pelabuhan Gilimanuk, Bali. Butuh waktu 3 jam untuk sampai pelabuhan. Kira-kira 3 kilometer sebelum Gilimanuk, saya menyalip bus Rasa Sayang dan ada secercah harapan untuk bisa ke Surabaya. Saya tahu bahwa bus itu biasanya jurusan dari Bima ke Jakarta.

Ketika bus sampai parkiran luar pelabuhan, saya datangi dan ada kursi kosong. Rp. 200.000 sopir meminta. Tidak boleh kurang akhirnya deal! Saya duduk di 2 kursi kosong hehehe. Tidur pun tambah enak. Alhamdulillah.

Surabaya – Pacitan

Sampai di terminal Bungurasih pukul 07.00 WIB. Cari bus jurusan Mojokerto. Kemudian setibanya di terminal Mojokerto cari bentor (becak motor) menuju ke Poh Gurih, rumah paman saya. Berjarak 3 kilometer.

Sesampai di rumah paman pukul 09.00 WIB. Sarapan pagi disana dan mempersiapkan mobil nya paman. Ya, saya meminjam mobil Panther Grand Touring nya untuk ke Pacitan. Tujuannya untuk antar Bapak ke Rumah Sakit Ponorogo bila memang benar-benar membutuhkan.

Dah Hen, pake-pake aja, jangan keburu-buru pulang,” pesan nya paman ke saya. Siap Lik!

Pukul 11.00 WIB ngegas ke Pacitan. Dari Mojokerto menyusuri Jombang, Kertosono, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Slahung hingga mulai naik ke gunung (presneling 1 dan 2 saja) menuju desa Wonosobo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Sampai di rumah Pacitan pukul 15.00 WIB. Butuh waktu 19 jam dari Denpasar ke rumah Pacitan. Fyuh.

Bapak Harus Ke Rumah Sakit

Kondisi Bapak sungguh menyedihkan. Tiduran di atas lantai beralaskan 2 kasur. Tidak diatas dipan karena takut jatuh dan memang sudah pernah jatuh.

Kakinya tertekuk tidak bisa lurus. Balutan daging di kaki sudah susut, mengecil. Sudah sebulan Bapak berbaring di tempat tidur sehabis jatuh terpeleset di kamar mandi. Mengeluh kakinya gemetaran dan sakit.

Selama sebulan itulah tidak ada pergerakan di kaki-kakinya sehingga kaki itu menyusut, kaku dan sulit untuk lurus. Sedih rasa hati ini. Krisis pandemi benar-benar membuat saya mati kutu nggak bisa bergerak untuk pulang ke Pacitan.

Sore itu saya harus membiasakan diri mengganti pampers. Bapak hanya bisa pipis dan BAB di tempat tidur. Maka harus gunakan pampers. Agak kikuk juga.

Saya beri makan dan hanya bisa 2 sendok saja. Sisanya tidak mau. Bapak sudah jarang omong. Biasanya rame. Tubuhnya melemah, tangannya bergerak pelan kemana-mana.

Pagi harinya, kondisinya masih melemah, makan tidak mau. Minum hanya sedikit. Tidak tahan melihat Bapak akhirnya saya putuskan:

Bapak harus dibawa ke Rumah Sakit. Adek-adek siapkan baju dan dokumen-dokumen nya Bapak. Ayo menata kasur taruh di bagian belakang mobil. Trus kita angkat Bapak ke Mobil.” Perintah saya ke adik-adik. Mereka ngumpul semua di Pacitan. Ada Hendy, Yulia dan Dimas.

Tantangan terberat adalah mengangkat Bapak ke Mobil. Akhirnya bisa. Saya bawa perlahan-lahan menyusuri jalanan pegunungan Pacitan untuk turun ke RSUD Harjono, Ponorogo.

Kenapa kok Ponorogo? Karena justru lebih dekat ke Ponorogo daripada ke Pacitan.

7 Hari di RSUD Harjono

Hampir 2 jam lebih perjalanan dari rumah Pacitan ke RSUD Harjono, Ponorogo. Bapak langsung saya drop ke IGD. Lagi-lagi harus angkat Bapak ke tempat tidur berjalan.

Tindakan yang dilakukan di IGD adalah harus cek darah untuk test covid, hasil laboratorium, ronsen, mendaftarkan Bapak ke RSUD agar dapat kamar. Hampir 3 jam di IGD.

Bapak akhirnya negatif covid dan diarahkan ke ruangan HCU (High Care Unit). Butuh pengawasan langsung oleh perawat RSUD. Ruangan besar itu terisi sekitar 10 pasien. Tidak ada tempat istirahat bagi penunggu kecuali kursi saja. Maka kami berempat harus tidur di luar ruang HCU.

