Demokratisasi Marketing Desa

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 83.931 wilayah administrasi setingkat desa di Indonesia pada 2018. Bayangkan kalau semua nya punya aset digital (website dan media sosial). Bisa jadi bakal tahu produk unggulan desa tersebut. Minimal produk yang berkaitan dengan kebutuhan pangan dan pariwisata nya. Berpotensi ciptakan omzet di jaman internet dimana viral menjadi sebuah keniscayaan.

Belik Hidup di Desa

Saya berusaha cari database website desa melalui Google Search dan belum menemukannya. Ingin rasanya buat namun setelah saya pikir ini bukan area dan wewenang saya. Walaupun sudah lama saya siapkan domain name untuk website informasi desa namun masih dalam tataran ide. Mau invest? hehehe.

Demokrasi di Internet

Sesuai judul tulisan ini, ada kata Demokratisasi. Saya info dulu arti kata demokrasi ya. Menurut Wikipedia, demokrasi sering digunakan untuk istilah pemerintahan dalam hal penerapan hak kesetaraan dalam pengambilan keputusan politik. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

Lantas ada kata-kata Demokratisasi Marketing, ini saya dapatkan dari insight presentasi CEO Lestari Group Pak Alex P Chandra di acara Entrepreneur Festival 2019 lalu, yang mempertajam kekuatan dari internet marketing terhadap keberadaan sebuah lokasi. Saya kerucutkan lokasi itu menjadi desa di tulisan ini.

Mengapa desa? Mungkin akumulasi alam bawah sadar bahwa orang tua saya asalnya dari desa (pegunungan Pacitan dan Madiun). Saya sering pulang ke pegunungan Pacitan tempat nenek moyang tinggal. Kemudian ditambah pernah jadi pembicara presentasi digital marketing untuk beberapa desa di Bali. Diantaranya Desa Kutuh, Desa Sibangkaja, Desa Sukawati, Desa Singapadu Tengah dan hmmm mana lagi ya? Eh iya, pernah mengawal pembuatan website untuk Desa Pejeng bersama Bali Lite Institute nya Bang Dicky Lopulalan. Nama website nya pejeng.org namun seiring adanya UU Desa, desa itu buat pejeng.desa.id.

Maka desa-desa itu punya kebebasan untuk suarakan potensi nya. Publikasikan SDA dan SDM nya ke seluruh dunia agar jadi potensi mrinding! Lewat apa? Ya internet lah!

Hendra Singapadu Tengah

Kenapa beberapa desa begitu ‘keranjingan terangsang’ untuk Go Online? Hal ini tak lepas dari langkah visioner sang pemimpin, yaitu kepala desa nya. Ini yang saya rasakan ketika membuatkan website Pejeng. Pak Tjok Gde Agung Pemayun bergairah ketika mengetahui potensi di dunia internet. Kemudian juga adanya dana desa yang digelontorkan oleh negara sehingga kas desa sangat memungkinkan untuk belanja marketing. Inipun saya rasakan ketika banyak para web designer membeli web hosting ke BOC untuk pembuatan website desa.

Internet marketing menjadi proses demokratisasi bagi desa agar terdengar dan terlihat secara luas tanpa batasan. Hal ini membuktikan bahwa untuk menjadi terkenal bukanlah hak para artis saja. Pun bukan hak dari para kabupaten kota yang punya website dan media sosial. Juga bukan hak milik perusahaan atau korporasi saja. Desa pun ingin terkenal dan jadi makmur dengan hadir nya internet.

Desa Viral Karena Internet

Saya coba studi di internet tentang desa ataupun lokasi dalam desa yang viral di dunia internet. Baik itu melalui media sosial ataupun website.

Umbul Ponggok. Adalah lokasi wisata dalam Desa Ponggok, Kabupaten Klaten – Jawa Tengah. Umbul Ponggok merupakan mata air yang dimanfaatkan menjadi objek wisata, pemandian dan snorkeling. Aset digital mereka adalah website, instagram, youtube, dan facebook fanspage. Kemudian beritanya nggak kehitung diliput oleh portal berita online dan televisi.

