Dul Kribo, Siswa PSHT (isunya Aleman) Jadi Bukti Keberhasilan Ajaran SH Terate!

Alkisah Tahun 1990 ada seorang siswa PSHT bernama Dul Kribo, yang bapaknya jadi Ketua Cabang PSHT. Kabar burung mengatakan Dul Kribo selama latihan diisukan aleman (manja), dan sering dihukum karena bandel. Kemudian tahun 1993 berhasil wisuda jadi warga PSHT tingkat 1. Selanjutnya:

1. Pada tahun 2017 Dul Kribo diberi amanah jadi Anggota Dewan Pertimbangan Cabang PSHT.
2. Tahun 2019 di lantik jadi plt Ketua Pengurus PSHT Provinsi.
3. Tahun 2020 di lantik jadi Anggota Biro Humas Pengurus Pusat PSHT sekaligus lulus latihan tingkat 2 dan disahkan menjadi warga tingkat 2 PSHT.
4. Tahun 2021 dipilih jadi anggota pimpinan sidang pada PARLUH PSHT 2021.
5. Di tahun yang sama diberi amanah menjadi Ketua Biro Humas Pusat PSHT hingga sekarang.

Dul Kribo PSHT

Mengingat jaman dulu Dul Kribo diisukan jadi siswa aleman, apakah Dul kribo jadi insan gagal, nggak boleh sukses di PSHT?

Tentu saja sangat boleh. Kisah perjalanan Dul Kribo justru menjadi bukti nyata keberhasilan ajaran PSHT dalam mendidik dan mentransformasi karakter manusia.

Jika ada pihak yang memandang miring kesuksesan seseorang hanya karena masa lalunya yang aleman (manja) atau sering kalah tanding, mereka sedang melupakan hakikat dasar ajaran perguruan:

PSHT Adalah Kawah Candradimuka, Bukan Arena Instan

PSHT didirikan bukan hanya untuk mencetak atlet sabung atau jagoan gelanggang, melainkan mendidik manusia agar berbudi luhur tahu benar dan salah.

1. Siswa yang berkarakter aleman di masa lalu lalu berhasil ditempa hingga bertahan puluhan tahun menunjukkan bahwa sistem gemblengan mental PSHT bekerja dengan baik.

2. Jika seseorang tidak boleh sukses hanya karena masa lalunya aleman dan bandel, berarti ajaran perguruan dianggap gagal mengubah manusianya. Keberhasilan Dul Kribo justru membuktikan bahwa ajaran SH Terate mampu mengubah pribadi yang nakal menjadi sosok yang tangguh dan berdedikasi.

Rekam Jejak 30 Tahun yang Matang dan Berproses

Karier organisasi Dul Kribo tidak didapat lewat fasilitas “karpet merah” atau jalan pintas:

1. 27 Tahun Menuju Tingkat 2 (1993 – 2020): Rentang waktu hampir tiga dekade dari pengesahan Tingkat 1 hingga disahkan menjadi Warga Tingkat 2 adalah bukti proses panjang, ketaatan pada aturan, dan kematangan batin yang teruji waktu.

2. Bertahap Dari Bawah: Pengabdiannya merambat secara berjenjang—mulai dari Dewan Pertimbangan Cabang, Plt Ketua Pengurus Provinsi, Anggota Biro Humas, hingga dipercaya menjadi Anggota Pimpinan Sidang Parluh 2021 dan Ketua Biro Humas Pusat. Ini adalah rekam jejak pengabdian, bukan jabatan karbitan.

Pengabdian Organisasi Butuh Olah Rasa dan Olah Pikir

Panggung organisasi tingkat pusat seperti Humas dan Pimpinan Sidang Parapatan Luhur membutuhkan kapasitas yang berbeda dengan pertandingan fisik di atas matras:

1. Jabatan struktural membutuhkan kemampuan komunikasi, diplomasi, kecerdasan manajerial, dan ketenangan batin (olah rasa).

2. Seseorang yang masa mudanya lembut dan berproses lewat dinamika kehidupan sering kali memiliki kepekaan emosional dan daya tahan mental yang lebih tinggi dalam mengelola konflik organisasi dibanding sekadar mengandalkan otot.

Mereka yang mencibir masa lalu Dul Kribo adalah kelompok yang terjebak pada stigma masa lalu dan pemikiran kerdil. Di dalam rumah besar PSHT, ukuran kemuliaan seorang warga bukanlah seberapa perkasa ia di masa siswa, melainkan seberapa besar konsistensi, kesetiaan, dan sumbangsih pengabdiannya bagi marwah organisasi hingga hari ini.

Ayo share

Bagikan Yuk