- 18
- Oktober
Bersyukur Alhamdulillah jadi bagian dari organisasi kemahasiswaan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) medio tahun 1997 – 2001. Masa Republik Indonesia punya peristiwa besar perubahan dari era Orde Baru ke era Reformasi. Saya ikut turun ke jalan bersama jutaan mahasiswa seluruh Indonesia, tuntut Presiden RI ke 2 Bapak Soeharto untuk mundur. Membersamai jaman Presiden RI ke 3 BJ Habibie, dan Presiden ke 4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Era Reformasi buat mahasiswa bergeliat. Termasuk kebebasan berfikir, berpendapat dan bertindak akibat kebijakan Presiden BJ Habibie dan Gus Dur. Lahir aksi toleransi SARA, beri nafas bantuan untuk Poso dan Timor Leste, hingga angkat kembali diskursus Marxisme. Saya berfikir setelah era reformasi berakhir, maka aksi aktivisme rasa mahasiswa berakhir pula. Ternyata tidak! Saya lanjut terdaulat aktif di PMII sebagai Mabincab PC PMII Denpasar. Trus dijerumuskan lagi ke Ikatan Alumni (IKA) PMII Bali. Ya wes lah. Terlibat lagi dengan sahabat junior PMII khususnya Denpasar.
Teguh, sahabat junior PMII Denpasar membawakan harta karun kepada saya. Copian buletin PMII Cabang Denpasar terbitan tahun 2000. Wuah, ada tulisan dan puisi saya dan para sahabat disana! Waktu itu era nya Presiden Gus Dur gaungkan wacana cabut TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ajaran komunisme.
Alasan Gus Dur Mengusulkan Wacana Pencabutan TAP MPRS 25/1966 (Tahun 2000)
1. Rekonsiliasi Nasional: Gus Dur menilai keluarga atau keturunan eks-PKI seharusnya tidak terus-menerus mendapat diskriminasi politik dan sosial atas perbuatan yang tidak mereka lakukan.
2. Semangat UUD 1945 & Pancasila: Ia berpendapat negara wajib melindungi seluruh warga negara tanpa kecuali dan menjamin hak asasi manusia yang setara.
Kami di PMII Denpasar ekspresikan diri melalui tulisan bedah ajaran Marxisme. Berikut rangkuman komentar Dul Kribo tentang isi buletin PC PMII Denpasar yang bernama Alternative: Media Pemikiran dan Kebudayaan.
Read the rest of this entry »










