Duel Dengan Berandalan Bukit Jimbaran! Wayan Gabror

Medio tahun 1997, Saya terlibat duel dengan berandalan Bukit Jimbaran. Awalnya satu lawan satu. Keesokan harinya si berandalan itu balas dendam bawa kisaran 5 temannya bawa pentungan kayu. Gimana nasib Saya? Teruslah baca.

Wayan Gabror Hendra

Semasa kos di Kedonganan, Bali kisaran tahun 1997, saya mempunyai warung langganan nasi goreng persis seberang jalan namanya warung Banyuwangi milik Pak Doyok. Suatu malam saya bersama teman-teman Romli, Budi dan Kajok selesai menikmati nasi goreng disana. Sudah selesai bayar dan mau pamitan pulang tiba-tiba kedatangan seorang tinggi besar berotot tanpa baju, mabuk duduk dengan kaki selonjoran menghalangi jalan keluar warung. Saya memutuskan untuk keluar duluan melangkah diantara kakinya orang itu dan merasakan kaki ini kesandung. Mungkin karena jalan saya terlalu cepat dan senggol kaki nya dia maka saya bilang maaf ke orang itu. Dia cuma menatap saya dengan pandangan sayu khas orang mabuk.

Selanjutnya giliran Kajok keluar warung dengan melangkah di antara kaki orang tersebut. Yang terlihat oleh mata saya adalah Kajok sengaja di jegal oleh orang itu. Berarti saya tadi di jegal dia dong. Wah nggak beres ini. Kajok cuma bilang, “Loh kok di jegal?”. Orang itu jawab lirih “Apa khe!”.

Saya segera teriak ke Kajok untuk diam dan segera keluar. Budi yang keluar pun di jegal dan dadanya kena tendangan kaki dari orang itu. “Sudah Bud, sabar diam saja”, bisik saya lirih. Romli masih di dalam warung dan didatangi oleh orang itu. Entah apa yang dibicarakan namun yang terlihat Romli di dorong oleh orang itu. Saya pun teriak ke Romli untuk jangan di lawan dan segera keluar, karena kawatir akan temperamental Madura nya keluar. Saya mikir keselamatan warungnya Pak Doyok jika ada perkelahian.

Orang Itu Berandalan Bukit Jimbaran, Musuh Para Mahasiswa Perantauan

Saya sebenarnya tahu orang itu. Dia sangat terkenal di Bukit Jimbaran. Berandalan Bukit Jimbaran bernama entah Wayan Gabror atau Gablor. Ya Saya panggil Gabror sajalah. Saya dengar dari teman-teman mahasiswa, Si Gabror sering buat onar, suka mabuk, suka teror di lingkungan kos-kosan anak mahasiswa perantauan. Contoh: Ada anak-anak mahasiswa perantauan lagi bakar-bakar ikan. Eh Si Gabror datang kencing di perapian tempat bakar ikan. Brekele!

Kembali ke peristiwa di Warung Pak Doyok. Setelah Saya dan teman-teman diluar, kami cepat-cepat starter motor, Wayan Gabror mendekati kami sambil teriak-teriak dalam bahasa Bali yang sekilas terdengar “Ni nak Bali! Chi nak Jawe sing macam-macam!”. Saya bilang ke teman-teman untuk cabut menuju pantai Kedonganan biar Wayan Gabror tidak tahu tempat kos kita. Yang sebenarnya di depan warung Pak Doyok. Sesampai di pantai, kami geregetan tidak bisa berbuat sesuatu untuk hajar orang tersebut mengingat keberadaan warungnya Pak Doyok yang harus diselamatkan.

Hantam si Gabror di Depan Kampus Politeknik Bali – Bukit Jimbaran

Sebulan telah berlalu, menginjak di bulan puasa dan musimnya para mahasiswa ikut ujian akhir semester (UAS). Selesai ujian Saya mau pulang dan berjalan menuju pelataran parkir.