Umbul Ponggok

Salah satu aktivitas yang disukai wisatawan adalah bisa berfoto dibawah air dengan beragam media, dikelilingi oleh ikan-ikan tawar berwarna warni. Ada yang berfoto dengan motor, kursi, televisi, sepeda, laptop, jemuran, dll hahaha. Cari aja sendiri deh di Google.

Satu kekuatan besar Umbul Ponggok menjadi terkenal adalah inisiatif wisatawan nya yang rela dan ikhlas men-viral-kan aktivitas mereka disana! Ini marketing gratis dimana marketer nya adalah pasar itu sendiri. Omzet 14,7 milyar diperoleh Desa Ponggok pada 2018 lalu. Mrinding kan?!

Citorek. Sebuah desa di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Saya tahunya malah dari Pak Alex. Citorek terkenal dengan tagline nya negeri di atas awan. Kekuatan Citorek adalah pesona hamparan samudera awan dari atas bukit, di Gunung Lahur.

Citorek

Menurut informasi yang saya kumpulkan lewat portal-portal berita, Negeri di Atas Awan Citorek itu ditemukan secara tidak sengaja oleh para pekerja yang membuka jalur bagi pembangunan jalan provinsi. Foto dan video para pekerja itulah mampu viralkan Citorek dan mengundang penasaran para netizen. Dalam hitungan bulan, wisatawan berbondong-bondong kesana. Desa Citorek sekarang berjibaku monetizing lokasi wisata nya dan bakal memakmurkan warga nya.

2 contoh di luar Bali itu cukup ya. Sekarang gimana dengan desa-desa di Bali?

Bali sebagai destinasi wisata sudah tak perlu diragukan lagi. Namun hanya beberapa spot saja yang jadi unggulan. Sudah mainstream seperti Ubud, Desa Kutuh dengan Pantai Pandawa nya. Apalagi Kuta, Tanah Lot, Kintamani, dll. Bagaimana dengan desa yang bukan jadi spot wisata mainstream?

Saya pilih bicara Desa Pejeng deh. Ada apa dengan Pejeng? Desa ini kaya akan prasasti-prasasti kuno! Bahkan keberadaan Kerajaan Bali Kuno tuh petunjuknya ada di Desa Pejeng!

Saya lansir dari website Desa Pejeng: Pejeng sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bali Kuno yang menurunkan raja-raja besar dari Dinasti Warmadewa, berakhir setelah penyerbuan Patih Gajah Mada dari Majapahit ke Bali pada 1343.

Nama Pejeng mulai dikenal dunia sejak 1705 melalui laporan naturalis Belanda GE Rumphias berjudul Amboinsche Reteitkamer. Rumphius menyebut keberadaan genderang (nekara) berbahan perunggu yang kemudian hari disebut Bulan Pejeng.

Nekara Pejeng

Penemuan Bulan Pejeng ini seperti “pembuka pintu” masuk ke zaman Bali Kuno, bahkan zaman Pra-Sejarah. Inventarisasi kepurbakalaan menemukan kenyataan yang mengejutkan: Desa Pejeng memiliki peninggalan arkeologis yang amat beragam dan tersebar hampir di seluruh pelosok desa. Peninggalan-peninggalan purba dan tulisan-tulisan yang ada membuat para ahli memperkirakan Pejeng adalah pusat Kerajaan Bali Kuno (883-1343 M). Mrinding!

Sebagai upaya men-viralkan Desa Pejeng di dunia internet, para pemangku desa tersebut sepengetahuan saya punya aset digital berupa website, facebook fanspage @pejengku

Gara-gara giat berpromosi online, nama Desa Pejeng terangkat. Sebuah studio film tertarik untuk dokumenter kan desa tersebut. Untung nya pemberitaan via koran pernah saya simpan dan posting via FB BOC.

