Pecah Telor! Berdansa di Depan Mahasiswa IAIN Salatiga

Pecah telor akhirnya ada kunjungan industri secara offline, dari vakum tidak pernah menerima kunjungan industri offline semenjak pandemi corona covid-19 dari maret 2020 lalu.

IAIN Salatiga

Rombongan IAIN Salatiga berkunjung ke Bali. Alhamdulillah mereka kategori wisatawan lokal yang mengunjungi Bali. Diantara agendanya, mereka meminta datang ke kantor BOC Indonesia. Saya menolak karena bakal berdesak-desakan. Jalan tengahnya saya menerima mereka di aula sebuah pusat oleh-oleh Bali bernama Dewata Oleh-oleh di Sanur – Bali.

Hari Rabu pukul 10.00 WITA pada tanggal 4 November 2020 saya diundang untuk jadi pembicara dan presentasi didepan para mahasiswa IAIN Salatiga. Ada pula dosen dan dekan yang ikut nimbrung disitu.

Para mahasiswa itu bukanlah dari Fakultas IT melainkan dari Fakultas Dakwah! Wow …

Setelah saya tanya ke dosen nya, Fakultas Dakwah ini punya misi mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dalam bingkai komunikasi dan informatika, public relation, penyiaran, jurnalistik dan periklanan berkarakter Islami.

Hmmm baiklah. Saya harus memperbanyak konten personal branding dan pentingnya digital marketing dari pada bicara tentang BOC. Memang saya harus memperkenalkan bisnis saya, sejarahnya, produknya, cara jualan nya, coverage pelanggannya yang seluruh Indonesia, dll.

IAIN Salatiga

Saya jelaskan potensi internet di Indonesia. Penting nya personal branding di media sosial yaitu di FB, IG, Twitter, dan LinkedIn. Pada dasarnya media sosial itu tools untuk kepo, ya orang lain bisa melihat kebiasaan dan aktivitas personal kita.

Kebiasaan dan aktivitas itu menjadi penting bagi orang yang punya kepentingan dengan kita. Siapa saja? Mereka yang ingin menjadikan kita karyawan nya, mungkin juga partner bisnis nya, mungkin juga ingin menjalin komitmen kerjasama yang lebih serius.

Saya tunjukkan kepada para mahasiswa sebuah profil media sosial yang asal-asalan dan itu cukup merugikan bagi personal nya. Kemudian saya tunjukkan juga profil media sosial yang sangat bernilai dan siap tempur di masyarakat. Profil itu bisa jadi tools untuk meraih cita-cita mereka.

Ketika personal branding sudah mulai terbentuk, maka misi untuk dakwah akan lambat laun tercapai. Media sosial adalah tools gratis untuk dakwah. Apalagi diperkuat dengan adanya website/blog seperti ini. Ikatkan dakwah itu dalam tulisan. Sehingga terbentuk produk jurnalistik.

Ah keren interaksi dari para mahasiswa nya. Banyak yang ikut memberikan pendapat. Banyak pula pertanyaan dari mereka. Bahkan mereka beberapanya praktek jurnalistik penyiaran secara langsung, dengan meminta waktu saya untuk diwawancara. Wew hehehe.

Itulah presentasi saya didepan para civitas akademika IAIN Salatiga. Mereka ke Bali pun harus berbekal lolos test rapid. Ada sebuah dokumen yang menyatakan mereka aman terhadap covid-19. Dokumen rapid test dan KTP menjadi syarat wajib masuk Bali yang akan diperiksa oleh petugas di Gilimanuk sana.

Infografis resesi Bali

Sempat di medsos saya berucap terima kasih ke mereka dan mengajak mereka untuk belanja banyak di Bali. Habiskan duit di Bali. Bukan tanpa sebab sih, karena Bali sedang resesi parah se Indonesia. Perekononomiannya jatuh minus 12 persen paling parah se Indonesia. Saya pun berterima kasih mendapatkan oleh-oleh dari civitas akademika IAIN Salatiga yang bisa saya pulang untuk keluarga. Hiks jadi terharu.

Oke semoga membawa manfaat ya. Alhamdulillah bisa berdansa kembali dengan para mahasiswa 🙂

Bagikan Yuk

Comments are closed.