Sambil jalan, didepan melihat si Wayan Gabror sedang nongkrong menunggu pacarnya yang ternyata teman satu kampus saya, Desak namanya. Mata saya melotot lama memandangi Gabror sambil menuju ke parkiran. Gabror juga sama-sama membalas dengan pandangan menantang. Bergemuruh dada ini mengingat peristiwa di warung Pak Doyok sebulan lalu. Saya memutuskan untuk beri pelajaran Gabror. Melawan dan menunjukkan mahasiwa perantauan punya harga diri dan tidak lagi jadi bahan bulian.

Ketika dijalanan pulang, laju motor saya perlambat. Sambil membonceng Andre Yudanegara, saya melihat Desak berlalu salip sambil menyapa. Selanjutnya saya menunggu Gabror lewat. Namun lewat kaca spion, Saya lihat dia melambat di belakang agak jauh. Nggak mau salip Saya.

Saya gemas dan berpikir memancing Gabror agar mau lewati Saya yaitu dengan jalankan motor zig-zag. Aha benar, dia terpancing untuk mendekati saya. Ketika sudah dalam posisi bersebelahan, Gabror teriak ke saya “Mau apa khe gaya sekali di jalan!”. Saya balas ucapan itu dengan teriak “Minggir kamu!”. Berada di pinggir jalan depan Politeknik Negeri Bali kami berhenti.

“Ada apa kamu minta aku minggir” tanya Gabror.
Saya jawab, “Aku mau tanya ke kamu, ingatkah sebulan lalu di warung Pak Doyok Kedonganan kamu jegal aku dan teman-temanku?”.
“Iya aku ingat, memangnya kenapa? Teman-temanku yang kuliah di Malang juga sering diintimidasi oleh nak Jawa”, timpal Gabror.
Kaget dan heran. Kok saya dan teman-teman yang dijadikan bahan intimidasi balik oleh Gabror. Saya jelaskan, “Aku tidak tahu kejadian di Malang dan aku mau kuliah di Bali dengan tenang. Urusan di Malang jangan dibalaskan ke Bali”.
Gabror rupanya masih ingin lanjut dengan bilang, “Trus maumu apa?”.
“Ya sudah ayo kita selesaikan disini”, teriak saya sambil titipkan kacamata dan helm ke Andre. Kita bertarung, duel, saling tendang pukul, bergulat sampai tengah jalan memacetkan lalu lintas kampus.

Perkelahian kami terhenti karena kehabisan tenaga. Dengan tersengal-sengal saya tunjuk ke mukanya dia dan bilang, “Aku masih belum puas, awas kamu kalau begituin lagi ke aku dan teman-temanku!”.
Gabror menimpali, “Ayo aku masih tetap disini, cari aku kapan saja!”.
Sambil terhuyung, kacamata dan helm saya minta di Andre. Starter motor antarkan Andre pulang ke kosan nya, kemudian saya langsung pulang ke Kedonganan.

Sesampai di kosan meratapi nasib, mata saya memar dan rambut gondrong kesayangan rontok di bagian tengah. Tapi cukup menghibur diri tadi lihat mulutnya Gabror keluar darah. Muncul Romli datang dari kampus sambil teriak bertanya kepada saya tentang apa yang terjadi. Setelah tahu ceritanya, Romli bergegas mau ambil celurit nya dan mau carok katanya. Saya tersenyum kecut dan bilang “Nggak usah”.

Serangan Gabror dkk di Kampus

Besoknya saya mengikuti ujian seperti biasanya. Kebetulan saya lambat mengerjakan soal-soal ujian sambil memastikan semua jawaban terisi. Setelah seisi kelas kosong dan dosen berlalu pulang, tiba-tiba teman saya Antok sambil tergopoh memberitahu bahwa ada Wayan Gabror dan teman-temannya membawa pentungan kayu dibawah mencari saya. Antok menyarankan saya tetap di lantai atas dan bersembunyi. Saya tersenyum kecut sambil rasakan denyut jantung yang sontak terasa memompa dengan cepat. Gara-gara dengar kata Pentungan Kayu! Hahaha.