Pejeng di Koran

Sebagai upaya mendukung langkah visioner sang kepala desa, saya pernah datang kesana bersama Bang Dicky dari LSM Bali Lite menghadap Pak Tjok pada 2014 lalu. Pemikiran nya membuat Pejeng berdikari pun ditunjukkan dengan membawa kami ke pembangkit tenaga listrik berkonsep microhydro. Ya, beberapa rumah warga di Pejeng gunakan listrik sendiri. Bahkan air pun beberapa disuplai oleh Pejeng sendiri. Kemudian Pak Tjok berencana memberikan akses internet gratis bagi generasi muda sana. Mrinding kan! Saya dan team BOC waktu itu eksekusi buatkan website dan bantu pasangkan broadband internet.

Hendra di Desa Pejeng

Manajemen Konsolidasi Desa

Suwug. Sebuah desa di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng – Bali punya komunikasi online atas inisiatif dari sahabat saya Bli Subianta Eka Kresnawan. Bli Eka panggilan akrabnya berinisiatif membuat Facebook Group bernama Semeton Desa Suwug. Terbentuk pada 14 Oktober 2016 berhasil menghimpun 3.000 an lebih warga Desa Suwug.

Bli Eka bilang, “Semua informasi yang berkaitan dengan masyarakat desa dinas dan desa adat sebisa mungkin interaksinya di FB Group itu. Informasinya biar cepat dan menjangkau seluruh dunia.

Ada warga Desa Suwug yang merantau di Belanda dan luar negeri sana, kemudian merantau di Denpasar, Jawa, dll bisa mengetahui informasi dan kebutuhan desa nya. Sebagai contoh ada gerakan sosial pengumpulan dana perbaikan jalan. Penggalangan dana nya melalui FB Group itu. “Kebutuhan dana cuma 4 juta, berkat adanya tempat konsolidasi yang cepat dan praktis, dana yang terkumpul bisa tembus 11 juta hahaha,” cerita Bli Eka bahagia.

Ditengah kesibukan dan keriuhan hidup, ada teknologi informasi yang mempertemukan warga dimana saja untuk konsolidasi membangun dan menviralkan desa. Asik kan? Desa Suwug ini inspirasi. Terapkan demokratisasi informasi. Bagaimana desa Anda?

Kesimpulan Demokratisasi Marketing Desa

So kesimpulan tulisan ini apa? Saya ajak berfikir buruk saja ya hehehe. Bagaimana jika aset-aset digital internet itu mati? Aset adalah sumber daya yang diharapkan memiliki manfaat. Aset adalah semua sumber ekonomi atau kekayaan yang dimiliki oleh suatu entitas yang diharapkan dapat memberikan manfaat usaha di masa depan.

Ya! Aset jaman now adalah aset digital. Saya salah satunya menggantungkan bisnis dari aset digital. Begitu juga Traveloka, Tokopedia dan marketplace lainnya, KlikBCA dan perbankan lainnya. Desa yang viral tadi gimana? Saya yakin sama. Aset digital itu penting!

Mulai sekarang, semoga belum telat ya, mumpung ada dana desa, alokasikan dana tersebut untuk biaya marketing. Buat team marketing online. Bentuk Kelompok Sadar Wisata (PokDarWis). Bahu-membahu menviralkan potensi desa. Ingatlah wisatawan yang puas dan terkesan akan rela ikhlas menviralkan pula. Bakal menjadi marketing gratis bagi desa tersebut.

Untuk menjadi terkenal segampang sekarang adalah hal yang patut disyukuri. Cukup murah. Hanya siapkan inovasi dan kreativitas saja. Namun sebelumnya siapkan senjata nya ya yaitu aset digital. Meliputi:

– Website
– Facebook Fanspage
– Instagram
– Twitter
– Youtube
– Pinterest
– Google Bisnisku

Bytheway saya pernah menulis tentang aset digital secara detail di Majalah Money&I ternyata. Terima kasih Money&I 🙂

Salam #GoOnlineOrGoAway

Bagikan Yuk


Leave A Response