Supaya kesehatan dan kenyamanan terjaga bagi saya dan adek-adek, maka saya putuskan untuk cari indekost disekiaran RSUD Harjono. Alhamdulillah dapat di depan RS. Cukup murah Rp. 200.000 selama 1 minggu untuk sewa kamar. Plus bisa mandi dan cuci baju.

Meski ada kamar kost, kenyataannya kami lebih suka tidur di ruang tunggu HCU beralaskan tikar kain sambil jaga Bapak. Kontan kamar kost hanya dipakai untuk mandi dan cuci baju saja hehehe.

Selama 7 hari, Bapak harus transfusi darah sebanyak 5 kantong darah. Hasil lab menunjukkan bahwa kadar HB dan trombosit dalam darah Bapak merosot tajam. Hampir mendekati nol!

Bapak sebelumnya seperti orang yang sakaratul maut. Banyak teman dan keluarga yang sebelumnya prediksi Bapak bakal tidak kuat dan meninggal.

Saya pasrah namun terus ikhtiar dan doa, berjuang untuk mengobati Bapak. Urusan hidup atau mati ada ditangan Allah SWT.

Bantuan Berdatangan

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rumah Sakit nya gratis karena Bapak ikut asuransi ASKES ketika jaman jadi PNS. Namun yang harus dipikirkan selanjutnya adalah pengeluaran untuk transportasi, kebutuhan Bapak selama di rumah Pacitan.

Dia pun mengirimkan saudara-saudara pencak silat PSHT dari Cabang Mojokerto dan Pacitan berduyun-duyun membesuk Bapak selama di RSUD Harjono.

Bisa dibilang ratusan saudara seperguruan itu datang menjenguk sesepuh PSHT yang ikut membesarkan PSHT di daerah Mojokerto. Bapak sendiri pernah jadi ketua cabang nya sebanyak 2 periode.

Bantuan dari para saudara itu ikut meringankan perjalanan Bapak selanjutnya.

Tiba saatnya pada 6 Januari 2021, Bapak diperbolehkan pulang oleh pihak RS. Kami dibantu 2 perawat memindahkan Bapak dari tempat tidur ke mobil. Lumayan olah raga hehehe.

Ada satu tantangan lagi ternyata. Saya harus menerima kenyataan bahwa adik saya paling akhir, Dimas mengalami gangguan jiwa lagi. Selama di RSUD dia terdiam, tidak omong sama sekali. Tidak mau makan dan seperti patung. Ya Allah.

Akhirnya bisa saya bawa ke mobil untuk ikutan pulang ke rumah Pacitan walau dengan cara agak keras.

Sebelum pulang, saya harus membeli kursi roda untuk Bapak di Ponorogo. Maksudnya biar Bapak punya kesempatan jalan-jalan di sekitaran rumah.

Oke, saatnya tancap gas bermain gigi 1 dan 2 naik kembali ke pegunungan Pacitan.

Internet Save Me

Bagaimana dengan bisnis saya di BOC dan lainnya? Saya remote dari rumah pegunungan Pacitan dengan teknologi. Ya, saya gunakan laptop dan internet dari handphone untuk urus bisnis-bisnis tersebut.

Sinyal internet yang memungkinkan di daerah sana adalah milik provider Telkomsel dengan kartu jenis Halo. Alhamdulillah lancar untuk urusi email, browsing, messenger, hingga zoom meeting.

Urusi bisnis itu saya lakukan disela-sela melayani segala kebutuhan Bapak. Mulai dari memasak, suapi makan Bapak, minum obat, ganti pampers sehari 2x, mandi’in pake lap, angkat dan turunkan Bapak di kursi roda, cuci gelas piring dan perabotan masak, bersih-bersih rumah, cuci baju celana, hingga urusi Dimas yang lagi gangguan jiwa tadi. Wuuaah keren ternyata. Alhamdulillah bisa.

Selama 17 hari saya di rumah Pacitan. Hingga akhirnya ada panggilan tugas urusi Sorgum di Situbondo pada 16 Januari 2021.

Adik saya Yulia sudah standby di rumah Pacitan ketika saya mau berangkat ke Situbondo. Kami para anaknya Bapak berkomitmen untuk saling giliran menemani Bapak. Bismillah.

Pesan dari peristiwa ini untuk para kita semua, “Perhatikan kamar mandi kalian. Bersihkanlah dan jangan sampai lumut melicinkan lantainya. Segera tangani orang tua yang sakit. Penundaan akan berbuah penyesalan.

Bagikan Yuk

Comments are closed.