“Nggak, aku harus hadapi mereka”, itu ucap saya ke Antok. Berandalan harus ditumpas di tanah Bukit Jimbaran! Sambil terus berjalan pelan menuruni tangga kampus, keluar pintu kampus ternyata suasana jadi hening. Ada ratusan teman-teman kampus pada memandang saya dan terdiam. Ayunan kaki tetap berjalan menuju parkiran sambil melihat Wayan Gabror berlari menghampiri. Kacamata saya copot dan beberapa detik kemudian tangan ini sibuk menangkis serangan dari Gabror. Tidak ada upaya menyerang balik ke Gabror dan malah wajah ganteng ini sengaja saya buka agar menerima satu kali pukulan darinya. Selebihnya adalah tangkisan. Biar semua tahu bahwa Saya ini mahasiswa cinta damai dan Saya jadi korban!

Hendra

Perkelahian itu dilerai oleh teman saya Indra Wicaksono dengan teriak “Wooi ini kampus! bukan tempat berantem! lanjutkan saja di luar kampus”. Gabror terhenti dan sejurus kemudian teman-teman nya berdatangan sambil bawa pentungan kayu di tangan. Sambil menunjuk ke muka saya, Gabror bilang akan menunggu dibawah. Saya disuruh keluar pagar kampus untuk melanjutkan tarung. Kemudian Gabror dan temannya berlalu. Dengan terbengong melihat pentungan kayu yang cukup banyak, lalu tubuh saya digoncang oleh Indra sambil memberikan solusi penyelesaian.

“Kamu jalan kaki ke gedung Sekretariat Program Studi. Kujemput disana. Motormu biar dibawa Andre,” bisik Indra ke kuping Saya.

Saya berjalan kaki 500 meter menuju gedung kampus kami lainnya. Indra dengan mobil nya Daihatsu Taft Hiline akan menjemput disana. Motor saya titipkan ke Andre dan Antok untuk dibawa pulang. Oleh Indra, saya dimasukkan ke kolong di belakang jok sopir dalam posisi tidur ditutupi dengan banyak tas.

Apakah aman? Ternyata belum. Di beberapa ratus meter kemudian mobil Indra di hadang oleh kawanan Wayan Gabror dan mereka tanya keberadaan saya. Mereka sempat melongok ke dalam mobil, sedangkan mata Saya terpejam, mulut komat kamit doa sambil bayangkan pentungan kayu itu. Allah Maha Kuasa, sandiwara Indra dan Rendy berhasil yakinkan mereka bahwa di mobil itu tidak ada saya. Selanjutnya perjalanan mulus 1 jam sampai kota Denpasar dengan posisi saya masih tidur di belakang jok sopir.

Taft

Di lain waktu akhirnya Andre dan Antok cerita kalau mereka diuber oleh kawanan Wayan Gabror, kemudian sempat merasakan pukulan helm karena bilang tidak tahu posisi saya dan hanya dititipin motor saja. Rupanya diantara kawanan Wayan Gabror ada teman kampus kami bernama Putu Ari alias Boni bersama mereka. Entah mendukung mereka atau sekedar takut karena pengaruh Wayan Gabror.

Bukit Jimbaran Hancur Bila Hendra Cidera

Badan ini panas dingin ketika tahu Wayan Gabror mengerahkan massa untuk menghadapi secuil duel ini. Terpikirkan tentang masa depan jika masalah ini tidak segera selesai maka saya bakal jadi bulan bulanan di kampus sana, oleh Wayan Gabror dkk. Indra berusaha menenangkan hati ini dan menawarkan solusi untuk mengerahkan anak-anak Sudirman untuk mengakhiri petualangan Wayan Gabror. Maksud Sudirman disini adalah nama jalan di kota Denpasar yang menjadi tempat komando dan perumahan tentara Kodam IX Udayana. Indra akrab dengan anak-anak tentara disitu dan akan mengerahkan mereka untuk datangi Jimbaran.

