MASJID MAKMUR Lantas UmatNya Gimana?

Kotbah Jum’at tadi (21 Agustus 2020) bilang, “Salah satu tanda umat beriman adalah menjaga zakat dan sedekah” Tak salah jika cashflow paling meningkat di masa pandemi ini adalah Masjid.

Tadi saya ketemu dengan sahabat sesuai sholat Jum’at dan melontarkan pertanyaan, “Masbro, apakah Masjid jadi institusi yang memakmurkan umatNya selama masa pandemi ini?”

Sahabat tersenyum sambil cerita, “Ada si Fulan, rumahnya dekat dengan masjid, keadaannya serba kekurangan pada saat pandemi. Istrinya sakit, dia kena PHK dan usaha nya pun nggak menentu. Berhutang sama saya Rp. 100.000 untuk beli sembako.”

Si Fulan tersebut selalu sholat Jum’at di dekat rumah nya. Si Fulan pun sudah terlalu sering mendengarkan pengumuman laporan kas Masjid dari pengurusnya. “Pemasukan dari Jum’at lalu sebesar … dikurangi pengeluaran beli semen, beli lampu bla bla maka total kas Masjid saat ini sebesar seratus juta dst …”

“Lha kenapa si Fulan tadi tidak hutang di Masjid itu Mas?” tanya saya.

Takmir nya bilang, “Lha tidak ada peruntukan untuk itu (beri santunan).”

Masjid yang saya tempati barusan kas nya seratus juta lebih. Seminggu yang lalu Jumatan di Masjid sanur sana dengan total kas lima ratus juta lebih. Kata mas bro saya, ada masjid dekat kampus negeri ternama di Denpasar punya kas sembilan ratus juta.

Saya pun menambahi, “Dulu saya ikut rapat Dewan Masjid Indonesia dan menanyakan peran kas masjid terhadap kemakmuran umat. Ada salah satu masjid di Bali sampai punya aset tanah di jalan sunset road sana.”

Fyuh … Bali kondisi ekonominya terpukul parah. Hampir 80% perekonomian ditopang dari aktivitas pariwisata yang kini mati suri. Namun suara nyaring jumlah kas masjid terdengar begitu indah.

Namun semu bagi saya.

Maafkan saya ya Allah atas tulisan ini. Hanya berusaha berpendapat.

Jaman pandemi, meski bermobil, ada umatMu belum tentu punya banyak uang. Meski punya iPhone, belum tentu mereka ada cash. Meski rumahnya megah, belum tentu mereka pegang uang.

UmatMu begitu agung mengimani perintahMu sehingga dampaknya beragam. Ada yang kas masjid meningkat, ada yang jadi relawan sosial, ada yang beri makan gratis, kue gratis, dll.

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Jika umatMu sudah ikhlas sedekah diwaktu sempit ini, apakah adil sedekahnya terhenti hanya di rekening bank dan jadi bahan laporan saja?

Bagikan Yuk

Comments are closed.