Malamnya, kami berdelapan berangkat dari Denpasar ke Jimbaran terdiri dari 3 anak kampus dan 5 anak-anak tentara Kodam IX Udayana. Saya ditenangkan oleh Mas Kunto, salah satu anak tentara berbadan gempal yang ternyata dia pernah tinggal di Mojokerto karena Bapak nya pernah berdinas di Dandim Mojokerto. Wuah klop!.

Satu jam kemudian kami sampai di kosan Boni, teman satu kampus yang kami anggap berpihak ke Wayan Gabror. Berdelapan kami masuk ke kamar kos itu dan Mas Kunto yang lebih banyak bicara dengan Boni. Intinya Mas Kunto memperkenalkan diri dan mengajak Boni serta kawanan Wayan Gabror untuk menyudahi masalah. Sebetulnya banyak ancaman yang keluar dari mulutnya Kunto jika masalah ini berlanjut. Yang jelas jika berlanjut maka bukan lagi menjadi masalah saya namun bakal jadi masalah antara Sudirman dan Bukit Jimbaran. “Keren”, batin saya.

Yang paling keren dari Mas Kunto: Sambil menginjak kepala Boni dan bilang, “Bila Hendra Cidera, Bukit Jimbaran akan hancur!”

Indra Wicaksono

Terpaksa Merokok dan Puasa Batal!

Keesokan harinya saya datang ke kampus Bukit Jimbaran dengan rasa yang agak lega. Dalam ruangan kuliah kami menyimak penjelasan dosen tentang pembagian jurusan. Tiba-tiba deretan bangku belakang gaduh karena ada orang di luar jendela yang melongok ke dalam ruangan kuliah. Orang itu ternyata Wayan Gabror. Indra kemudian berinisiatif menemui dia dan selanjutnya memanggil saya untuk keluar ruangan gantian menemui Wayan Gabror.

Saya dan Wayan Gabror berdiri didepan gedung kampus. Dalam keheningan itu saya menjulurkan tangan sambil meminta maaf atas duel itu. Wayan Gabror membalas menangkap telapak tangan saya dan bilang, “Ya nggak apa, santai aja, kita klir”. Untuk melepaskan sesak di dada, saya meminta rokok ke Wayan Gabror dan dia menjulurkan satu bungkus Marlboro Light. Rokok menyala dan saya sedot dalam-dalam masuk ke dada kemudian hembuskan lagi keluar sebagai tanda bahwa puasa hari ini saya batalkan!. Mohon maaf ya Allah hehehe.

Dalam hati bilang, semoga tidak ada lagi aksi berandalan si Wayan Gabror di Bukit Jimbaran. Semoga teman-teman yang kos di Bukit Jimbaran tidak diintimidasi lagi.

Terima kasih atas perlindungan Allah SWT dan solusi dari Indra, Rendy, Andre, Antok, Mas Kunto dan teman-teman Sudirman nya. Serta Wayan Gabror dan Putu Ari aka Boni. Semoga kalian bahagia dan sukses mulia!. Alhamdulillah dengan pencak silat PSHT.

Kita ini tidak bisa negosiasi dengan Tuhan YME agar bisa lahir di lokasi tertentu, suku tertentu dan melalui rahim ibu tertentu. Tanah ini, bumi ini, jagat raya ini sejatinya milik Tuhan YME. Kita terlahir ini untuk menyembahNya dan bukan untuk memusuhi ciptaanNya!

Cerita ini hanyalah peristiwa perjuangan berbudi luhur tahu benar dan salah serta indahnya perdamaian 🙂

Foto Foto Dul Kribo hasil penajaman oleh AI

Dul Kribo

Dul Kribo

Acara debat Para kandidat Ketua Senat Program Studi Teknologi Pertanian (Kini Fakultas Teknologi Pertanian).

Dul Kribo

Dul Kribo

Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) PSTP.

Ayo share

Bagikan Yuk